Berita » Partisipasi Peneliti Balitkabi pada “The Annual Asia Sweetpotato Breeder’s and Seed System Meeting 2018” di Trivandrum, India

india1

Peserta Annual Asia Sweet Potato Breeder’s and Seed System Meeting 2018 di Trivandrum, Kerala, India.

Asia sweetpotato breeder’s and seed system meeting merupakan agenda tahunan yang dilaksanakan oleh CIP untuk membahas program pemuliaan ubijalar di negara-negara yang menjadi patner kerjanya. Pertemuan dilaksanakan pada tanggal 28‒31 Mei 2018 di Central Tuber Crops Research Institute (CTCRI) of Indian Council of Agricultural Research (ICAR) di Thiruvananthapuram, Kerala, India dengan tema “Implication of sweet potato processing and marketing for breeding”. CTCRI yang didirikan pada tahun 1963 memiliki mandat penelitian tanaman aneka umbi dalam bidang pemuliaan dan plasma nutfah, budi daya dan proteksi, sosial ekonomi serta pemanfaatannya. Pertemuan ini diikuti oleh perwakilan dari duabelas negara antara lain: India, Indonesia, Nepal, Vietnam, Filipina, Tajikistan, Bangladesh, China, Papua Nugini, Peru, Uganda, dan Monzambique.

india2

Assistant Director General of ICAR for Horticulture, Dr T.Janakiram ICAR (kiri), Director of CTCRI Dr. Archana Mukherjee (tengah) dan Program Manager CIP. Dr. Simon Heck (kanan) pada acara penutupan.

Pada acara pembukaan, Director CTCRI Dr. Archana Mukherjee menyampaikan pentingnya penguatan kerjasama penelitian internasional. Sedangkan Program Manajer CIP Dr. Simon Heck menyatakan bahwa pertemuan ini bertujuan untuk sharing informasi mengenai update program pemuliaan ubijalar di masing-masing negara peserta, metode pemuliaan secara global, dan relevansinya di negara-negara Asia, akses untuk materi pemuliaan dari CIP/negara peserta, kolaborasi penelitian dan dana pendukungnya serta menyusun agenda untuk pertemuan berikutnya.

Penyampaian program pemuliaan ubijalar oleh Wolfgang Grüneberg (The Global Sweetpotato Breeding Platform at CIP: activities and advances 2016 – 2018) merupakan topik penting, terutama metode percepatan untuk pelepasan varietas, yakni Accelerated Breeding Scheme (ABS) sehingga dapat menghemat waktu 2‒3 tahun. Masing-masing negara juga menyampaikan program pemuliaan ubijalar yang dapat dibedakan berdasarkan tujuannya, yakni untuk pangan sumber karbohidrat dan pro vitamin A, terutama untuk negara-negara yang masih mengalami rawan pangan dan kekurangan gizi, seperti di Afrika, Papua Nugini Bangladesh, Nepal, Tajikistan, Vietnam dan India sehingga concern pada ubijalar yang memiliki warna daging umbi orange. Sementara di beberapa negara, ubijalar tidak hanya sebagai bahan pangan tapi juga ditujukan untuk bahan baku industri pangan dan komoditas ekspor, seperti China dan Indonesia, sehingga ubijalar dengan daging warna putih (untuk tepung dan pati), orange dan ungu dianggap penting. Tahun 2016 ketika Indonesia (Balitkabi) menjadi tuan rumah acara yang sama, disampaikan topik mengenai pengolahan ubijalar dan disajikan beragam produk olahannya. Hal tersebut tampaknya mengispirasi CIP untuk selanjutnya tidak hanya fokus pada program pemuliaan ubijalar saja tetapi juga permintaan pasar dan pemanfaatannya (prosesing). Pada pertemuan ini, semua negara peserta juga diminta untuk menampilkan produk olahan ubijalarnya. China yang sudah menggunakan ubijalar sebagai bahan baku industri pangan, menampilkan paling banyak ragam olahan dalam kemasan yang menarik. Balitkabi juga menyajikan produk kue kering dari tepung ubijalar, stik dan selai dari pasta ubijalar serta keripik ubijalar.

Dua orang peneliti Balitkabi berpartisipasi pada pertemuan tersebut yaitu Dr. Febria Cahya Indriani yang menyampaikan materi tentang “Sweet potato breeding in Indonesia dan Ir. Erliana Ginting M.Sc. dengan materi “Sweet potato processing and potential market in Indonesia: Its implication for breeding” yang menjabarkan kriteria sifat fisik, kimia dan sensoris ubijalar yang dikehendaki untuk tujuan pengolahan dan ekspor. Tiga narasumber untuk pengolahan (India, China, Indonesia) menekankan pentingnya bentuk dan ukuran umbi yang bulat lonjong (long ellipse) untuk memudahkan proses pemanenan dan pengolahannya. Selain presentasi, juga dilakukan kunjungan lapang ke kebun percobaan CTCRI, meliputi nursery pembibitan ubijalar yang materi genetiknya diperoleh dari CIP, pertanaman ub ikayu hasil triploid (berdaun lebar), koleksi plasma nutfah ubijalar dan aneka umbi lainnya (uwi, garut, suweg), laboratorium bio-pestisida, unit prosesing makanan dari aneka umbi, museum/ruang display hasil penelitian dan cultural night berupa tarian dan nyanyian untuk menyambut dan menghibur peserta meeting.

Presentasi Dr. Febria C. Indriani dari Indonesia

Pada pertemuan hari terakhir, Assistant Director General of ICAR for Horticulture Crops dari New Delhi berkenan hadir dan memberi apresiasi untuk kontribusi semua peserta dan berharap produksi ubijalar di India dan Asia umumnya dapat ditingkatkan melalui kerjasama dengan CIP. Beliau memberi penekanan tentang pentingnya peran ubijalar sebagai bahan biofortifikasi untuk mengurangi masalah kekurangan gizi dan biocolour (pewarna alami) untuk menghasilkan produk pangan yang bergizi, sehat, dan aman dikonsumsi serta tidak melupakan fungsi ubijalar sebagai bahan pakan ternak yang juga baik prospeknya ke depan. Pada sesi penutup, masing-masing perwakilan negara menyampaikan usulan sebagai bahan pertimbangan dalam penyusunan program CIP ke depan. Indonesia mengusulkan beberapa hal, antara lain: program training untuk ABS dan advanced food processing dan penyediaan materi genetik ubijalar yang sesuai untuk program pemuliaan toleran lahan masam, pasang surut dan salin dan materi yang berasal dari Jepang dan Korea Selatan untuk keperluan ekspor. Simon selaku CIP Program Manager menampung semua usulan tersebut, terutama untuk pertukaran materi genetik, finansial, training, dan publikasi (newsletter dan website). Khusus untuk pertukaran materi genetik/plasma nutfah perlu jastifikasi yang kuat dari para pemulia dan tentunya mengikuti regulasi dari masing-masing negara. Sebagai tuan rumah annual meeting tahun 2019 adalah China dan Prof. Ma Daifu siap sebagai organizer. So, see you in China next year.

india3

Presentasi Dr. Febria C. Indriani dari Balitkabi, Indonesia

india4

Presentasi Ir. Erliana Ginting, M.Sc dari Balitkabi, Indonesia

india5

Materi genetik CIP di rumah kaca

india6

Museum/ruang display CTCRI

 

FCI/EG