Berita » Pedoman Umum PTT Kacang Tanah

Partisipasi aktif penyuluh, petani merupakan kunci utama keberhasilan penerapan PTT (foto: kegiatan PTT kacang tanah di lahan kering masam Lampung tahun 2009)

KOMPONEN TEKNOLOGI PILIHAN

1. Pemupukan sesuai kebutuhan tanaman

  • Takaran pupuk berbeda untuk setiap jenis tanah, berikan berdasarkan hasil analisis tanah dan sesuai kebutuhan tanaman. Kenali gejala kekurangan unsur hara pada tanaman.
  • Pupuk diberikan secara ditugal 5 cm dari lubang tanam, atau dilarik di sebelah barisan tanaman, atau disebar merata sesudah tanam pada saat tanah masih lembab.
  • Kacang tanah yang ditanam setelah padi sawah umumnya tidak memerlukan banyak pupuk.
  • Penggunaan pupuk hayati seperti bakteri penambat N (Rhizobium) disesuaikan dengan kebutuhan, perhatikan waktu kadaluwarsanya.
  • PUTK (Perangkat Uji Tanah Kering) dapat digunakan sebagai salah satu acuan dalam menetapkan takaran pupuk dan amelioran.

 

Gejala kurang K

Gejala kurang K

Gejala kurang N

Gejala kurang N

Gejala kurang Ca

Gejala kurang Ca

Gejala kurang P

Gejala kurang P

 

Pemupukan yang tepat akan menjamin pertumbuhan tanaman.

Pemupukan yang tepat akan menjamin pertumbuhan tanaman.


2. Pemberian Pupuk Organik

  • Bahan organik berupa sisa tanaman, kotoran hewan, pupuk hijau dan kompos merupakan sumber utama pupuk organik.
  • Bahan organik bermanfaat untuk memperbaiki kondisi fisik, kimia dan biologi tanah.
  • Standar pupuk organik harus sesuai dengan Permentan Nomor 02/2006 (kecuali diproduksi untuk keperluan sendiri).
  • Pemberian pupuk organik dan pupuk kimia dalam bentuk dan jumlah yang tepat berperan penting untuk keberlanjutan sistem produksi.

Kotoran hewan dan sisa pakan ternak merupakan sumber  pupuk organik yang baik.

Kotoran hewan dan sisa pakan ternak merupakan sumber pupuk organik yang baik.


3. Ameliorasi lahan

Lahan Masam

  • Lahan masam mempunyai pH <7, kandungan Aluminium (Al) umumnya tinggi.
  • Penggunaan amelioran ditetapkan berdasarkan tingkat kejenuhan almunium tanah dan kandungan bahan organik tanah.
  • Kejenuhan Al memiliki hubungan yang kuat dengan tingkat kemasaman (pH) tanah.
  • Lahan kering masam perlu diberi kapur pertanian (dolomit atau kalsit) dengan takaran sebagai berikut :
    • pH tanah 4,5 – 5,3 ® 2,0 t kapur/ha
    • pH tanah 5,3 – 5,5 ® 1,0 t kapur/ha
    • pH tanah 5,5 – 6,0 ® 0,5 t kapur/ha

Lahan alkalin

  • Mempunyai pH >7, mengandung kapur (CaCO3) tinggi.
    • Pada tanah dengan pH >7,3, kacang tanah sering mengalami gejala klorosis.
    • Klorosis disebabkan oleh kekurangan besi (Fe) atau sulfur (S).
    • Gejala klorosis dapat diatasi dengan pemberian pupuk kandang, pemberian pupuk yang mengandung Fe, atau ameliorasi lahan dengan pemberian sulfur.

Pemberian dolomit selain meningkatkan pH tanah, juga  sebagai sumber unsur hara Ca dan Mg bagi kacang tanah.

Pemberian dolomit selain meningkatkan pH tanah, juga sebagai sumber unsur hara Ca dan Mg bagi kacang tanah.


Gejala kurang Fe

Gejala kurang Fe

Gejala kurang S

Gejala kurang S

4. Pengairan pada periode kritis

  • Periode kritis terhadap air:
    • Fase perkecambahan
    • Fase berbunga (25–30 hari)
    • Periode masuknya ginofor ke tanah (35–40 hari)
    • Periode pengisian polong (50–65 hari)
    • Menjelang panen
  • Pengairan perlu diberikan jika tanaman menunjukkan gejala kekurangan air yang ditandai dengan daun yang mulai layu.

Pengairan Periode kritis

Kekurangan air yang terjadi mulai fase berbunga hingga pembentukan polong menurunkan hasil kacang tanah hingga 40%.

Kekurangan air yang terjadi mulai fase berbunga hingga pembentukan polong menurunkan hasil kacang tanah hingga 40%.


5. Panen dan Pasca panen

Panen

  • Panen yang tepat sangat menentukan mutu biji dan benih kacang tanah, LAKUKAN SECARA BENAR
  • Panen dilakukan bila 75% polong telah masak: kulit polong keras dan berserat, bagian dalam kulit polong berwarna coklat kehitaman dan bila ditekan mudah pecah.
  • Daun yang telah mengering dan rontok bukan penanda tanaman siap dipanen.
  • Perontokan polong dapat dilakukan secara manual atau dengan threser.

Kondisi polong yang sudah siap dipanen.

Kondisi polong yang sudah siap dipanen.

Perontokan polong cara manual dengan batang pisang  (foto by Hari P).

Perontokan polong cara manual dengan batang pisang (foto by Hari P).

Perontokan polong cara manual.

Perontokan polong cara manual.

Pasca panen

  • Setelah dirontok segera dijemur. Jangan ditunda hingga lebih dari 24 jam, karena polong dan biji bisa terinfeksi jamur.
  • Jika cuaca tidak memungkinkan lebih baik dijemur dalam kondisi polong belum dirontok.
  • Untuk keperluan konsumsi, pengeringan dapat dilakukan terus-menerus hingga polong sangat ringan dan berbunyi bila digoyang-goyangkan.
  • Untuk keperluan benih, penurunan kadar air benih jangan dilakukan secara cepat, hindari penjemuran pada suhu tinggi.
  • Bersihkan polong dari kotoran.
  • Kadar air polong sebelum simpan maksimal 10%.
  • Simpan polong di dalam wadah kedap udara dan tutup rapat.
  • Simpan benih pada tempat yang sejuk, tidak lembab dan bersih serta di atas pelet (alas kayu) sehingga tidak langsung bersentuhan dengan lantai.
Penanganan pasca panen yang baik akan menjamin  kualitas hasil yang baik.

Penanganan pasca panen yang baik akan menjamin kualitas hasil yang baik.