Berita » Pekan Pertanian Rawa Nasional II

prn2Rendahnya peranan lahan rawa terhadap ketahanan pangan nasional merupakan paradigma lama yang harus dibuang jauh. Nyatanya, potensi dan peluang peningkatan produksi pangan nasional melalui pemanfaatan dan optimalisasi pengelolaan lahan rawa sangatlah besar. Diperkirakan 24,8 juta hektar dari 34,7 juta hektar lahan rawa di Indonesia sesuai untuk budi daya pertanian. Sudah cukup banyak lahan rawa yang kini berkembang dan telah menjadi sentra produksi pangan di Pulau Kalimantan, Sumatera, dan Sulawesi. Meski keberhasilan antar daerah memerlukan pendekatan holistik dan spesifik lokasi.

Pekan Pertanian Rawa Nasional II diadakan di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pada 17‒20 Oktober 2018. “Selamat datang di bumi Kalsel, kampung halaman kedua Bapak Menteri Pertanian,” kata Sekda Kalsel mewakili Gubernur Kalsel dalam menyambut Menteri Pertanian Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, M.P. Kalsel merupakan salah satu wilayah yang memiliki lahan rawa nasional, yang berpotensi sebagai sentra lumbung pangan. Selain ditanami tanaman pangan, lahan rawa juga dapat ditanami tanaman hortikultura. Adat budaya lokal hanya panen padi sekali setahun dengan produksi 2‒3 t/ha. Produksi beras sebagian dijual ke Kalbar dan Kaltim. “Semoga dengan pertanian berkelanjutan dan terintegrasi dapat mewujudkan pembangunan pertanian menuju Lumbung Pangan Dunia 2045,” harap Sekda lebih lanjut.

Pada kesempatan tersebut, Amran memberikan arahan bahwa kurang lebih ada 300 ribu pemuda tani di Indonesia berkecimpung di bidang pertanian pada era Jokowi-JK. Lahan pertanian di Kalsel ada 500 ribu ha yang ditanami sekali setahun, ke depan harus tiga kali tanam setahun. “Harusnya tidak ada lahan kering di Kalsel, karena ada air dan sungai di sekeliling kita. Dan produksi harus bisa meningkat. Belum lagi, bisa ditambah pelihara bebek, sehingga membutuhkan water management yang baik,” ucap Amran dengan bersemangat. Kami berdiri di depan karena kerja 20 jam per hari, artinya bekerja keras dan berdoa hasilnya akan meningkat. Rawa menghasilkan padi, hortikultura, bebek, dan lainnya. “Bekerja dulu baru bicara, jangan dibalik berbicara baru bekerja,” pesan Beliau. Pemuda tani harus bisa merubah untuk bisa menanami lahan rawa tiga kali setahun. Mentan juga memberikan bantuan handtraktor kepada pemuda tani.

Tujuan Pekan Raya ini diantaranya adalah: (1) Mengkomunikasikan dan menyebarluaskan IPTEK hasil penelitian sumberdaya lahan rawa mendukung upaya mewujudkan pertanian modern berkelanjutan dan adaftif perubahan iklim, (2) Memamerkan dan memperagakan keragaan sumberdaya genetik (konservasi plasma nutfah), (3) Menggalang komunikasi dan kesepakatan antar stakeholder pengguna dan pengambil kebijakan terkait pemanfaatan sumberdaya lahan rawa, (4) Menumbuhkembangkan apresiasi dan minat generasi muda terhadap proses produksi pangan berkelanjutan dan penelitian lahan rawa, serta (5) Menghimpun dan merumuskan masukan untuk menentukan arah dan strategi pemanfaatan dan pengelolaan lahan rawa.

Pada kegiatan bimbingan teknis, pengunjung akan diberi pengatahuan bagaimana cara pengelolaan air di lahan rawa, perbaikan kualitas air, penataan lahan rawa, pembuatan pupuk organik limbah ternak, pembuatan pestisida nabati rawa, aplikasi kalender tanam, pengelolaan cabai dan bawang merah serta perawatan dan perbaikan Alsintan. Selain bimtek, juga diadakan International Workshop bertemakan “Innovation in Mapping and Management for Sustainable Agriculture” dengan menghadirkan pembicara kunci Prof. (Riset) Dr. Ir. M. Syakir (Ka Badan Litbangtan) yang berjudul “Kebijakan Pembangunan Pertanian di Lahan Rawa Mendukung Lumbung Pangan Dunia 2045”.

Penampilan kedelai Dega 1 di acara PRN II.

Penampilan kedelai Dega 1 di acara PRN II.

YB