Berita » Pelestarian dan Karakterisasi Plasma Nutfah Ubijalar

Pelestarian koleksi plasma nutfah ubijalar


Hingga kini jumlah aksesi plasma nutfah ubijalar yang dilestarikan di Balitkabi seluruhnya berjumlah 412 aksesi. Asal dan jenis aksesinya seperti dicantumkan dalam Tabel 1.

Tabel 1. Asal, jumlah dan jenis aksesi plasma nutfah ubijalar yang dikoleksi di Balitkabi , KP Kendalpayak, MT I 2009.



Asal Jumlah aksesi Jenis aksesi
Balitkabi 78 Varietas unggul nasional, introduksi, klon harapan hasil persilangan dan mutan
BB Biogen 24 Varietas unggul nasional, varietas lokal, klon harapan hasil persilangan
IITA 9 Introduksi
Varietas lokal dari provinsi :
Jawa Barat 4 Varietas lokal
Jawa Tengah 6 Varietas lokal
DI Yogyakarta 3 Varietas lokal
Jawa Timur 43 Varietas lokal
Bali 76 Varietas lokal
Nusa Tenggara Barat 50 Varietas lokal
Nusa Tenggara Timur 33 Varietas lokal
Sulawesi Selatan 20 Varietas lokal
Sulawesi Tenggara 48 Varietas lokal
Sulawesi Utara 18 Varietas lokal
Total 412


Pelestarian Plasma Nutfah Ubijalar

Pelestarian plasma nutfah merupakan kegiatan penanaman, pemeliharaan, penyimpanan materi plasma nutfah yang bertujuan untuk melestarikan ketersediaannya secara hidup tanpa terjadi perubahan komposisi genetik. Untuk memenuhi persyaratan tersebut, dalam pelestarian plasma nutfah harus dipahami sifat-sifat biologis suatu tanaman, apakah dapat dibiakkan secara vegetatif, secara generatif menyerbuk sendiri, secara generatif menyerbuk silang atau apomiktik.

Ubijalar adalah tanaman tahunan, tetapi umumnya dibudidayakan sebagai tanaman semusim. Untuk tujuan budidaya, perbanyakan tanaman menggunakan stek pucuk atau stek batang yang diambil dari pertanaman sebelumnya atau dari umbi yang dikecambahkan. Perbanyakan dengan menggunakan biji akan menghasilkan tanaman dengan komposisi genetik yang berbeda dengan tanaman induknya.

Di Balitkabi (Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian)
pelestarian plasma nutfah ubijalar dilakukan dengan cara memelihara sejumlah tanaman hidup dari setiap aksesi yang diperbanyak dari bagian vegetatif tanaman (stek pucuk atau umbi). Tanaman koleksi dipelihara pada hamparan lahan yang berbentuk guludan-guludan (Gambar 1). Duplikat koleksi dilestarikan dalam pot-pot berdiameter 50 cm dan tinggi 60 cm (Gambar 2).

Tahapan pelaksanaan kegiatan pelestarian koleksi plasma nutfah adalah sebagai berikut:

1. Persiapan media tanam. Jika pelestarian dilakukan di lahan, tanah diolah dan dibentuk guludan-guludan berukuran panjang 5 m, dengan jarak antara pusat guludan satu dengan lainnya minimal 1 m, sedangkan pada pot media yang diisikan ke dalamnya berupa campuran tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 2:1.

2. Persiapan bibit. Bibit diperoleh dari pertanaman sebelumnya, berupa stek pucuk. Karena sifat tanaman yang menjalar, ketelitian dalam pengambilan stek (khususnya yang berasal dari pelestarian di lahan) sangat diperlukan agar kemurnian genetik setiap aksesi terjamin. Jumlah bibit yang disiapkan untuk setiap aksesinya, jika di dalam pot membutuhkan sedikitnya 5 stek dan di lahan 20 stek. Setelah itu bibit dari setiap aksesi diikat dan diberi label sesuai dengan nomor aksesinya.

3. Tanam. Sebelum tanam, media harus sudah diairi. Untuk mengendalikan serangan hama atau penyakit, sebelum tanam bibit direndam dalam larutan pestisida atau fungisida selama lima menit. Setiap aksesi ditanam pada satu pot (5 tanaman/pot) atau satu guludan dengan jarak tanam 25 cm, setiap lubang tanam satu stek. Penanaman dilakukan dengan cara membenamkan 2-3 ruas stek ke dalam tanah. Jika ada stek tersisa dibenamkan ke dalam tanah untuk bahan sulaman. Jika diperlukan, setelah stek ditanam dilakukan penyiraman.

4. Penyulaman. Dilakukan pada umur sekitar 7 hari, dilakukan terhadap stek yang mati atau menunjukkan pertumbuhan yang kurang bagus.

5. Pemupukan.  Pupuk yang diberikan setara dengan dosis 100 kg Urea, 100 kg SP36, dan 100 kg KC1 per ha. Pemupukan pertama dilakukan pada umur sekitar 2 minggu. Macam dan takaran pupuk yang diberikan adalah seluruh SP 36, separuh Urea dan separuh KCl.  Sisanya (separuh Urea dan separuh KCl) diberikan pada umur 1,5 bulan.

6. Pemeliharaan. Kegiatan pemeliharaan lainnya dilakukan secara insidentil, meliputi pengendalian gulma, hama, penyakit, pengairan dan pemangkasan terhadap tajuk tanaman yang tumbuh berlebihan.

7. Panen dan rejuvinasi tanaman. Panen dilakukan pada periode tertentu tergantung pada umur dan kondisi pertanaman, pada umumnya setiap 4-5 bulan. Rejuvinasi dilakukan dengan tahapan kegiatan yang sama. Rejuvinasi harus sudah dilakukan sebelum tanaman memasuki periode panen atau senescen (mati).

Beberapa insiden yang merupakan kendala bagi usaha pelestarian plasma nutfah ubijalar sehingga menyebabkan kematian tanaman koleksi antara lain adalah: cekaman kekeringan, cekaman kelebihan air (tergenang), cekaman hama dan penyakit dan beberapa kendala non teknis lainnya (seperti perusakan oleh hewan ternak maupun hewan liar lain dan pencurian).


Pelestarian koleksi plasma nutfah ubijalar



Gambar 1. Pelestarian tanaman koleksi plasma nutfah ubijalar di lahan KP Kendalpayak


Pelestarian koleksi plasma nutfah ubijalar dalam pot


Gambar 2. Pelestarian koleksi plasma nutfah ubijalar dalam pot. KP Kendalpayak, 2009


Karakterisasi Plasma Nutfah Ubijalar

Tindak lanjut dari kegiatan pelestarian plasma nutfah ini adalah: 1). Melakukan karakterisasi sifat morfologis dan agronomis dari setiap aksesi. 2). Melakukan evaluasi atau identifikasi ketahanan/toleransi setiap aksesi terhadap cekaman biotik (hama/penyakit), cekaman abiotik dan kualitas hasil umbi, 3) Melakukan dokumentasi terhadap hasil kegiatan karakterisasi dan evaluasi dalam bentuk buku katalog yang dicetak atau dalam bentuk katalog elektronik, dan 4) Pemanfaatan tanaman koleksi.

Koleksi plasma nutfah memiliki keragaman sifat morfologis batang, daun dan umbi (Gambar 3). Kegiatan karakterisasi sifat morfologis dan agronomis tanaman dilakukan dengan maksud untuk melengkapi data dalam buku Katalog Plasma Nutfah Ubijalar yang sudah disusun sejak tahun 1986. Kegiatan dilakukan dengan melaksanakan percobaan lapang tanpa ulangan. Setiap aksesi yang akan dikarakterisasi ditanam pada satu gulud tunggal berukuran panjang 10 m, jarak tanam 50 cm (20 tanaman/aksesi). Cara budidaya tanaman sama dengan kegiatan pelestarian tanaman koleksi, namun tidak dilakukan pemangkasan sulur (batang). Adapun karakter yang diamati beserta cara pengamatannya adalah sebagai berikut :

1. VINE LENGTH : Panjang batang (cm), diamati umur tiga bulan setelah tanam pada lima tanaman contoh

2. INTERNODE : Panjang ruas batang (mm), diamati umur tiga bulan setelah tanam pada lima tanaman (lima ruas/tanaman)

3. VINE COLOR : Warna batang, diamati umur tiga bulan setelah tanam (G=hijau;P=ungu; PG=hijau keunguan; MX=campuran)

4. LEAF LENGTH : Panjang daun tua (mm), diamati umur tiga bulan setelah tanam pada lima tanaman contoh (satu daun/tanaman)

5. LEAF WIDTH : Lebar daun tua (mm), diamati umur tiga bulan setelah tanam pada lima tanaman contoh (satu daun/tanaman)

6. IMMATURE LEAF : Warna daun muda, diamati umur tiga bulan setelah tanam (G=hijau;P=ungu; PG=hijau keunguan; MX=campuran)

7. LEAF SHAPE : Bentuk daun tua, diamati umur tiga bulan setelah tanam (lihat Gambar 4)

8. PETIOLE LENGHT : Panjang tangkai daun (mm), diamati umur tiga bulan setelah tanam pada lima tanaman contoh (satu daun/tanaman)

9. PETIOLE COLOR : Warna tangkai daun, diamati umur tiga bulan setelah tanam (G=hijau; P=ungu; PG=hijau keunguan; MX=campuran)

10. FLOW DATE : Umur 50% berbunga (hari setelah tanam)

11. FLOW COLOR : Warna bunga, diamati pada saat 50% berbunga

(W=putih; P=ungu; PW=putih keunguan, MX=campuran)

12. FLOW LENGHT : Panjang bunga (mm), diamati pada saat 50% berbunga terhadap lima contoh bunga

13. FLOW WIDTH : Lebar daun (mm), diamati pada saat 50% berbunga terhadap lima contoh bunga

14. SKIN COLOR : Warna kulit umbi, diamati pada saat panen (W=putih;

Y=kuning; R=merah; P=ungu; MX=campuran)

15. FLSH COLOR : Warna daging umbi, diamati pada saat panen (W=putih; Y=kuning; O=orange; R=merah; P=ungu; MX=campuran)

16. GRAM/PLANT : Hasil umbi per tanaman, (total bobot umbi : jumlah tanaman dipanen)

17. TTB /PLANT : Total jumlah umbi per tanaman (total jumlah umbi : jumlah tanaman dipanen)

18. MTB/PLANT : Jumlah umbi layak jual per tanaman (jumlah umbi layak jual : jumlah tanaman dipanen)

19. TUBER WEIGHT : Rata-rata bobot umbi (g), (total bobot umbi : jumlah umbi)

20. CROP DURATION : Umur tanaman, jumlah minggu antara tanam dengan panen

21. GR/PLANT/WEEK : Hasil umbi per tanaman per minggu, (hasil umbi/tanaman : umur tanaman)

22. STORAGE ROT : Daya simpan, diamati pada sekitar 1 kg umbi yang disimpan selama tiga minggu. Umbi dipotong di tengah dan bagian yang busuk dinyatakan dengan persentase

daun ubi jalar

Gambar 3a


batang ubi jalar

Gambar 3b

warna daging umbi ubi jalar

Gambar 3c

Gambar 3. Contoh keragaman bentuk dan ukuran daun (3a), warna pucuk dan ukuran batang (3b), serta warna daging umbi (3c) yang terdapat dalam tanaman koleksi plasma nutfah ubijalar

bentuk daun ubijalar

Gambar 4: Kategori bentuk daun dalam kegiatan karakterisasi plasma nutfah ubijalar (MARIF, 2006)