Berita » Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam Pengembangan Model Simulasi Tanaman Ubikayu

Ubikayu merupakan komoditas pangan yang sangat strategis sebagai sumber pangan dan energi dimasa mendatang, karena dapat tumbuh di lahan suboptimal dan etanolnya lebih ramah lingkungan.

Untuk mengoptimalkan sistem produksi ubikayu, pendekatan yang biasa diterapkan selama ini adalah pendekatan biologis, sedangkan pendekatan keteknikan (bioenginering) belum banyak dikupas lebih jauh. Hal tersebut yang melatarbelakangi salah satu peneliti Balitkabi, Farid R. Abadi S.TP., M.Eng., untuk menyampaikan makalah yang diseminarkan di Aula Balitkabi, pada hari Senin tanggal 16 Januari 2017.

17-1-17

Maksud dari pendekatan keteknikan adalah pendayagunaan teknologi informasi (komputer) yang berkembang pesat saat ini, untuk mengembangkan integrasi model simulasi tanaman ubikayu dengan SIG (Sistem Informasi Geografis) serta GPS (Global Positioning System) guna mengetahui umur panen optimum, potensi hasil, dan limbah biomassa ubikayu untuk industri bioetanol generasi kedua.

Secara umum, disampaikan bahwa perkembangan bioetanol dari bahan baku ubikayu terbagi menjadi dua, yaitu industri bioetanol generasi pertama (sumber bioetanol dari umbi dan daun) dan industri bioetanol generasi kedua (sumber bioetanol dari limbah ubikayu berupa kulit dan batang).

Contoh aplikasi model simulasi dengan konsep DSS (Decision Suport System) pada produksi ubikayu telah berkembang di Thailand. Konsep tersebut menggabungkan database spasial (peta batas administratif, peta zona iklim, peta tanah, dan peta wilayah pertanaman ubikayu) dengan data model ubikayu yang mencakup data percobaan lapang, koefisien genetis, dan manajemen tanaman. Data tersebut kemudian divalidasi dan dimasukkan dalam program aplikasi khusus.

Salah satu pertanyaan yang muncul pada sesi diskusi adalah, “Apakah sistem ini dapat digunakan untuk menduga ledakan populasi hama/penyakit dan tingkat keparahannya?”. Farid menjelaskan bahwa model simulasi juga dapat diterapkan, dengan data dukung antara lain data iklim, informasi spasial (longitude, altitude), suhu rata-rata (maksimum, minimum), dan karakter lain yang mendukung sehingga dibutuhkan kolaborasi antara ahli hama/penyakit dengan ahli modeling. Yang lebih penting bahwa teknik yang digunakan lebih aplikatif, mudah dan implikasinya dapat diterapkan pada kondisi riilnya.

RTH/KN