Berita » Pemuliaan Kedelai Di Korea Selatan

korea3

Olahan berbaku kedelai hampir selalu ditemukan saat makan di Korea Selatan.  Taoge kedelai adalah yang paling sering ditemukan dengan segala modifikasinya.  Menurut Won-Young Han, PhD (Pemulia Kedelai NICS) pada pertemuan tanggal 25 September 2012 menyatakan bahwa hingga saat ini telah dilepas sebanyak 130 varietas kedelai di Korea Selatan, 20 diantaranya dilepas oleh universitas, 10 varietas dilepas oleh Local Government (mungkin Diperta) dan sisanya dilepas oleh Department of functional crop, legume and oil crop research division yang berlokasi di Miryang, dibawah NICS (National Institute of Crop Science), RDA (Rural Development Administration). Di NICS terdapat 10 pemulia kedelai, 8 pemulia berada di Miryang dan 2 pemulia di NICS Suwon. Hampir seluruh kegiatan pemuliaan kedelai di Miryang difokuskan untuk perbaikan genetik kedelai sebagai bahan baku taoge (sprout).  Kedelai untuk bahan baku tahu umumnya berasal dari kedelai impor. Secara umum pendekatan pemuliaan kedelai tidak berbeda dengan yang dilakukan di Indonesia.  Sebagian besar menggunakan seleksi silsilah, sebagian kecil menggunakan SSD dan bulk.  Pada generasi F6 mulai dilakukan PYT (preliminary yield test), uji daya hasil pendahuluan, bedanya di Miryang hanya dilakukan satu musim pada satu lokasi, dengan 2 ulangan. Galur terpilih memasuki fase uji daya hasil lanjut (advanced yield trial, AYT)) yang juga dilakukan hanya pada satu musim satu lokasi dengan 4 ulangan. Uji ketahanan terhadap hama maupun penyakit serta kualitas (protein, lemak, isoflavon dan antioksidan) dilakukan pada fase AYT. Galur terpilih dari AYT dilakukan Regional Adaptation Trial (RAT) di 12 lokasi.  Lokasi RAT di Research Station dan Local Government. Pada  tahun berikutnya dipilih 3 – 4 galur terbaik dan dilakukan pengujian semacam RAT, tahun berikutnya dipilih 2 – 3 galur dan pada tahun ketiga diuji kembali 1 – 2 galur terbaik dan siap untuk diusulkan sebagai varietas baru. Hampir seluruh varietas yang dilepas di Korsel tergolong tahan terhadap SMV.  Pengujian SMV dilakukan dengan menggunakan 3 strain dan untuk bacterial pustule diuji pada 1 strain.  Uji ketahanan terhadap galur generasi lanjut lebih difokuskan pada penyakit, walaupun terdapat beberapa hama utama yang merugikan yaitu pengisap polong, ulat grayak dan cut worm.  Menurut pemulia kedelai di Miryang, terdapat korelasi positif antara ukuran biji, kandungan protein dan rendemen tahu. Karenanya kedelai berukuran besar lebih sesuai untuk tahu. Kedelai berukuran besar memiliki nisbah kulit biji dengan kotiledon semakin kecil. Yang menjadi pertanyaan bagi pemulia kedelai yang pernah berkunjung ke Indoensia adalah mengapa di Indonesia kedelai berbiji kecil lebih sesuai untuk bahan baku tahu.  Mungkin yang penting bukan ukuran bijinya, tetapi kandungan patinya. Di Korsel, kedelai berukuran 20 g/100 biji tergolong berukuran kecil, kedelai berukuran sedang sekitar 24 g/100 biji dan disebut berukuran besar jika ukuran bijinya > 30 g/100 biji. Aksesi plasma nutfah kedelai di Miryang sebanyak 2.000 aksesi berasal dari berbagai negara, dan tidak ada satu aksesi yang berasal dari Indonesia. Pelaksanaan penelitian sangat bagus dan tertata dengan baik, sejak dipertanaman hingga ke tempat prosesing. Contoh yang baik adalah papan percobaan dan patok plot sangat bagus. Pada awal tahun dibuat buku tercetak yang berisikan seluruh galur yang diuji di lapang pada semua tanaman, yang ini di Indonesia belum dilakukan. Sidang pelepasan varietas hanya dilakukan setahun sekali, umumnya dilakukan pada bulan Desember di Suwon. Komite pelepas varietas terbagi untuk padi, legume and oil crop, winter crop dan tanaman hortikultura. Ketika ditanya berapa halaman untuk proposal usulan pelepasan varietas kedelai, dijawab tidak lebih dari 15 halaman.