Berita » Penangkar Maros Penyedia Benih Kedelai Indonesia Timur

maros

Sekolah Lapang Kedaulatan Pangan Mendukung Swasembada Pangan Terintegrasi Desa Mandiri Benih (SL-Mandiri Benih) yang dikembangkan oleh Kementerian Pertanian bertujuan untuk menyediakan dan memenuhi kebutuhan benih kedelai bagi desa yang bersangkutan dan desa-desa lain. Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi) pada tahun 2016 mempunyai tugas pokok mendampingi calon penangkar atau penangkar kedelai di delapan provinsi, termasuk Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel). Pendampingan dilakukan dengan dua metode, yaitu: (1) pengenalan varietas unggul baru (VUB) kedelai berproduktivitas tinggi dan (2) pendampingan melalui kegiatan bimbingan teknis (bimtek) tentang identifikasi varietas unggul, teknologi produksi benih, serta pengenalan dan pengelolaan hama – penyakit kedelai untuk calon penangkar atau yang sudah jadi penangkar. Khusus untuk Provinsi Sulawesi Selatan, pengenalan VUB diperagakan pada satu hektar laboratorium lapang di Desa Toddo Limae, Kecamatan Tompo Bulu, Kabupaten Maros. Sedangkan bimtek dilakukan oleh Dr. Yusmani Prayogo, Dr. A.A. Rahmianna, dan Apri Sulistyo, M.Si. pada tanggal 21 April 2016 di Gapoktan Je’Ne Tallasa yang diketuai oleh Bapak DG Latte yang terdiri dari 16 kelompok tani.

Kabupaten Maros merupakan satu mata rantai dari jalinan benih antar lapang dan musim (Jabalsim) di Sulawesi Selatan untuk produksi benih pada MK 1 (April/Mei−Juni/Juli) yang akan menyediakan benih untuk ditanam pada MK 2 (Juli−Oktober) di sekitar Danau Tempe yang ketersediaan airnya masih tinggi. Luas lahan yang ditanami kedelai di Desa Toddo Limae, Maros kurang lebih 400 hektar dengan pola tanam padi-kedelai-kacang tanah. Penangkar benih di desa tersebut sangat menyukai Varietas Anjasmoro karena memiliki performa baik yaitu produksi mencapai 1,8−2,1 t/ha, dan bijinya berukuran besar. Bahkan menurut Ir. Abdul Fatah, koordinator komoditas kedelai di BPTP Sulsel, bahwa Sulawesi Selatan menjadi pemasok utama benih untuk Indonesia bagian Timur. Lebih lanjut dituturkan bahwa VUB kedelai yang sangat diharapkan oleh para penangkar di Kabupaten Maros adalah yang memiliki karakter biji besar dan diprediksi jika ada varietas yang lebih unggul dari Varietas Anjasmoro maka petani akan sangat senang. Beliau juga menunggu tersedianya benih sumber VUB Dega yang sudah dirakit oleh Balitkabi untuk didiseminasikan segera, agar cepat diadopsi oleh petani. Selain itu, petani juga menginginkan VUB kedelai yang memiliki karakter biji besar dan toleran pecah polong, sehingga dapat membantu petani dengan keterbatasan tenaga kerja di era sekarang ini terutama yang kepemilikan lahannya lebih dari 3 hektar.

Bimtek dirasa sangat bermanfaat bagi para petani penangkar karena benih yang akan dihasilkan tetap memiliki kualitas dan mutu yang stabil dan tidak mengalami penurunan sehingga produksi yang dihasilkan tetap tinggi. Demikian pula bahwa inovasi VUB kedelai sangat ditunggu oleh para penangkar benih karena dengan VUB yang memiliki produksi tinggi, maka kebutuhan benih dalam negeri mudah dipenuhi.


Apri Sulistyo, M.Si, Dr. A.A. Rahmianna, dan Dr. Yusmani Prayogo memberikan Bimtek tentang VUB,
produksi benih kedelai dan hama penyakit utama kedelai serta cara pengendaliannya.


Dr. Yusmani Prayogo menyerahkan Buku Panduan Produksi Benih Kedelai kepada Babinsa dan Ketua Gapoktan.

AAR/YP