Berita » Pendampingan UPSUS Kedelai di D.I.Y

Dalam rangka pendampingan UPSUS kedelai di D.I. Yogyakarta, Balitkabi menugaskan tiga orang penelitinya, yaitu Dr. Titik Sundari, Ir. Sri Wahyuni Indiati, M.S., dan Dra. Suryantini untuk melakukan pendampingan.

Dalam pelaksanaan pendampingan dilakukan koordinasi dengan BPTP Yogyakarta dan Dinas Pertanian, dalam hal ini dengan Petugas Lapang di salah satu lokasi program intensifikasi kedelai yang dilakukan oleh Dinas Pertanian D.I. Yogyakarta, tepatnya di Kecamatan Kalibawang Kabupaten Kulonprogo.

Koordinasi dengan Tim UPBS BPTP Yogyakarta berkaitan dengan stok dan distribusi benih sumber kedelai tahun 2015/2016.

Koordinasi dengan Tim UPBS BPTP Yogyakarta berkaitan dengan stok dan distribusi benih sumber kedelai tahun 2015/2016.

Informasi yang digali dari petugas BPTP Yogyakarta meliputi distribusi benih dan stok benih sumber kedelai selama tahun 2015/2016, hasil demplot yang dilakukan, dan varietas yang diminati oleh petani, serta realisasi dari program UPSUS kedelai yang dilakukan oleh Dinas Pertanian.

Berdasarkan hasil koordinasi diketahui bahwa UPBS BPTP Yogyakarta telah mendistribusikan benih sumber ke tiga kabupaten sentra kedelai di D.I. Yogyakarta, yaitu Gunung Kidul seluas 2000 ha (realisasi 1350 ha) dan sisanya direncanakan tanam bulan September, Kulonprogo seluas 1000 ha (realisasi tanam sudah 100%), dan Bantul belum ada kepastian waktu tanamnya.

Varietas yang diminati tergantung wilayah, untuk Gunung Kidul varietas yang diminati adalah Anjasmoro, Grobogan, dan Dena 1, Bantul dan Kulonprogo menghendaki Anjasmoro dan Grobogan. Sementara itu, dalam program intensifikasi Dinas Pertanian memberikan bantuan benih Varietas Grobogan dan Legin.

Hasil koordinasi di lapangan dengan PPL di Kecamatan Kalibawang, Kulonprogo, disampaikan bahwa Kecamatan Kalibawang melaksanakan program intensifikasi kedelai seluas 300 ha yang terdistribusi ke tiga Banjar, yaitu Banjar Arum 19 kelompok, Banjar Asri 9 Kelompok, dan Banjar Arjo 1 kelompok, masing-masing kelompok seluas 10 ha, kecuali untuk kelompok Banjar Arjo seluas 20 ha. Dari luasan tersebut, semuanya sudah tanam.

Pendampingan yang telah diberikan berupa teknologi budidaya kedelai. Namun menurut petugas PPL di lapangan, tidak semua petani mau menerapkan teknologi yang telah disampaikan. Terbukti di lapangan masih ada pertanaman yang ditanam dengan cara disebar.

Kunjungan lapang dilakukan pada kelompok tani Margo Basuki, Dsn. Salam, Ds. Banjar Arjo, Kabupaten Kulonprogo. Kelompok ini telah menerapkan teknologi budidaya kedelai yang dianjurkan, yaitu membuat saluran drainase setiap 2,5 m, tanam teratur yaitu dengan jarak tanam 40 cm x 20 cm, setiap 2,5 m ditanami jagung sebagai perangkap hama (ulat polong).

Pertanaman Varietas Grobogan cukup baik, jumlah polong antara 28−40 polong/tanaman. Kendala yang dihadapi adalah pada saat tanam, terjadi hujan sehingga terdapat tanaman kedelai yang tidak tumbuh. Dalam pemupukan petani menggunakan Phonska ditambah dengan Urea dan pupuk kandang. Kondisi hama dan populasi musuh alami relatif terkendali.

Penerapan teknologi budidaya kedelai dengan benar oleh Kelompok Tani Margo Basuki (kiri), dan kondisi pertanaman kedelai yang belum menerapkan tekonologi budidaya dengan benar (kanan).

Penerapan teknologi budidaya kedelai dengan benar oleh Kelompok Tani Margo Basuki (kiri), dan kondisi pertanaman kedelai yang belum menerapkan tekonologi budidaya dengan benar (kanan).

Kondisi pertanaman peserta program intensifikasi kedelai di Kecamatan Pandak, Kabupaten Bantul yang sudah menerapkan tekonologi budidaya dengan benar.

Kondisi pertanaman peserta program intensifikasi kedelai di Kecamatan Pandak, Kabupaten Bantul yang sudah menerapkan tekonologi budidaya dengan benar.

Selain observasi ke Kabupaten Kulonprogo, juga dilakukan observasi ke Kabupaten Bantul. Hasil observasi di Kabupaten Bantul, dijumpai beberapa petani yang masih belum menerapkan cara budidaya yang benar, masih menerapkan cara tanam disebar. Namun ada pula yang menerapkan teknologi budidaya dengan benar.

Keberhasilan program intensifikasi kedelai tidak saja ditentukan oleh petugas (pemerintah) tetapi juga pelaksana (petani).

TS/SWI/Srytn