Berita » Pendekar Pangan Turun Gunung Exposekan Pangan Non Pajale

pendekar1Peningkatan jumlah penduduk dunia yang diperkirakan mencapai 9,2 miliar di tahun 2050 akan butuh tambahan pangan sebesar 70% dari ketersediaan saat ini. Di tahun 2030, jumlah penduduk Indonesia diperkirakan sudah mencapai 307 juta orang dan prioritas asupan pangan bertumpu pada padi, jagung, kedelai sehingga perlu mulai dipikirkan penyediaan pangan masa depan. Kenapa? Adalah pertanyaan bijak untuk dicarikan solusinya.

Data-data menunjukkan bahwa di tahun 2050 produksi pangan (padi) turun 27%, gandum 42%, dan jagung 8,5%. Di daratan Asia sendiri akses terhadap pangan turun 18%. Bisa dibayangkan tugas dan beban berat di saat itu karena sumber daya alam sudah terbatas dan harus dilestarikan atau tidak mungkin dieksploitasi. Pada saat itu kita perlu Sumber Daya Alam yang besar. Hal ini merupakan dua hal yang sangat kontradiktif, sehingga membutuhkan terobosan-terobosan inotek tanpa bergantung pada lahan dan air yang terbatas.

Guna menjawab tantangan tersebut maka pada tanggal 11 Desember 2018 telah dilaksanakan Focus Group Discussion (FGD) di Jakarta dengan tema “Identifikasi Potensi Pengembangan Komoditas Tanaman Pangan Non Pajale dan Dukungan yang Diperlukan”, yang diinisiasi oleh IKABI pada ulang tahunnya ke-5 dan dilaksanakan di Ditjen Tanaman Pangan. FGD cerdas di saat menghadapi peningkatan kebutuhan karbohidrat dan protein, dibutuhkan upaya untuk mengangkat sumber-sumber pangan non pajale, selain untuk SDA berkelanjutan juga untuk memenuhi kebutuhan kualitas pangan yang lebih sehat.

FGD menghadirkan pakar/narasumber dari pemerintah, perusahan, asosiasi perbenihan, produsen benih, dan pemerhati benih yang mempunyai pengalaman mumpuni tentang potensi pengembangan komoditas pangan non pajale dan masih konsen di tanaman pangan. Tentu saja komoditas aneka kacang dan umbi di luar kedelai, serealia non jagung dibahas dari berbagai sudut pandang mengantisipasi pangan Indonesia dan Dunia di tahun 2050.

Lima topik FGD yang disampaikan adalah: (1) Kebijakan dan program pengembangan tanaman pangan non pajale, (2) Kebutuhan pangan non pajale untuk pemenuhan kecukupan pangan dan peningkatan gizi masyarakat, (3) Prospek bisnis tanaman pangan non pajale, (4) Kekayaan genetik tanaman pangan non pajale, dan (5) Peranan perbenihan dalam mendukung pengembangan tanaman pangan non pajale.

Bicara pangan masa depan untuk kecukupan asupan karbohidrat dan protein, adalah masalah keberanian dan kejujuran bicara tentang pangan lokal. Di sini peran media massa sangat penting. Di saat disampaikan ada sekelompok orang makan ubi kayu, ubi jalar, talas, gembili, dan sorgum, respon media massa cenderung masih merendahkan menuju ketidakberdayaan. Dalam keseharian kita pangan non pajale tergusur, terdesak, dan terpinggirkan. Pangan non pajale masih diposisikan berstatus rendah, harga jual rendah, dan industri olahannya terbatas.

Kita harus percaya dan optimis bahwa kebijakan Pemerintah Indonesia di masa depan pasti mengarah ke pangan non pajale. Pada era sebelum tahun 1970-an, semua bahan pangan dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia, namun sekarang agak dilupakan. Justru saat ini, di negara-negara lain pangan non pajale dikonsumsi secara besar-besaran.

Kibarkan semangat konsumsi pangan sehat non pajale…

pendekar

YB