Berita » Pendekatan Baru Pemanfaatan Ubi Kayu untuk Industri Makanan Indonesia

Indonesia merupakan produsen ubi kayu tertinggi ketiga di dunia setelah Nigeria dan Thailand. Selain itu, ubi kayu juga termasuk komoditas keempat terpenting setelah kelapa sawit, padi, dan tebu dengan hasil produksi mencapai 23,35 ton/ha/tahun. Kedua fakta tersebut diungkap oleh Dr. Olivier Gibert perwakilan CIRAD di Indonesia dalam seminar internal yang diselenggarakan PUI (Pusat Unggulan Iptek) Balitkabi pada hari Selasa, tanggal 15 Agustus 2017 di Aula Balitkabi. Acara seminar dihadiri oleh seluruh peneliti, calon peneliti, teknisi, dan pejabat terkait. CIRAD (French Agricultural Research Centre for International Development) merupakan organisasi internasional dengan aktifitas utama ketahanan pangan, perubahan iklim, manajemen sumber daya, dan bidang sosial untuk keberlanjutan sistem pertanian.

novel

Pada seminar ini, Dr. Gibert berbagi pengalamannya selama dua tahun di Indonesia dengan menyampaikan presentasi yang berjudul ”Novel approaches of cassava utilization for Indonesian food industry”. Dalam pemaparannya, Dr. Gibert mengemukakan bahwa setengah dari produksi ubi kayu di Indonesia digunakan untuk industri makanan (51,9%), sedangkan sisanya digunakan untuk industri/ekspor (39,4%), konsumsi langsung (4,3%), dan lain sebagainya.

Beliau mengemukakan bahwa di Indonesia, industri makanan yang banyak menggunakan ubi kayu sebagai bahan dasarnya antara lain industri tepung tapioka, kerupuk, dan tape. Profil pengolahan ubi kayu di Lampung dan Jawa banyak diungkapkan oleh Dr. Gibert. Prosesing secara sederhana dan tradisional banyak ditemukan pada produk kerupuk dan tape, sedangkan untuk tepung tapioka sudah dilakukan secara semi-tradisional (pengeringan menggunakan sinar matahari) dan modern (pengeringan menggunakan batubara). Akan tetapi, menurut Dr. Gibert pelaku usaha masih kurang memperhatikan DMC (Dry Matter Content) atau kadar bahan kering umbi. Di Thailand, penilaian kadar bahan kering umbi digunakan untuk menentukan harga umbi.

Pengukuran DMC menggunakan metode Reinmann di pabrik Chol Charaoen Thailand.

Pengukuran DMC menggunakan metode Reinmann di pabrik Chol Charaoen Thailand.

Pada akhir seminar, Dr Gibert mengemukakan konsep pendekatan terintegrasi untuk industri ubi kayu dan petani melalui peningkatan produksi (breeding, seed difussion, agronomic practice), efisiensi dan penganekaragaman proses (design alat, process & improvement, quality control, product diversification & benchmarking), demand and livelihood improvement (NGO, cassava association, evaluators), dan training serta dukungan (agronomic practices, kesadaran pentingnya DMC, financial support to cassava chain, regulation).

 

RTH/WR