Berita » Peneliti Balitkabi Ikuti Shortcourse “Food Security in an Urbanizing Society”

Dalam rangka memperluas wawasan tentang ketahanan pangan, pada tanggal 9‒20 Maret 2015 lalu, selama dua minggu, salah seorang peneliti Balitkabi, Dian Adi Anggraeni Elisabeth mengikuti kursus singkat mengenai “Food security in an urbanizing society” yang dilaksanakan di Wageningen, Belanda. Penyelenggara kegiatan adalah Center for Development Innovation (CDI), Wageningen University and Research (WUR) dan berlokasi di Hotel Hof van Wageningen.

Training diikuti oleh 34 orang peserta berasal dari berbagai negara dan benua, yaitu Afrika (Kongo-1 orang, Mesir-1 orang Ethiopia-4 orang, Ghana-1 orang, Kenya-4 orang, dan Nigeria-7 orang), Asia (Indonesia-8 orang, Vietnam-2 orang, Yordania-1 orang, Pakistan-3 orang, dan Yaman-1 orang), serta Eropa (Jerman-1 orang).

Koordinator kegiatan adalah Alberto Giani berkebangsaan Italia dan Hans Schiere dari Belanda, dengan staf pendukung Mrs. Lotte van den Berg. Kegiatan kursus juga berkolaborasi dengan tim Metropolitan Food Cluster (Alterra) dan the Resource Centre on Urban Agriculture and Food Security (RUAF) Foundation.

Program kursus terbagi dalam dua topik, topik pertama mengambil tema “Agri-food systems in an urbanizing society” dan topik kedua tentang “Planning for sustainable city region agri-food systems”. Dalam topik pertama dijabarkan mengenai produksi pangan di daerah perkotaan dan sekitarnya, bagaimana sistem pertanian-pangan di perkotaan dalam menghadapi berbagai tantangan seperti perubahan iklim, penurunan sumberdaya, dan pola diet masyarakat perkotaan, termasuk juga aspek-aspek teknis dan sosio-ekonomi dari pertanian perkotaan dan kontribusinya pada sistem pertanian-pangan yang berkelanjutan.

Topik kedua menjabarkan tentang logistik pangan yang meliputi produksi, pengolahan, penyimpanan, dan transportasi pangan menuju dan dari perkotaan, pemasaran pangan di perkotaan (seperti pedagang kaki lima, pasar produk segar, supermarket, dan lain-lain) dan kontribusi masing-masing outlet pangan bagi ketahanan pangan di daerah perkotaan, khususnya bagi masyarakat miskin perkotaan, termasuk juga peran pemerintah dan multi-stakeholder dalam proses mendesain kebijakan terkait sistem produksi pangan perkotaan.

Kursus diberikan dalam bentuk teori di dalam kelas, disertai studi kasus dengan melakukan kunjungan lapang ke beberapa kota di Belanda yang melakukan praktek-praktek pertanian-pangan di daerah perkotaan sehingga kami juga dapat belajar langsung dengan praktisi di bidangnya. Studi kasus pada minggu pertama dilakukan dengan kunjungan ke dua lokasi “urban and peri-urban agriculture” di Kota Rotterdam.

Lahan di pinggiran rel kereta api (kiri) dan pertanian sistem hidroponik (kanan). Kunjungan pertama adalah ke lokasi di pinggiran rel kereta api yang tanahnya sebelumnya tidak terpakai/tidak terurus yang kemudian diusahakan oleh seorang ahli tata kota bekerjasama dengan masyarakat sekitar yang ‘concern’ dengan pertanian untuk dikelola dengan ditanami berbagai macam tanaman sayuran dan bumbu-bumbuan.

Di tanah tersebut juga diusahakan ternak ayam, budidaya ikan air tawar dan jamur. Selama musim dingin sebelumnya, budidaya sayuran yang tidak mungkin dilakukan di tanah, dialihkan pada sistem hidroponik di dalam ruangan (Foto 1).

Lahan di pinggiran rel kereta api (kiri) dan pertanian sistem hidroponik (kanan).

Lahan di pinggiran rel kereta api (kiri) dan pertanian sistem hidroponik (kanan).

Kunjungan kedua di Rotterdam adalah untuk melihat praktek pertanian perkotaan di atap atau ‘rooftop’ gedung. Konsep pertanian di atap gedung diprakarsai oleh seorang konsultan lingkungan dan tata ruang dari pemerintah kota. Atap gedung ditanami dengan berbagai jenis sayuran, kentang, dan bunga yang bisa dimakan, serta budidaya lebah madu (Foto 2).

Praktek pertanian-pangan di atap gedung ‘rooftop’.

Praktek pertanian-pangan di atap gedung ‘rooftop’.

Pemeliharaan tanaman dibantu oleh relawan yang berganti-ganti setiap satu minggu sekali. Beberapa relawan berasal dari karyawan kantor di sekitar gedung yang ingin memanfaatkan jam makan siang atau waktu sepulang kantor untuk berkebun, atau bersosialisasi, atau sekedar refreshing dan sedikit ‘exercise’ dengan berkebun.

Relawan lain berasal dari kelompok lansia dan kelompok sosial lain, termasuk orang muda dan anak-anak. Pertanian di atap gedung selain memberikan manfaat berupa produk segar, juga dapat memberikan manfaat keindahan dan membuat gedung lebih awet dan lebih dingin karena bagian atasnya tidak langsung terpapar sinar matahari. Konsep pertanian di atap gedung juga telah diterapkan di beberapa negara, seperti di Kathmandu (Nepal), Mesir, dan Cina.

Taman kota ‘Food for good’ (kiri) dan peternakan keluarga “De Hooilanden” (kanan).

Taman kota ‘Food for good’ (kiri) dan peternakan keluarga “De Hooilanden” (kanan).

Pada minggu kedua, studi kasus dilakukan dengan kunjungan ke taman kota “Food for good” di Utrecht dan peternakan keluarga “De Hooilanden” di Bennekom, dekat Kota Ede. Konsep taman kota di Utrecht ini adalah ‘food gardening’.

Taman kota tidak hanya difungsikan sebagai penyaji keindahan, tapi juga penyedia pangan bagi masyarakat perkotaan. Taman kota “Food for good” dikelola oleh beberapa LSM, dengan pendanaan dari pemerintah kota Utrecht.

Penataan dan pemeliharaan “food gardening” dilakukan oleh ahli taman dengan melibatkan target grup dari orang-orang yang sedang direhabilitasi di Public Mental Health Care Utrecht dan dari masyarakat sekitar taman kota yang bertindak sebagai sukarelawan.

Kegiatan ini telah dirintis sejak tahun 2011. Masih ada sekitar 9 taman kota lain di kota Utrecht yang didanai oleh pemerintah kota untuk mewujudkan konsep “food gardening”. Meskipun belum jelas sampai kapan pemerintah kota akan mengalokasikan dananya untuk operasional “food gardening”, namun semua yang terlibat tetap bersemangat mengelola taman kota mereka.

Peserta pelatihan.

Peserta pelatihan.

Diprediksi bahwa pada tahun 2030, 60% warga dunia akan berurbanisasi ke daerah perkotaan, khususnya kota-kota besar di negara berkembang. Hal tersebut diikuti juga dengan prediksi meningkatnya jumlah warga miskin di perkotaan yang memiliki akses terbatas terhadap pangan.

Oleh karena itu, pertanian perkotaan diharapkan akan mampu menyediakan 20-60% pangan bagi masyarakatnya, terutama bagi kelompok masyarakat miskin. Seperti konsep KRPL di Indonesia, konsep pertanian perkotaan juga bertujuan untuk menginternalisasi/ me’lokalisasi’ produksi pangan dalam rangka mengurangi ketergantungan terhadap produksi pangan dari daerah lain dan pangan impor. Semoga bermanfaat.

DAAE/KN