Berita » Peneliti Balitkabi Berpartisipasi dalam Seminar Pertanian Organik di UGM

ugm1

Sepuluh Peneliti Balitkabi dari berbagai disiplin ilmu menyampaikan hasil penelitiannya pada seminar nasional di Universitas Gadjah Mada pada hari rabu-kamis, 28‒29 Agustus 2013. Seminar ini merupakan hasil kerjasama antara Universitas Gadjah Mada (UGM), Balai Penelitian Tanah Badan Litbang Kementerian Pertanian, Vliruos, dan Universitas Gent Belgia. Peserta terdiri dari berbagai instansi di seluruh Indonesia baik Dosen, Peneliti, Pejabat Pemerintah, Kelompok Tani, dan mahasiswa yang berjumlah sekitar 200 peserta. Pembicara utama adalah Prof. Dr. Stefaan De Neve (Gent Universiteit, Belgia), pembicara tamu Dr. Aprinus Salam, Dr. Ir. Soenarto Gunadi dan Ketua Kelompok Tani Pertanian Organik (Pak Wartono, petani padi dari Magelang dan Pitoyo, petani sayuran dari Semarang). Seminar ini mengusung tema “Pertanian Organik : Solusi mewujudkan Produksi Pangan yang Aman dan Ramah Lingkungan serta Meningkatkan Pendapatan”.


Dalam rangkaian seminar nasional baik yang disampaikan oleh pembicara utama maupun pembicara tamu menyatakan bahwa kemajuan teknologi dalam bidang pertanian terutama penggunaan pupuk anorganik, pestisida sintesis, perakitan varietas unggul baru yang membutuhkan input tinggi, serta varietas baru hasil rekayasa genetik telah menimbulkan berbagai persoalan baru yang berdampak sangat serius terhadap keseimbangan alam, punahnya flora dan fauna, pencemaran air, udara dan tanah yang akhirnya mengancam kesehatan dan keberlangsungan hidup umat manusia. Untuk mengatasi hal tersebut, salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menerapkan teknologi budidaya pertanian yang mengedepankan kelestarian alam dan tetap memperoleh hasil yang tinggi. Teknologi ini populer disebut sebagai pertanian organik. Pertanian organik merupakan suatu sistem manajemen produksi secara terpadu dalam bidang pertanian dengan memanfaatkan bahan organik sebagai input utama dan menghindari penggunaan bahan anorganik, produk sintesis, dan hasil rekayasa genetik guna menekan dampak pencemaran lingkungan. Selain itu, pertanian organik merupakan proses bertani yang menyelaraskan dengan keadaan alam sehingga keadaan alam tetap lestari. Bukti bahwa pertanian organik tetap menguntungkan bagi petani diungkapkan oleh Pak Wartono dan Pak Pitoyo. Mereka menceritakan bahwa setelah bertani organik pendapatan mereka meningkat, hidup lebih sejahtera karena produk pertanian yang dihasilkan memiliki harga produk lebih tinggi dari pada produk pertanian non organik. Pasar produk organik masih terbuka luas bahkan hingga saat ini mereka belum sanggup memenuhi permintaan pasar. Balitkabi ikut berperan dalam berkembangnya pertanian organik. Beberapa hasil penelitian yang ikut diseminarkan dalam acara ini antara lain evaluasi pendahuluan galur-galur kedelai terhadap hama atau penyakit tertentu yang bertujuan untuk menciptakan varietas tahan hama atau penyakit. Penggunaan varietas kedelai tahan dalam budidaya akan meminimalisir penggunaan pestisida kimia sehingga aman terhadap lingkungan. Hasil penelitian tersebut di presentasikan oleh Eriyanto Yusnawan, PhD., Apri Sulistyo, MSi, Dr. Sholihin, dan Kurnia Paramita S, SP.


Selain itu, hasil penelitian mengenai kesuburan tanah disampaikan oleh Sutrisno, SP. Peningkatan kesuburan tanah dapat ditempuh melalui penambahan kotoran ayam, bagas yang tidak mengandung kimia bila dibandingkan dengan pupuk kimia. Penggunaan kotoran ayam dan bagas direkomendasikan pada pertanian organik karena kedua bahan tersebut tidak mengandung bahan kimia. Hasil penelitian peneliti Balitkabi yaitu Herdina Pratiwi, SP., Dr. Moch. Muchlish Adie, MS. dan Ayda Krisnawati, SP. menyeminarkan tentang agronomi dan pemuliaan tanaman juga tidak ketinggalan dipresentasikan di seminar pertanian organik ini.

Mita/Sutris/Eriy