Berita » Peneliti Harus Bergerak Ke Second Order Condition

dscf4347

Martabat seorang peneliti sejatinya ditentukan oleh hasil karyanya, ungkapan awal Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) RI, Dr. Rusman Heriawan, pada saat memberikan arahan kepada jajaran Balitkabi di Aula Balitkabi 1 Oktober 2013. Wamentan memberikan apresiasi terhadap banyaknya inovasi yang telah dihasilkan oleh peneliti Balitkabi. Tetapi masih terlihat, pada saat terjadi suatu permasalahan di sektor pertanian, petani merasa sendirian di lapang. Peneliti selalu sibuk dan asik dengan dunianya sendiri untuk menghasilkan inovasi, disisi lain, dunia penyuluh seakan-akan berada dalam kondisi shutdown.
Ujung karya seorang peneliti adalah memang menghasilkan inovasi, menghasilkan suatu produk. Apakah makna luaran inovasi tersebut sudah cukup bermakna? Peneliti yang telah menghasilkan inovasi, masih berada dalam tahapan syarat cukup, the first order condition. Peneliti jangan bangga kalau hanya sebatas menghasilkan inovasi. Inovasi tersebut harus didorong, harus diposisikan bermakna bagi petani, harus memberikan nilai tambah kepada petani. Dalam hal ini peneliti harus merambah dan segera berposisi kepada the second order condition.


Kunci memasuki second order condition adalah perderasan diseminasi. Hubungan peneliti – penyuluh harus solid. Tugas peneliti memang semakin berat dan tantangan untuk berpikir maju dan luas, harus terbuka dan berwawasan luas, bahkan harus sudah memasuki tantangan baru seperti GMO. Peneliti Balitkabi harus menjadi garda terdepan di bidang perkedelaian. Perderas tulisan pada saat terjadi masalah. Peneliti jangan merasa memiliki sendiri terhadap hasil karyanya. Perlindungan hak kekayaan intelektual tetap menjadi sasaran penting. Tidak ada pilihan, bahwa eksistensi peneliti ditentukan oleh hasil karyanya. Sampaikan hasil karya tersebut secara ikhlas kepada petani, agar eksistensi peneliti menjadi lengkap. Sampaikan walaupun satu ayat. Ajakan Wamentan.MMA.