Berita ยป Penerapan Teknologi Tepat Lipatkan Hasil Ubijalar Lahan Sawah

Ubijalar merupakan tanaman umbi-umbian sumber karbohidrat penting setelah ubi kayu. Di Indonesia sebagian besar ubijalar diusahakan di lahan sawah dengan jenis tanah beragam. Selain karbohidrat, umbi ubi jalar banyak mengandung mineral, serat, dan vitamin. Ubijalar berdaging kuning banyak mengandung betakarotin yang merupakan precursor vitamin A, sehingga sangat bermanfaat bagi kesehatan mata. Umbi berdaging ungu banyak mengandung antosianin yang merupakan pengikat radikal bebas, sehingga bermanfaat untuk mengatasi penyakit degeneratif, termasuk kanker. Pada tahun 2011, produksi ubijalar mencapai 2,17 juta ton, yang dihasilkan dari areal panen kurang lebih 177 ribu hektar dengan produktivitas 12,21 t/ha. Hasil ini masih lebih rendah dibandingkan potensi hasil beberapa varietas ubijalar yang dapat mencapai 20โ€”30 t/ha. Hal tersebut berarti bahwa peluang meningkatkan hasil/produktivitas ubijalar dengan menggunakan varietas unggul disertai teknologi maju masih sangat terbuka.

Penelitian budidaya di beberapa lokasi lahan sawah dengananeka jenis tanahEntisol dan Andisol di Malang, Blitar, Mojokerto, Pasuruan, Magelang, dan Karanganyar pada tahun 2009-2011,terbukti mampu meningkatkan hasil umbi ubijalar hingga 40-75%.Dengan menggunakan input tinggi, rata-rata hasil umbi yang diperoleh berkisar antara 28-39 t/ha (230-325% lebih tinggi dibanding rata-rata produktivitas ubijalar Nasional) atau 150-215% dibanding teknologi petani setempat.


Hamparan tanaman ubijalar varietas Sari di Kabupaten Karanganyar (kiri). Hasil panen petani varietas Sari di Tumpang siap dipasarkan (kanan)


Hamparan tanaman ubijalar varietas Beta-2 di Kabupaten Malang (kiri).Keragaan teknologi produksi yang menjamin produktivitas tinggi
di tanah Entisol Kabupaten Magelang (kanan).

Paket teknologi budidaya ubijalar di lahan sawah mencakup komponen berikut: (1) Menggunakan varietas unggul, seperti ari, Beta-2, (2) Bibit yang digunakan sehat, segar, dan bebas infestasi hama dan patogen, (3) Pengolahan tanah dilakukan sempurna, kedalaman olah >25 cm, (4) Penanaman dilakukan pada puncak guludan dengan jarak antarpuncak guludan 100 cm, dan jarak tanam dalam-guludan 25 cm (populasi 40.000 tanaman/ha), (5) Pemupukan menggunakan 300 kg Ponska+100 kg KCl/ha + 5 ton pupuk kandang, (6) Pemupukan I (pupuk dasar) berupa seluruh pupuk kandang+100kg Ponska+30 kg KCl diberikan pada umur 7-10 hari setelah tanam, (7) Pemupukan II berupa 200 kg Ponska + 70 kg KCl/ha diberikan pada umur 45 hari setelah tanam, (8) Pembubunan dan perbaikan guludan dilakukan pada umur 45 hari (bersamaan dengan pemupukan II), (9) Pengendalian penyakit puru tungau (kalau ada) dengan insektisida, dan penyakit kudis dengan fungisida Dithane M-45, dan (9) Panen dilakukan pada umur 4-5 bulan.

Prof Marwoto/AW