Berita ยป Pengairan Sistem Curah Mampu Kendalikan Kutu Kebul pada Kedelai

pengairan-curah_edt

Pengairan dengan sistem curah (sprinkler irrigation) mampu mengendalikan kutu kebul Bemisia tabaci Gennadius pada kedelai. Percikan air dari sprinkler menyebabkan kutu kebul tidak dapat bertahan lama pada daun dan menyebabkan kerusakan yang lebih rendah. Demikian hasil analisis terhadap penelitian di Jawa Timur terhadap kutu kebul. Pengalaman di Kebun Percobaan Kendalpayak juga menunjukkan bahwa hama kutu daun tanaman ubikayu yang muncul saat udara kering pada musim kemarau dapat dikendalikan dengan penyemprotan air saja. Artinya dengan mekanisme penyemburan air, hama dapat dihalau dari daun.
Pengairan sistem curah dapat dapat mengurangi intensitas serangan kutu kebul serta dapat menekan kehilangan hasil akibat serangan kutu kebul.Tanaman kedelai yang terserang kutu kebul daunnya menjadi keriting dan apabila serangan parah disertai dengan infeksi virus daun keriting berwarna hitam dan pertumbuhan tanaman terhambat. Ekskreta kutu kebul menghasilkan embun madu yang merupakan medium tumbuh cendawan jelaga, sehingga tanaman sering tampak berwarna hitam. Hal ini menyebabkan proses fotosintesis pada tanaman kedelai tidak normal. Kutu kebul selain merusak tanaman secara langsung juga sebagai serangga vektor virus penular penyakit Cowpea Mild Mottle Virus (CMMV) pada kedelai dan kacang-kacangan lain. Di Jawa Timur terdapat enam strain virus yang menyerang tanaman kedelai yaitu CPMMV, BICMV, BYMV, SSV, PStV dan SMV. Semua virus tersebut ditransmisikan melalui vektor serangga seperti Bemisia tabaci. Infeksi virus pada tanaman kedelai pada umumnya menghasilkan gejala yang serupa yakni klorosis, belang, dan mosaik pada daun, daun keriput sehingga sulit dibedakan. Serangan kutu kebul yang parah akan menyebabkan tanaman kerdil, daun keriput, dan puso. Kehilangan hasil akibat serangan hama kutu kebul B. tabaci dapat mencapai 80%, bahkan puso. Intensitas serangan kutu kebul diukur dari kerusakan pada daun yang disebabkan oleh kutu kebul, baik secara langsung maupun akibat virus yang ditularkan oleh kutu kebul. Rata-rata intensitas serangan kutu kebul pada petak dengan pengairan sprinkler lebih rendah dibanding pada petak pengairan dengan irigasi melalui tanah. Meskipun populasi kutu kebul pada petak berpengairan model sprinkler lebih tinggi, namun ternyata intensitas serangan kutu kebul pada petak ini lebih rendah. Hal ini menunjukkan percikan air dari sprinkler menyebabkan kutu kebul tidak dapat bertahan lama pada daun dan menyebabkan kerusakan yang lebih rendah. Rata-rata kerusakan daun pada pengairan dengan sprinkler lebih rendah berturut-turut pada umur 22, 36, 50, dan 63 hari dengan intensitas serangan 5,7%, 5,7%, 22,2%, dan 25,4%. Pada areal petak dengan pengairan melalui tanah intensitas serangannya mencapai 7,5% (umur 22 hari), 26,8% (umur 36 hari), 35,2% pada umur , 50 hari, dan 41,8% pada umur 63 hari. Hasil biji kedelai pada sistem pengairan curah juga lebih tinggi (1,9 t/ha) daripada sistem pengairan melalui tanah yang menghasilkan bibi kedelai 1,4 t/ha.Prof Marwoto/AW