Berita » Pengembangan Budi Daya Kedelai di Bawah Tegakan Jati

Gambar 1. Kegiatan tanam superimpose budi daya kedelai di bawah tegakan kayu jati. RPH Gendongan, BKPH Ngapus, KPH Blora, Provinsi Jawa Tengah.

Gambar 1. Kegiatan tanam superimpose budi daya kedelai di bawah tegakan kayu jati. RPH Gendongan, BKPH Ngapus, KPH Blora, Provinsi Jawa Tengah.

Tahun 2018 telah ditetapkan sebagai Tahun Perbenihan. Balitkabi selaku lembaga penelitian yang memiliki mandat memproduksi kedelai, mengerahkan segala sumber daya yang ada untuk mensukseskan Tahun Perbenihan guna mencapai swasembada kedelai.

Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah pengembangan teknologi budi daya kedelai di bawah naungan (BUDENA) berbagai jenis tanaman tahunan, salah satunya adalah tanaman Jati. Lahan di bawah tegakan Jati yang berumur 2 tahun sangat potensial untuk ditanami kedelai. Program BUDENA dilakukan di Kabupaten Blora, Jawa Tengah pada lahan hutan jati seluas sekitar 40 ha. Dari lahan seluas 40 ha tersebut, sebanyak 38 ha digunakan untuk kegiatan pengembangan, sedangkan dua hektar lainnya digunakan untuk kegiatan superimpose budi daya kedelai di bawah tegakan kayu jati.

Pengembangan budi daya kedelai pada lahan naungan ini melibatkan sekitar 94 pesanggem (petani penggarap) yang tergabung dalam satu LMDH (Lembaga Masyarakat Daerah Hutan) dan tersebar di tiga petak (petak 53, 54a, 57b) wilayah hutan jati RPH Gendongan, BKPH Ngapus, KPH Blora, Provinsi Jawa Tengah. Varietas unggul kedelai yang digunakan dalam kegiatan superimpose adalah Dena 1, Dega 1, Argomulyo, dan Anjasmoro yang ditanam dengan dua teknologi jarak tanam (JARWO/jajar legowo 50 x 30 x 15 cm, dan jarak tanam normal 40 x 15 cm). Sebagai pembanding adalah teknologi petani dengan menggunakan varietas lokal dengan jarak tanam sesuai cara petani pesanggem.

Selama ini, pola tanam petani pesanggem lokal di Desa Tlogowungu sebagian besar adalah padi-padi-jagung, sangat sedikit yang menanam kedelai dengan pola tanam padi-padi-kedelai yaitu hanya sekitar 5%. Hal tersebut disebabkan oleh harga kedelai yang kurang bersahabat dengan petani. Kedelai yang ditanam adalah lokal Tlogowungu dengan potensi hasil 1,7–1,9 t/ha (lahan sawah) dan 0,8–1,2 t/ha (lahan kering).

Kegiatan Budena di bawah tegakan Jati dimulai pada awal bulan Februari 2018 dan dilakukan penanaman secara bertahap. Kegiatan tanam pertama dilakukan pada petak superimpose di lahan garapan Pak Sutomo di petak 53 dengan tegakan kayu jati berumur sekitar 2 tahun (Gambar 1). Tantangan yang dihadapi saat tanam adalah sebagian tegakan kayu jati yang posisinya tidak lurus sehingga menyulitkan pengaturan jarak tanam. Kondisi tersebut menyebabkan kegiatan tanam kedelai berjalan lebih lama dibanding penanaman di lahan terbuka.

Meskipun demikian, Balitkabi tetap berkomitmen untuk mengawal pertanaman BUDENA dengan sepenuh hati. Perawatan dan pengendalian secara intensif tetap diperhatikan. Saat ini, umur tanaman ada yang sudah mencapai 23 HST (Hari Setelah Tanam) (Gambar 2). Semoga tanaman kedelai dapat tumbuh dengan baik dan membawa manfaat bagi petani.

Gambar 2. Keragaan tanaman kedelai pada umur 23 HST di bawah tegakan kayu jati, Blora.

Gambar 2. Keragaan tanaman kedelai pada umur 23 HST di bawah tegakan kayu jati, Blora.

Shrtn/DS/SAR