Berita » Pengembangan Kacang Tanah dan Ubijalar melalui Skema CF-SKR

jica1

Di tengah upaya peningkatan produksi tanaman pangan khususnya guna mencapai swasembada pajale (padi, jagung, dan kedelai) sebagai konsekuensi terhadap janji politik Nawa Cita, Kementan melalui Dirjentan sangat menyadari bahwa komoditas pangan yang lain juga penting dan tidak boleh diabaikan. Di antara tujuh komoditas pangan utama, kacang tanah dan ubijalar dalam kurun waktu empat tahun terakhir menunjukkan penurunan produksi yang mengkhawatirkan, sehingga dipandang perlu untuk melakukan tindakan serius guna mempertahankan atau bahkan dapat meningkatkan produksi kedua komoditas tersebut. Terkait dengan masalah tersebut, Dr. Hasil Sembiring selaku Dirjen Tanaman Pangan dalam kesempatan Sosialisasi Pelaksanaan Kegiatan Aneka Kacang dan Umbi melalui CF-SKR yang diselenggarakan di Bandung tanggal 6–8 April 2016 menegaskan bahwa ketersediaan dana hibah CF-SKR yang terbatas harus dapat dimanfaatkan dengan tepat guna dan mencapai sasaran, sehingga tidak mengecewakan negara pemberi hibah.

Counterpart Fund Second Kennedy Round (CF-SKR) merupakan dana hibah dari negara Jepang yang diberikan sebagai hibah murni (grant) bukan pinjaman lunak (soft loan) ke negara Indonesia melalui Japan International Cooperation Agency (JICA). Kegiatan hibah CF-SKR JICA khususnya ubijalar sangat seiring dari mulai kegiatan penelitian dari hulu hingga bisnis ubijalar menyangkut ekspor pada hilirnya. Misalnya perkebunan ubijalar di Lampung yang dikelola oleh petani maupun oleh perusahaan Mitsui dengan Toyota Bio untuk tujuan ekspor ke Jepang guna penyediaan bahan baku socu (beverage food grade bio-ethanol) yang sangat memerlukan bahan baku ubijalar varietas berkadar pati dan bahan kering tinggi. Keberlanjutan sistem agribisnis ubijalar tersebut, sangat tergantung dari ketersediaan bahan baku yang dihasilkan oleh kebun maupun petani. Selain permintaan perusahaan dari Jepang, permintaan ubijalar yang terus meningkat juga disikapi oleh Indo Woo, sebuah perusahaan dari Korea yang berusaha mengekspor ubijalar dalam bentuk pasta beku (frozen paste) ke Korea, China dan Jepang dengan target rata-rata 500–600 ton/bulan. Namun target tersebut sangat sulit dipenuhi, oleh karena itu inovasi teknologi budidaya yang menjamin produktivitas tinggi menjadi kunci keberhasilan program tersebut. Sebagai Pusat Unggulan Iptek (PUI) Aneka Kacang dan Umbi, Balitkabi diharapkan dapat mengawal diseminasi inovasi teknologi hingga diterapkan oleh petani dalam skala luas sesuai target (sasaran) proyek.

Kendala utama dalam pelaksanaan proyek CF-SKR JICA terutama adalah penyediaan benih kacang tanah maupun bibit ubijalar berlabel. Namun dalam proyek ini terdapat persyaratan yang agak longgar dengan menetapkan paling tidak 20% benih atau bibit berlabel, dengan demikian sisanya swadaya dari kelompok tani. Persoalan bagi ubijalar, jika ingin kelompok tani aman dan nyaman dalam budidaya hingga jaminan pasar jelas, maka varietas yang ditanam harus sesuai dengan kemauan pasar. Lain halnya dengan kacang tanah, permasalahan tidak rumit, sebab semua varietas dapat diterima oleh pasar. Sehingga untuk ubijalar, sebaiknya orientasi pasar yang telah dilakukan oleh perusahaan pengekspor ke Jepang, Korea dan China layak untuk dipertimbangkan. Sebagai contoh penggunaan varietas Beniazuma maupun Asih Putih (Kuningan Putih) yang keduanya juga telah dilepas sebagai varietas unggul nasional dapat dianjurkan ke kelompok tani untuk ditanam, sebab segmen pasar telah sangat jelas.

Proyek ini sesungguhnya telah dimulai sejak 2008 dan tahun 2016 periode terakhir. Untuk tahun 2016, pelaksanaan akan segera dimulai pada bulan April hingga Desember 2016. Kegiatan akan dilaksanakan di lima Provinsi yaitu Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Masing-masing komoditas akan memerlukan lahan seluas 550 ha (kacang tanah) dan 500 ha (ubijalar). Benih kacang tanah yang dibutuhkan sejumlah 120 kg/ha polong kering atau setara 80 kg/ha biji kupas dan ubijalar 40.000 stek batang/ha. Dirkabi dan Kasubdit ubikayu dan aneka umbi serta para Kepala Dinas Provinsi dan Kabupaten yang ketempatan proyek tersebut sangat berharap Balitkabi dapat berperan aktif dalam membantu penyediaan benih dan bibit maupun mendampingi para penyuluh dan petani agar produktivitas yang tinggi tercapai sesuai sasaran program CF-SKR JICA.


YW