Berita » Pengembangan Kedelai di PTPN V Riau

Pertemuan tim Kementerian Pertanian dengan pihak PTPN V Rokan Hulu

Percepatan peningkatan produksi kedelai nasional memang harus dilakukan untuk memenuhi meningkatnya kebutuhan kedelai nasional yang terus menerus setiap tahun. Beragam upaya ditempuh, salah satunya dengan perluasan areal ke luar Jawa atau memanfaatkan lahan perkebunan dan kehutanan.

Diinisiasi oleh Direktorat Jenderal PSP, dilakukan diskusi pengembangan kedelai di PTPN V di Rokan Hilir Provinsi Riau, 27 Februari 2013 di Ditjen PSP Kementerian Pertanian. Diskusi dipimpin oleh Dirjen PSP (Dr Sumarjo Gatot Irianto), dihadiri oleh Badan Litbang Pertanian (Dr Kasdi Subagyono dan Prof. Dr. Marwoto) dan Ditjen Tanaman Pangan (Renata Damanik SP. MM dan Ir. Indri Hastuti MM). Luas areal perkebunan kelapa sawit yang berumur muda dan replanting cukup luas. PTPN V telah melakukan pengembangan kedelai seluas 5 ha di Kebun Inti PTPN V tahun 2012, namun tanaman tumbuh subur, berpolong namun tidak menghasilkan biji. Mengingat potensi areal cukup luas, Dirjen PSP memandang perlu segera dilakukan observasi lapang untuk pengembangan kedelai di PTPN V.

Pertemuan tim Kementerian Pertanian dengan pihak PTPN V Rokan Hulu

PTPN V Rokan Hilir memiliki potensi areal replanting kelapa sawit seluas 706 ha di Desa Dayo dan 880 ha di Desa Bono Tapung. Kendala dalam pengembangan kedelai di Kebun plasma inti adalah tenaga kerja, sehingga potensi untuk pengembangan kedelai disarankan pada kebun plasma yang dikerjakan oleh petani plasma. Hasil investigasi lapang, yang juga diikuti oleh BPTP Riau dan Dinas Pertanian, tidak berpolongnya kedelai disebabkan komponen teknologi yang diterapkan kurang memenuhi syarat dengan kondisi lahan yang tanahnya masam dengan pH 4-5, dan memiliki unsur hara P, K dan bahan organik rendah. Rekomendasi sementara yang dianjurkan mencakup: (a) Pengapuran dengan Kapur Pertanian dengan dosis 1.000–1500 kg/ha, Pupuk kandang/kompos >2000 kg/ha, N (Urea) 50–75 kg, P (SP36) 200 kg/ha, K (KCl) 75–100 kg/ha.

Badan Litbang Pertanian, telah meramu inovasi teknologi budidaya kedelai untuk berbagai agroekosistem, termasuk untuk lahan kering masam. Varietas kedelai adaptif lahan kering masam yang dilepas Badan Litbang Pertanian pada kurun 2001–2004 adalah Tanggamus, Nanti, Sibayak, Seulawah, dan Ratai. Pengembangan kedelai varietas kedelai berbiji besar Anjasmorodi bawah tegakan kelapa sawit di Sumatera Utara mampu memberikan hasil biji sekitar 2,0 t/ha.

Kunjungan tim Kementan ke perkebunan sawit yang berumur tua (25 -30 tahun) yang akan di replanting

Sosialisasi teknologi budidaya kedelai diperlukan untuk petugas dan petani plasma, yang selama ini belum berpengalaman dengan budidaya kedelai. Badan Litbang Pertanian melalui BPTP Riau dan didukung oleh Balitkabi akan menggelar teknologi kedelai seluas 10 ha pada acara Pekan Daerah (PEDA) 2013, yang penanamannyaakan dilakukan pada akhir Maret 2013, dengan benih FSasal Balitkabi. Hasil kedelai dari PEDA diharapkan menjadi sumber benih pada pengembangan kedelai di PTPN V.

Prof. Marwoto/MMA/AW