Berita » Pengembangan LLIP di Belu NTT

Kondisi pertanian di Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki banyak keterbatasan sumberdaya baik sumberdaya manusia, sarana dan prasarana maupun permodalan. Kondisi ini menjadi kendala serius dalam upaya percepatan pembangunan pertanian di NTT.

Petani pada umumnya menanam banyak tanaman tradisional dalam satu lahan secara bercampuran seperti jagung, padi ladang, aneka kacang, atau aneka labu. Mereka sering dijuluki sebagai petani lahan kering, karena sebagian besar wilayah pertanian NTT adalah wilayah iklim kering dengan jumlah curah hujan tahunan rendah atau kurang dari 1500 mm/tahun yang merupakan total dari 3 sampai 4 bulan basah (Desember sampai Maret).

Oleh karena itu, karakteristik sistem pertanian di NTT adalah pertanian lahan kering beriklim kering. Desa Tohe Kecamatan Raihat, Desa Lamaksanulu dan Desa Makir Kecamatan Lamaknen yang terletak di Kabupaten Belu merupakan daerah pertanian yang prospektif untuk dikembangkan.

Selain letaknya yang merupakan daerah perbatasan dengan pemerintah RDTL, kawasan pertanian di daerah ini juga mendapatkan kecukupan air pengairan sehingga sangat cocok untuk dikembangkan sebagai daerah lumbung pangan di Provinsi NTT.

Sejalan dengan hal tersebut kebijakan pemerintah untuk mewujudkan swasembada pangan, mengembangkan inovasi pertanian di wilayah perbatasan, dan menindaklanjuti kegiatan yang telah dilakukan oleh BPTP NTT, maka kegiatan Laboratorium Lapang Inovasi Pertanian akan dilaksanakan di Desa Tohe, Kecamatan Raihat, Desa Lamaksanulu dan Desa Makir Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu NTT, pada musim tanam 2015. Diharapkan dari kegiatan ini pengembangan tanaman pangan di daerah perbatasan menjadi lebih baik dan dapat meningkatkan taraf pendapatan petani.

Suasana baseline survey Desa Tohe Kec. Raihat (kiri) dan Desa Lamaksanulu dan Makir Kec. Lamaknen (kanan).

Suasana baseline survey Desa Tohe Kec. Raihat (kiri) dan Desa Lamaksanulu dan Makir Kec. Lamaknen (kanan).

Baseline survey yang dilakukan pada 9‒12 April 2014 menghasilkan informasi bahwa di lokasi LLIP kebanyakan masih menggunakan teknologi yang sangat sederhana terutama di Desa Lamaksanulu dan Makir, dengan pola tanam tradisional sehingga hasil yang diperoleh sangat rendah.

Sebagai contoh, padi di kedua desa ini hanya mampu menghasilkan 1‒2 t/ha, jagung 0,5 t/ha, kacang tanah hanya 0,5‒0,6 t/ha, sedangkan kacang hijau menghasilkan 0,1‒0,2 t/ha. Hal ini terjadi karena pengolahan tanah dilakukan dengan cara “rencah” yaitu dengan melepaskan banyak sapi di areal persawahan, cara tanam sederhana, benih yang digunakan kebanyakan milik sendiri yang sudah turun temurun, tanpa ada penyiangan dan pengendalian HPT masih sederhana.

Lahan bukaan baru Desa Tohe (kiri) dan pola tanam jajar legowo 2‒1 di lahan bukaan baru Desa Tohe (kanan).

Lahan bukaan baru Desa Tohe (kiri) dan pola tanam jajar legowo 2‒1 di lahan bukaan baru Desa Tohe (kanan).

Berbeda dengan Desa Lamaksanulu maupun Makir, di Desa Tohe Kecamatan Raihat, sistem budidaya sedikit lebih baik. Sistem budidaya tanaman sudah mengikuti anjuran budidaya pada umumnya sejak program yang dilakukan oleh BPTP NTT pada tahun 2014.

Petani sudah mengolah tanah dengan bajak, benih yang digunakan sudah bersertifikat, sehingga pada MT 2014 produktivitas padi Inpari 6 dapat mencapai 6 t/ha. Pada tahun 2015 sudah dilakukan pendampingan oleh Puslitbang TP dalam rangkaian LLIP, yaitu dengan menanam padi pada lahan bukaan baru dengan sistem jajar legowo 2‒1.

Diharapkan ke depan produktivitas tanaman pangan mengalami peningkatan baik padi maupun palawija terutama di daerah perbatasan dengan negara RDTL. Selain tanaman pangan, di lokasi LLIP juga akan dikembangkan ternak, mengingat hampir semua rumah tangga memiliki hewan ternak baik sapi, babi maupun ayam. Pemeliharaan ternak masih tradisonal dengan melepaskan begitu saja hewan peliharaan, sehingga apabila dikelola dengan baik maka hasil yang diperoleh juga akan lebih baik.

Pertanaman padi pada MH Desa Lamaksanulu (kiri), pada MK lahan tidak ditanami (kanan).

Pertanaman padi pada MH Desa Lamaksanulu (kiri), pada MK lahan tidak ditanami (kanan).

Mudah-mudahan dengan adanya program LLIP ini, minat dan semangat petani di lokasi kegiatan dapat meningkat lebih baik dan mampu menginisiasi perubahan di sekitar wilayah perbatasan. Semoga……

Dr. Rudi Iswanto