Berita » Pengembangan Tumpangsari Padi Gogo dalam Mendukung Percepatan LTT di Jawa Timur

Gambar 1. Kondisi Pertanaman padi gogo tumpangsari dengan jagung.

Gambar 1. Kondisi Pertanaman padi gogo tumpangsari dengan jagung.

Total produksi beras tahun 2018 sebesar 32,42 juta ton, sementara konsumsi beras di Indonesia dari Januari hingga Desember 2018 diperkirakan 29,57 juta ton. Sehingga surplus produksi beras di Indonesia tahun 2018 diperkirakan sekitar 2,85 juta ton (BPS 2018). Upaya mewujudkan percepatan Luas Tambah Tanam (LTT) dan pengembangan tumpangsari padi gogo-jagung atau kedelai pada lahan kering di Jawa Timur, Dirjen Tanaman Pangan meluncurkankan program pengembangan Tumpang Sari Padi Gogo-Jagung atau Kedelai pada lahan kering (Gambar 1). Dirjen Tanaman Pangan terus melakukan koordinasi dengan BPTP Jawa Timur, Balitkabi, Dinas Pertanian tingkat I dan II Provinsi Jawa Timur. Pada bulan Oktober 2018 tim Balitkabi secara berkesinambungan berkoordinasi dengan pihak terkait, khususnya Diperta Tk. II, Mantri Tani, PPL, dan TNI. Prof. (Riset) Dr. Didik Harnowo, M.Sc. dan Imam Sutrisno, S.P., M.M. melakukan kegiatan dalam acara koordinasi, evaluasi, dan diskusi untuk pengambilan solusi untuk menghadapi permasalahan dalam pengawalan program di atas. Acara berlangsung di Dinas Pertanian Pasuruan dan Kodim 0819 Pasuruan (Gambar 2).

Gambar 2. Koordinasi dengan Ka Subag Pengelolaan Data Diperta Tk.II dan Pasiter Kodim 0819 Pasuruan.

Gambar 2. Koordinasi dengan Ka Subag Pengelolaan Data Diperta Tk.II dan Pasiter Kodim 0819 Pasuruan.

Koordinasi selanjutnya dilakukan di Diperta Tk.II Probolinggo, Kodim 0820, dan BPP Kec. Krucil (Gambar 3).

Gambar 3. Koordinasi dengan Pasiter Kodim 0820 (kiri) dan Kepala BPP Krucil (kanan).

Gambar 3. Koordinasi dengan Pasiter Kodim 0820 (kiri) dan Kepala BPP Krucil (kanan).

Menurut informasi Diperta Tk.II Probolinggo perkiraan musim hujan sekitar bulan awal Nopember 2018. Krucil memiliki ketinggian antara 300‒400 m dari permukaan laut. Pertanaman padi gogo di Krucil seluas 100 ha potensi hasil padi gogo sekitar 2‒3 t/ha. Sementara wilayah Tiris adalah wilayah padi gogo yang memiliki ketinggian 300 m dari permukaan laut dengan potensi hasil 3‒3,5 ton/ha. Pada bulan Januari‒Februari 2018, petani Kecamatan Krucil telah menanam padi gogo di lahan kering di tiga Desa. Kondisi pertanaman padi ditunjukkan pada Gambar 4.

Gambar 4. Kondisi pertanaman padi gogo monokultur dan di bawah tegakan pohon Sengon.

Gambar 4. Kondisi pertanaman padi gogo monokultur dan di bawah tegakan pohon Sengon.

Hasil koordinasi Balitkabi dengan Diperta Tk.II Kabupaten Malang, Pasuruan, dan Probolinggo pada bulan Oktober 2018, yaitu: (1) Usulan kebutuhan benih padi gogo, jagung, dan kedelai, yang sesuai target Diperta Tk.II Malang, Pasuruan, Probolinggo ke Dirjen Tanaman Pangan (pada minggu ke dua bulan Oktober 2018), (2) Identifikasi sasaran alokasi penanaman padi gogo, tumpangsari padi gogo dengan Jagung/Kedelai (Tabel 1), (3) Diperta Tk. II terkait melakukan sosialisasi tentang metode penanaman tumpangsari padi gogo – jagung/kedelai, (4) Tim Upsus BPTP Jatim, Balitkabi, dan Diperta Tk.II Malang, Pasuruan, dan Probolinggo menyusun bahan dan jadwal dalam melakukan sosialisasi dan pelatihan bagi petani yang akan tanam Teknologi Tumpangsari Padi Gogo.

Tabel 1. Sasaran alokasi penanaman padi gogo dan tumpangsari padi gogo-jagung/kedelai.
Kabupaten Komoditi Kecamatan sasaran
Malang Padi Gogo (565 ha) Gedangan
Padi Gogo-Kedelai (60 ha) Gedangan
Kedelai (2.000 ha) Kalipare, Wagir, Kromengan, Pagelaran, Lawang, Singosari, Pakis, Ampel Gading, Pujon, Ngantang
Pasuruan Padi Gogo (1.275 ha) Gempol, Kejayan, Rembang, Wonorejo, Sukorejo, Grati, Nguling
Probolinggo Jagung-Kedelai (50 ha) Kraton
Padi Gogo (275 ha) Wonomerto, Maron, Lumbang
Padi Gogo-Jagung (350 ha) Tiris, Krucil

IS/DH