Berita » Pengembangan Ubikayu di Lahan Perhutani

a_blora

Kebutuhan ubikayu dalam negeri untuk bahan baku industri terus meningkat, dan saat ini nilai ekonomi ubikayu cukup menjanjikan. Badan Litbang Pertanian melalui Balitkabi, pada tahun 2013, melakukan uji teknologi budidaya ubikayu di lahan Perhutani di KPH Blora (Perhutani Unit I Jawa Tengah) dan di KPH Blitar (Perhutani Unit II Jawa Timur) masing-masing seluas 2 ha. Teknologi yang diuji terdiri dari input rendah (90 kg N, 76 kg P2O5, 90 kg K2O) input sedang (112,5 kg N, 108 kg P2O5, 120 kg K2O) dan input tinggi (180 kg N, 144 kg P2O5, 150 kg K2O, 5 ton pukan) dengan menggunakan lima varietas ubikayu yaitu Malang 4; Adira 4; Litbang UK 2; UJ 5; dan Cecek Ijo (belum dilepas sebagai varietas unggul).


Observasi lapang, (18–19 April 2013) yang dilakukan oleh peneliti Baitkabi, Prof. Dr. Nasir Saleh bersama dengan Kepala Balitkabi serta Administratur KPH Blora (Ir. Joko Sunarto) beserta beberapa staf KPH Blora, keragaan tanaman ubikayu cukup bagus. ADM KPH Blora menyampaikan bahwa pengembangan ubikayu di lahan perhutani menjanjikan, dari sisi peningkatan pendapatan dan tidak mengganggu tanaman utamanya. Pembuktiannya, dilakukan pemantauan secara terus menerus oleh Pak Joko melalui perkembangan lingkar batang, penutupan tanaman utama dan tinggi tanaman jati sebagai tanaman utamanya. Bahkan pada saat kunjungan lapang tersebut, beberapa varietas ubikayu diobservasi perkembangan ubi yang terbentuk.

Analisis sementara oleh Prof. Nasir Saleh, dari tiga paket teknologi yang dicobakan, input sedang lebih prospektif untuk dikembangkan. Juga disampaikan keunggulan dan kelemahan dari lima varietas yang diujicobakan. Melihat keragaan tanaman ubikayu di KPH Blora, KPH Blora merencanakan untuk melakukan pengembangan yang lebih luas pada musim yang akan datang. Bahkan Pak Joko mengharapkan adanya temu lapang dan panen perdana pengembangan ubikayu di lahan Perhutani pada akhir September atau awal Oktober 2013. Semoga berhasil.

MMA/AW