Berita » Pengembangan Ubikayu di Lembah Napu-Poso dan Potensi Faktual Iletrisoy

Situasi lahan Lembah Napu-Poso dan panorama lingkungan sekitarnya.

Lembah Napu, wilayah Poso, Sulawesi Tengah, merupakan kawasan berfisiografi lembah dan gumuk-gumuk berukuran kecil hingga sedang serta dikelilingi oleh rantaian pegunungan sehingga memiliki panorama alam yang indah. Bentuk vegetasi di permukaan lahan merupakan tanaman gulma yang tumbuh alami, dihiasi oleh puing-puing tanaman teh bekas pertanaman sebelumnya. Kondisi fisiografi di atas menjadikan lahan tersebut rawan erosi aliran permukaan (run off). Sebagian lembah yang menjadi hak konsesi salah satu perusahaan, (PT Anugerah Semesta Abadi) meliputi luasan sekitar 40.000 ha, potensial untuk pengembangan pengembangan ubikayu. Di samping itu, dengan keelokan lingkungannya, kawasan ini layak diagrowisatakan. Demikian paparan Prof Sudaryono, pada seminar intern Balitkabi, Jumat, 9 Maret 2013.

Model pembangunan pertanian dengan pendekatan holistik di Napu akan memiliki kontribusi yang nyata terhadap percepatan pembangunan koridor ekonomi nasional (MP3EI; Master Plan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia) di wilayah Sulawesi. Terdapat sebelas lini agribisnis yang dapat dirangkai mulai dari hulu sampai ke hilir, yaitu: (1) Perkebunan Ubikayu (cassava Plantation), (2) Pabrik tepung Ubikayu (cassava Flour Manufacture), (3) Pabrik Bahan Bakar Hayati (Bio-fuel Manufacture), (4) Koleksi Sumberdaya Genetik Ubikayu (Genetic Resource Cassava Collection; Germplasm), (5) Usahatani Ternak (Cattle Farming, Meat), (6) Pupuk Organik (Organic Manure), (7). Unit Produksi Gas Biologi (Bio-Gas Unit), (8). Sistem Pengeringan Gas-Biologi (Bio-gas Drying System), (9). Wisata Pertanian (Agrowisata), (10) Industri Pariwisata (Tourism Industry), dan (11). Pusat Pelatihan Agroindustri dan Agrowisata (Training Center of Agroindustry and Agro-tourism).

Situasi lahan Lembah Napu-Poso dan panorama lingkungan sekitarnya.

Selain paparan Prof. Sudaryono, pada seminar intern ini, Prof. Arif Harsono, peneliti ekofisiologi menyampaikan materi kajian keefektifan pupuk hayati Iletrisoy pada kedelai di lahan masam dan nonmasam. Dalam paparannya Prof Arif Harsono menyampaikan bahwa kajian keefektifan pupuk hayati pada tanaman kedelai ini diprakarsai oleh Komite Inovasi Nasional (KIN), melibatkan inventor dari Badan Litbang Pertanian (Balitkabi dan Balittanah), LIPI, BPPT, dan IPB. Penelitian dilaksanakan selama dua musim tanam (MT), mulai MT 2011/2012 di lahan masam dengan pemikiran bahwa lahan masam dari segi luasan ke depan mempunyai potensi besar untuk pengembangan kedelai. Di lahan masam, kejenuhan Al-dd tinggi, kesuburan tanah dan populasi biota tanah rendah sering menjadi kendala produksi kedelai. Pada MT 2012, penelitian dilanjutkan di lahan masam dan nonmasam dengan tujuan menera keefektifannya di lahan nonmasam, karena saat ini areal tanam kedelai sebagian besar masih berada di lahan nonmasam.

Perbandingan keragaan Iletrisoy dan pembandingnya di pot dan di lapang.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Pupuk hayati Iletrisoy, Agrimeth, Kedelai Plus, Starmix, Probio dan Biopeat mampu meningkatkan hasil kedelai dibanding teknologi budidaya yang biasa diterapkan petani di lahan masam maupun nonmasam, 2) Pupuk hayati Iletrisoy yang disertai pupuk organik Santap 1,5 t/ha + ½ dosis pupuk K (50 kg KCl/ha di lahan masam dan 25 kg KCl/ha di lahan nonmasam), dapat memacu pembentukan bintil akar sangat nyata, memperbaiki pertumbuhan tanaman, dan meningkatkan hasil kedelai sama bahkan lebih baik dibanding dipupuk NPK rekomendasi, 3) Pupuk hayati Probio + 1,5 t/ha kompos Probio dapat memperbaiki pertumbuhan tanaman dan meningkatkan hasil kedelai di lahan masam dan nonmasam sama dengan dipupuk NPK rekomendasi, meskipun tidak dapat memacu pembentukan bintil akar, 4) Pupuk hayati Kedelai Plus + Biovam, Byonic-Starmix, dan Agrimeth, masing-masing ditambah pupuk ½ NPK rekomendasi dan pupuk kandang 2 t/ha, Biopeat 1,8 t/ha + 0,83 t/ha pupuk kandang + ½ dosis pupuk NPK dapat memperbaiki pertumbuhan tanaman dan meningkatkan hasil kedelai di lahan masam dan nonmasam, meskipun di lahan masam belum dapat memacu pembentukan bintil akar tanaman kedelai, 5) Kelayakan finansial (rasio B/C) aplikasi beberapa pupuk hayati pada tanaman kedelai lebih tinggi daripada SOP petani. Tingkat kelayakan finansial tertinggi diperoleh pada penggunaan pupuk hayati Iletrisoy, diikuti oleh pupuk hayati Kedelai Plus dan Biopeat, 6) Pupuk hayati Probio, Agrimeth, dan Bionic-Starmix secara finansial belum layak untuk diaplikasikan untuk peningkatan hasil kedelai baik di lahan masam maupun nonmasam, 7) Petani mengharapkan SOP aplikasi pupuk hayati dapat lebih sederhana dan tidak membutuhkan tenaga banyak.

Sagit/AW