Berita » Pengendalian OPT Memanfaatkan Kearifan Lokal

Penerapan teknologi spesifik lokasi merupakan upaya pengamanan produksi dari serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT), yang hingga saat ini telah dilaksanakan di lapang dalam bentuk rakitan teknologi Pengendalian Hama Terpadu. Untuk mengetahui efektivitas dari pelaksanaan penerapan teknologi tersebut, Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan Ditjen Tanaman Pangan menyelenggarakan “Evaluasi Pelaksanaan Teknologi Pengendalian OPT Spesifik Lokasi” di Malang (1-4/10). Evaluasi yang bertujuan untuk membahas penerapan teknologi pengendalian OPT di daerah asal peserta, diikuti oleh 70 orang, terdiri dari kepala Laboratorium Pengamat Hama dan Penyakit dari seluruh Indonesia. Nara sumber yang memberikan materi antara lain Prof. Dr. Aunu Rauf dari IPB, Prof Marwoto dari Balitkabi, dan Ir. Erma Budiyanto MS, Direktur Perlindungan Tanaman Pangan Ditjen Tanaman Pangan.
Prof. Rauf menyatakan bahwa penerapan teknologi pengendalian OPT memerlukan pemahaman ekologi sebagai dasar untuk menciptakan sistem pertanian berkelanjutan dari sisi produksi, efisiensi, kestabilan dan ketangguhan (resiliensi) ini merupakan dasar dari penerapan PHT berkelanjutan. Penerapan pengendalian OPT spesifik lokasi perlu menggali kearifan lokal, khususnya agens hayati di lokasi yang bersangkutan. Ekplorasi dan identifikasi agens hayati perlu diuji keefektifannya yang selanjutnya digunakan sebagai komponen teknologi pengendalian OPT spesifik lokasi. Keuntungan penggunaan agens hayati lokal antara lain adalah efektif, adaptif, dan mudah didapatkan.Prof. Marwoto dari Balitkabi menjelaskan bahwa pengendalian hayati diperlukan karena: 1) di ekosistem tidak ada jenis musuh alami yang efektif mengatur populasi hama, 2) kepadatan musuh alami setempat rendah sehingga tidak dapat memberikan respons numerik cepat dalam mengimbangi peningkatan populasi hama, 3) sebagai akibat terjadinya perubahan iklim yang menguntungkan perkembangan populasi hama. Setelah pemaparan materi dari para nara sumber sebagai landasan dari penerapan teknologi pengendalian OPT spesifik lokasi, para peserta menyampaikan pengalaman penerapan teknologi pengendalian OPT spesifik lokasi dari beberapa daerah provinsi di Indonesia. Selanjutnya pada hari berikutnya peserta mengunjungi Gelar Teknologi Pengendalian Hayati di Balitkabi Malang.Prof. Marwoto/AW