Berita » Penguatan Penangkar Kedelai di Kalsel

Provinsi Kalsel sebetulnya memiliki potensi untuk pengembangan kedelai. Pada tahun 2015 target pengembangan kedelai di Kalsel seluas 19.500 ha dengan produktivitas 1.39 t/ha. Untuk mendukung sukses pengembangan kedelai di Kalsel, BPTP Kalsel melaksanakan Workshop Penguatan Penangkar dalam Memroduksi Benih Kedelai, di Banjarbaru 30 Juli – 1 Agustus 2015.

Workshop diikuti oleh 36 peserta berasal dari 11 kabupaten, terdiri dari 11 petugas Dinas Pertanian, 21 penangkar dan calon penangkar, serta 4 orang dari KP lingkup BPTP Kalsel. Kepala BPTP Kalsel, Dr. Muhammad Yasin, menyampaikan bahwa dua tahun terakhir pengembangan kedelai memperlihatkan peningkatan, dan memang memerlukan penguatan perbenihan, agar ketergantungan dari luar daerah dapat dikurangi.

Diharapkan, pascaworkshop, calon penangkar dan penangkar mampu memroduksi benih benih kedelai untuk memenuhi kebutuhan di Kalsel. Menurut Kapus PSE/KP, Dr. Handewi P. Saliem, saat ini fokus pemerintah adalah swasembada Padi Jagung Kedelai (PJK), dan komoditas kedelai adalah yang dirasakan paling berat pencapaiannya. Kuncinya adalah di penangkar. Agar peran dan fungsinya dapat lebih nyata maka komunikasinya para Penangkar dengan Balitbangtan, perlu diintensifkan.

Pembukaan workshop oleh Kapus PSE/KP (kiri) dan pemaparan materi

Pembukaan workshop oleh Kapus PSE/KP (kiri) dan pemaparan materi

Paparan Kepala Balitkabi (kiri) dan diskusi dengan peserta workshop (kanan)

Paparan Kepala Balitkabi (kiri) dan diskusi dengan peserta workshop (kanan)

Penyampaian teknik produksi benih oleh MM Adie.Kepala Balitkabi, Dr. Didik Harnowo, menyampaikan materi tentang teknologi benih kedelai, menekankan 3 hal yang harus diperhatikan yakni

  1. Program swasembada benih, tugas siapa Diperta atau BPTP, perlu dirumuskan dan disinergikan,
  2. Berapa kebutuhan benih yang harus dipenuhi, dan
  3. Diidentifikasi lokasi produksi benih, termasuk musim yang paling sesuai, apakah di lahan sawah, lahan kering, apakah ada peluang jabalsim.

Muchlish Adie, pemulia kedelai Balitkabi menyampaikan topik perkedelaian nasional saat ini, perkembangan varietas kedelai, produksi benih, persyaratan tanaman sehat khususnya pengendalian ulat grayak, morfologi kedelai sebagai penciri varietas, serta kinerja UPBS Balitkabi. Ulat grayak memang menjadi ancaman produksi kedelai di Kalsel.

Peserta menyampaikan berbagai hal tentang kedelai misalnya bantuan benih kedelai yang tidak tepat musim, tidak tepat varietas, dan daya tumbuh rendah; varietas baru memang penting tapi di mana mendapatkan benihnya; Dena 1 sesuai untuk dikembangkan di Pleihari di bawah tegakan karet dan yang banyak didiskusikan adalah tatacara pengendalian ulat grayak.

Program pemerintah tentang Mandiri Benih diharapkan mampu menjawab pemenuhan benih kedelai yang memenuhi Enam Tepat. Ketergantungan benih pada daerah lain, selain berpeluang menurunkan daya tumbuh juga biaya transportasi benih mahal. Saran untuk pengendalian ulat grayak adalah:

  1. Perlu pemantauan di lapang,
  2. Melakukan pengendalian pada fase yang paling peka dari ulat grayak,
  3. Jangan terlambat, dan
  4. Pengendalian secara serempak pada satu hamparan perlu diintensifkan.

MMA/AW