Berita » Penyaringan Ketahanan Aksesi Plasma Nutfah Kedelai terhadap Penyakit Karat

Penyakit karat (Phakopsora pachyrhizi) merupakan penyakit utama pada kedelai dan tersebar luas di negara penghasil kedelai termasuk Indonesia. Kehilangan hasil akibat serangan penyakit karat dapat mencapai sekitar 85%. Oleh karena itu penyakit karat harus dikendalikan. Salah satu metode pengendalian penyakit karat yang efektif adalah dengan menanam varietas tahan. Cara memperoleh sumber ketahanan adalah dengan mencari koleksi plasma nutfah yang memiliki sumber gen ketahanan.

Pustul karat pecah dan mengeluar spora (kiri) dan spora dari Phakopsora pachyrhizi (kanan).

Pustul karat pecah dan mengeluar spora (kiri) dan spora dari Phakopsora pachyrhizi (kanan).

Sebanyak 225 aksesi plasma nutfah diuji tingkat ketahanannya terhadap penyakit karat di lapangan (KP Kendalpayak) dan 50 aksesi diuji di rumah kaca. Tanaman diinokulasi menggunakan spora dengan kerapatan 104 spora/ml. Inokulasi dilakukan pada saat tanaman berumur empat minggu setelah tanam.

Pengamatan ketahanan kedelai terhadap penyakit karat didasarkan pada metode yang dikembangkan oleh International Working Group on Soybean Rust (IWGSR). Pengamatan intensitas penyakit karat dilakukan pada umur 2, 3, dan 4 minggu setelah inokulasi.

Gejala awal penyakit karat (kiri), gejala serangan yang lebih luas (tengah), dan gejala serangan lanjut (kanan).

Gejala awal penyakit karat (kiri), gejala serangan yang lebih luas (tengah), dan gejala serangan lanjut (kanan).

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, dari 225 aksesi yang diuji di lapangan, tidak ada aksesi yang tahan terhadap penyakit karat, 218 aksesi menunjukkan agak tahan, tujuh aksesi agak rentan, dan tidak ada aksesi yang rentan. Dari percobaan rumah kaca, diketahui juga tidak ada aksesi yang tahan, sembilan aksesi agak tahan, 32 aksesi agak rentan, dan sembilan aksesi rentan terhadap penyakit karat.

Ir. Sumartini, MS (Seminar Intern tanggal 2 Maret 2015)