Berita » Peran Balitkabi dalam Bimtek Produksi Benih Kedelai di Kabupaten Tebo – Jambi

Kabupaten Tebo merupakan salah satu sentra kedelai di Provinsi Jambi. Target pengembangan kedelai pada tahun 2015 di kabupaten ini seluas 2000 ha dan merupakan daerah pengembangan kedelai terluas di Provinsi Jambi. Salah satu wilayah pengembangan kedelai di Tebo adalah di Kecamatan VII Koto.

Di Kecamatan ini sudah terdapat petani penangkar kedelai. Untuk meningkatkan pengetahuan penangkar dan calon penangkar maka Balitkabi dan BPTP Jambi mengadakan Bimtek Teknologi Produksi Benih Kedelai pada 24 November 2015.

Kegiatan ini dihadiri kurang lebih 65 orang yang terdiri dari Peneliti Balitkabi (Prof. Dr. Subandi, Ir. Bedjo, M.P., dan Dr. Andy Wijanarko), Peneliti BPTP, Kelompok Tani Dusun Baru, Penyuluh, Babinsa, penangkar dan calon penangkar kedelai di wilayah kecamatan VII Koto. Prof. Dr. Subandi dan Ir. Bedjo, M.P. masing-masing mempresentasikan teknologi produksi benih kedelai dan hama serta penyakit utama kedelai.

Para peserta bimtek sangat antusias mengikuti acara yang tercermin dalam proses diskusi. Umumnya peserta menanyakan proses perbenihan terutama tentang turunnya daya tumbuh kedelai dan cara mengatasinya serta cara pengendalian hama dan penyakit pada kedelai.

Permasalahan hama dan penyakit kedelai di wilayah VII Koto sangat banyak, hal ini terjadi karena petani menanam kedelai sebanyak 5 (lima) kali berturut-turut sehingga sangat rentan terhadap serangan hama dan penyakit. Untuk mengatasi hal tersebut disarankan untuk memutus siklus hama dan penyakit dengan rotasi tanaman selain tanaman kedelai, dengan jagung misalnya.

Terkait dengan kesuburan tanah, wilayah VII Koto tidak mengalami permasalahan yang berarti. Lahan yang digunakan untuk pertanaman kedelai merupakan daerah Alluvial (Entisol) yang berada pada pinggir-pinggir sungai Tebo.

Daerah Alluvial merupakan daerah yang cukup subur untuk budidaya kedelai. Hal tersebut terlihat dari penampilan pertumbuhan tanaman yang cukup baik. Untuk menghindari tanaman yang terlalu subur, petani di Tebo memiliki kebiasaan melakukan pemangkasan pucuk daun kedelai pada umur sekitar 3 minggu. Budidaya tanaman kedelai di wilayah ini dilakukan secara monokultur dan tumpangsari dengan tanaman jeruk.

Prof. Dr. Subandi mempresentasikan teknologi produksi benih kedelai (kiri) dan suasana diskusi tentang pengendalian hama dan penyakit utama kedelai dengan Ir. Bedjo, M.P. (kanan).

Prof. Dr. Subandi mempresentasikan teknologi produksi benih kedelai (kiri) dan suasana diskusi tentang pengendalian hama dan penyakit utama kedelai dengan Ir. Bedjo, M.P. (kanan).

Foto Bersama peserta Bimbingan Teknis dengan Peneliti Balitkabi dan BPTP Jambi.

Foto Bersama peserta Bimbingan Teknis dengan Peneliti Balitkabi dan BPTP Jambi.

AWj