Berita » Peran Balitkabi dalam FGD Sistem Perbenihan 2017

FGD Sistem Perbenihan 2017 dilaksanakan tanggal 13 Juli 2017 bertempat di Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur. FGD dihadiri oleh: UPT PSBTPH Provinsi Jawa Timur, Balitkabi, BPTP Jawa Timur, UPT Pengembangan Benih Palawija, PT Shang Hyang Seri Jawa Timur, PT Pertani Jawa Timur, HPPB Jawa Timur, serta penangkar kedelai dari Nganjuk dan Mojokerto.

Rangkaian acara FGD dimulai dengan penyampaian hasil kunjungan oleh salah satu anggota Tim Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian (Dr. Suci M) dengan pimpinan sidang Dr. Made Jana Mejaya (Puslitbangtan). Bertindak sebagai pembahas adalah Staf Ahli Menteri Pertanian Prof. Pantjar Simatupang dan Ir. Sigit Setiawan, M.M. (Direktorat Perbenihan Tanaman Pangan).

Temuan pokok dari kunjungan antara lain: (1) Perbenihan kedelai di Jawa Timur telah berjalan dengan baik, sehingga tidak ada masalah dari sisi regulasi. Pengadaan benih berawal dari Balitkabi dan berakhir di penangkar, (2) Konsumen industri (tahu dan tempe) lebih menyukai kedelai impor, karena harga lebih rendah, kontinuitas ketersediaan, keseragam (warna dan ukuran), dan kebersihan, (3) Kedelai lokal lebih disukai rumah tangga karena aspek cita rasanya, (4) Di Jawa Timur, keberlanjutan usaha penangkar perlu dikembangkan karena hanya ada dua penangkar besar di Provinsi Jawa Timur, (5) Program Balitbangtan melalui BPTP terdapat pengembangan kedelai (program on-top), dan (6) Dari sisi sosial ekonomi pertanian, kedelai kalah bersaing dengan jagung. Sehingga pengembangan kedelai ke depan diarahkan memadukan kedelai dengan jagung (tumpangsari).

Existing condition yang ada di Balitkabi adalah sampai saat ini Balitkabi telah menghasilkan 89 VUB kedelai, dalam perakitan varietas Balitkabi telah mengikuti kebutuhan agroekosistem dan permintaan pasar, Pengadaan benih di Balitkabi sangat tergantung oleh program dari pemerintah dan pada 2018 produksi BS mencapai >10 ton.

“Balitkabi harus segera meluncurkan teknologi tumpangsari antara kedelai dengan jagung dan Balitkabi harus segera merakit varietas kedelai berumur super genjah (60 HST) dapat bersaing dengan jagung”, ungkap Prof. Pantjar Simatupang. Menjawab tantangan Prof. Pantjar Simatupang, Kurnia Paramita S., S.P. (Peneliti Balitkabi) menjelaskan bahwa saat ini Balitkabi telah melakukan penelitian (on progress) tumpangsari antara kedelai dengan jagung. Apabila penelitian telah selesai, maka rekomendasi akan segera diterbitkan agar dapat dicontoh oleh para petani kedelai. Untuk kedelai super genjah, Balitkabi telah mempunyai varietas unggul baru (VUB) kedelai Dega 1, dengan umur masak 69−71 hari, dengan rata-rata hasil 2,8 ton/ha.

Pemaparan hasil kajian perbenihan di Provinsi Jawa Timur .

Pemaparan hasil kajian perbenihan di Provinsi Jawa Timur .

Mita dan Yuni