Berita » Peran Kedelai Memutus Siklus Hama pada Pola Tanam Padi

Tujuan teknik pergiliran tanaman adalah untuk memutuskan kesinambungan tersedianya makanan bagi hama pada suatu tempat yaitu dengan cara tidak menanam suatu jenis tanaman yang sama dari musim ke musim yang lain.

Pergiliran atau rotasi tanaman yang baik adalah bila jenis tanaman yang ditanam pada suatu musim berbeda dengan jenis tanaman yang ditanam pada musim berikutnya dan jenis tanaman tersebut bukan merupakan inang hama yang menyerang tanaman yang ditanam pada musim sebelumnya.

Dengan pemutusan ketersediaan inang pada musim berikutnya populasi hama yang sudah meningkat pada musim pertama akan dapat ditekan pada musim berikutnya. Rotasi tanaman paling efektif untuk mengendalikan hama yang mempunyai kisaran makanan yang sempit dan kemampuan migrasi serangga hama terbatas terutama pada fase yang aktif makan.

Dengan pola tanam di lahan sawah padi–padi–kedelai atau jagung, akan memutus pula siklus hama padi. Pemilihan pola tanam dari padi–padi–padi menjadi padi–padi–kedelai merupakan komponen pengendalian hama terpadu yang ramah lingkungan dan cukup efektif serta mudah dikombinasikan dengan cara pengendalian yang lain.

Teknik pergiliran tanam merupakan komponen pengendalian hama terpadu hama wereng coklat dan hama padi lainnya. Salah satu penyebab dari timbulnya ekplosif hama wereng coklat pada tanaman padi adalah karena petani selalu berusaha menanam padi terus menerus di lahan sawahnya.

Penanaman padi secara terus menerus sepanjang tahun akan menyebabkan hama padi berkembang biak dengan cepat karena makanan selalu ada sepanjang tahun. Dengan memutus dan mengatur pola tanam dari padi–padi–padi dengan padi–padi–kedelai akan memutus siklus hama karena hampir 90% hama pada tanaman padi berbeda dengan hama kedelai.

Kasus pola tanam sepanjang tahun menanam padi, karena irigasi cukup: di Jawa Barat, Jawa tengah, Jawa Timur, Bali, dan NTB sering terjadi serangan hama wereng atau hama lainnya dan menyebabkan tanaman padi kehilangan hasil hingga 80% bahkan puso atau tidak panen akibat serangan hama.

Dalam rangka peningkatan produksi padi menuju swasembada, yang salah satu upayanya adalah dengan penambahan Luas Tambah Tanam (LTT) dengan menambah pola tanam menjadi padi–padi–padi. Hal ini didukung dengan kondisi lapang yang mengalami musim hujan berkepanjangan atau yang dikenal dengan peristiwa Lanina Basah.

Kondisi demikian memungkinkan untuk menerapkan pola: padi–padi–padi. Kekawatiran akibat pola tanam yang berurutan dengan tanaman yang sama (pad) akan terjadi serangan hama pada tanaman padi yang lebih serius.

Upaya pencegahan akibat pola tanam dengan tanaman yang sama sepanjang tahun perlu adanya pemantauan hama yang intensif dan apabila populasi hama meningkat dan mencapai ambang kendali perlu pengendalian untuk mencegah ledakan populasi hama semakin meluas. Tindakan ini yang sudah dikenal dengan istilah Spot Stop.

Tanaman kedelai sebagai pemutus siklus hama pada pola tanam padi–padi–padi menjadi padi–padi–kedelai (kiri). Tanaman padi yang terserang wereng coklat (tengah dan kanan).

Tanaman kedelai sebagai pemutus siklus hama pada pola tanam padi–padi–padi menjadi padi–padi–kedelai (kiri). Tanaman padi yang terserang wereng coklat (tengah dan kanan).

MWT