Berita » Pertanian berbasis Teknologi Modern

Cara penggunaan Sap Flow Meter.

Cara penggunaan Sap Flow Meter.

Dampak perubahan iklim seperti kekeringan terhadap pertanian cukup signifikan terhadap penurunan produksi tanaman. Pada era modern ini, penggunaan teknologi di bidang pertanian dalam mengidentifikasi cekaman abiotk terhadap tanaman telah berkembang pesat serta dapat menjadi solusi untuk mengatasi masalah tersebut. Dua peneliti Balitkabi di bidang Agronomi yaitu Dr. Runik Dyah Purwaningrahayu dan Herdina Pratiwi, S.P., M.P. diundang dalam kegiatan workshop dengan tema “Pengenalan Pertanian Modern Berbasis Teknologi dari ICT International” yang diselenggarakan oleh Fakultas Pertanian Universitas Islam Malang (Unisma) bekerja sama dengan PT Labodia Prima Jakarta. Workshop diselenggarakan tanggal 19 Maret 2018, bertempat di Ruang K.H. Masykur Gedung Abu Bakar Asshiddiq Lantai 4 Unisma. Workshop diikuti oleh 75 orang peserta terdiri dari mahasiswa dan praktisi pertanian antara lain dari Balitkabi, BPTP Karangploso, Balittas, BPTP Gorontalo, BPP2TP Surabaya, Universitas Trunojoyo, dan Universitas Widyagama. Sebagai pemateri adalah Anthony Salim, CMP, S.T., M.M., General Manager dan Operator PT Labodia Prima Jakarta.

Workshop bertujuan untuk memperkenalkan alat pengukur yang simpel, akurat, dan praktis dengan harga menengah kepada mahasiswa dan pemerhati pertanian sehingga dapat meningkatkan kualitas penelitian dosen, peneliti, dan mahasiswa. Terdapat tiga alat produksi ICT International yang diperkenalkan dalam workshop yaitu: (1) Pengukur laju transpirasi/sap flow meter (SFM 1), (2) Pengukur potensial air tanaman/Psychrometer (PSY 1), dan (3) Pengukur kadar air tanah/soil moisture tester meter (SMM). Pengenalan alat tidak hanya disampaikan secara teoritis namun juga dengan praktik langsung pada tanaman.

Sap flow meter (SFM) digunakan untuk mengukur laju transpirasi pada tanaman dengan metode rasio panas. Dari hasil pembacaan SFM dapat ditentukan penggunaan air oleh tanaman (water usage). SFM digunakan untuk mengetahui: (1) Jumlah air yang digunakan tanaman per hari sehingga pengairan yang diberikan lebih efisien, (2) Perilaku tanaman selama kondisi kekeringan/kekurangan air, (3) Bagaimana perilaku penggunaan air oleh tanaman pada musim yang berbeda, dan (4) Perilaku tanaman dalam menggunakan air dalam durasi waktu tertentu (misalnya pada malam hari). Psychrometer dirancang untuk mengukur potensial air dalam batang, daun, dan akar tanaman secara kontinyu tanpa destruksi sampel dengan interval waktu tertentu. Pengukuran water potential bermanfaat untuk menentukan titik kritis tanaman terhadap cekaman kekeringan. Psychrometer dapat dimanfaatkan untuk: (1) Menyerempakkan pembuahan, (2) Menentukan toleransi tanaman terhadap kekeringan, (3) Menentukan titik layu permanen (TLP) atau titik sebelum tercapai TLP sehingga tanaman tidak sampai menderita cekaman kekeringan. Soil moisture tester (SMM) berguna untuk mengukur kadar air tanah berdasarkan prinsip gelombang tegak. Ketiga alat dilengkapi data logger yang dapat merekam pembacaan data selama alat digunakan. Ketiga alat dapat digunakan bersamaan pada satu tanaman dan dapat dihubungkan dengan beberapa titik pemasangan pada satu lokasi dan direkam oleh suatu alat telemetry hub yang dapat mengirimkan data ke cloud/internet. Keluaran nilai sensor dapat dimonitor secara langsung dan datanya dapat diunduh di belahan manapun melalui internet atau jaringan GSM.

Dengan alat-alat pendeteksi aliran air di dalam tanaman maupun dalam tanah dimungkinkan deteksi dini sebelum terjadi cekaman kekeringan sehingga dapat segera dilakukan upaya pencegahan kekeringan. Aplikasi dalam pertanian skala luas bermanfaat dalam manajemen pengairan dan efisiensi pemupukan secara akurat dengan pengaturan jumlah dan waktu. Saat ini aplikasi SFM masih terbatas digunakan untuk tanaman tahunan dan tanaman perkebunan dengan diameter batang minimal 1 cm seperti kelapa sawit, kopi, dan mangga. Psychrometer dapat digunakan pada semua komoditas termasuk tanaman semusim seperti tomat, jagung, dan melon. Alat-alat tersebut mempunyai peluang juga diterapkan pada komoditas aneka kacang dan umbi mengingat pengembangan komoditas tersebut juga berhadapan dengan masalah cekaman lingkungan baik biotik maupun abiotik.

Praktik penggunaan Psychrometer (kiri) dan Soil Moisture Meter (kanan).

Praktik penggunaan Psychrometer (kiri) dan Soil Moisture Meter (kanan).

HP/RDP