Berita » Peserta ToT di Minyambouw, Papua Barat Favoritkan Mie Ubijalar

apapua2-1

Kerjasama ACIAR dan Badan Litbang Pertanian lewat Proyect ACIAR AH/2007/106 mengintegrasikan pengelolaan ubijalar sebagai bahan pangan dan pakan di Papua dan Papua Barat. Distrik Minyambow di Pegunungan Arfak dipilih sebagai lokasi kegiatan tersebut, termasuk introduksi beragam produk olahan ubijalar dalam bentuk ToT pada tanggal 3 November 2014. Jalan terjal dan berbatu yang hanya dapat dilalui oleh kendaraan tangguh serta tiga kali harus menyeberangi sungai selama dua setengah jam perjalanan dari kota Manokwari merupakan tantangan tersendiri untuk mencapai lokasi pelatihan. Indahnya hutan dan gunung, dan jernihnya air sungai dan peserta yang telah menanti menyemangati Anggota Tim untuk memberikan pelatihan. Tim terdiri atas Dr. Sukendra Mahalaya (Project Manager), Triono A. Syahputra MSi dan Nakeus Muid Amd (perwakilan ACIAR Project untuk Manokwari) serta Ir. Erliana Ginting M,Sc,, Suprapto, S.P., dan Lina Kusumawati, S,Si. dari Balitkabi.
Perjalanan menyeberangi sungai karena jembatan masih dalam pembangunan menuju ke lokasi Distrik Minyambow, Pegunungan Arfak, Papua Barat. Awalnya, peserta yang diundang hanya 20 orang, namun ibu-ibu dan remaja putri yang hadir sekitar 39 orang, belum termasuk anak-anak dan para bapak yang menyaksikan dari luar tempat pelatihan. Dengan bahasa yang diterjemahkan oleh Nakeus, peserta diberi penjelasan tentang jenis/varietas ubijalar, nilai gizi dan manfaatnya bagi kesehatan serta pentingnya mengkombinasikan ubijalar sebagai makanan pokok dengan makanan sumber protein dan vitamin, seperti kacang gude, buncis dan kacang merah serta strawberri. Tanaman ini diintroduksikan di daerah tersebut untuk meningkatkan status gizi mereka, terutama anak-anak. Selanjutnya peserta mengikuti praktik membuat puding campuran ubijalar ungu dan strawberri; kubus instan, onde-onde dan mie ubijalar, plecing daun ubijalar serta sambal goreng kacang gude dan sop kacang merah. Pelatihan tidak menggunakan alat-alat elektronik karena fasilitas listrik masih kurang memadai. Namun kondisi ini tidak mengurangi minat dan antusias peserta untuk mengikuti praktik yang baru pertama kali mereka dapatkan.

Peserta sedang praktek membuat kubus instan ubijalar, pasta ubijalar ungu untuk bahan puding dan onde-onde ubijalar pada pelatihan tanggal 3 Nopember 2014 di Minyambouw.

Suasana riuh rendah terdengar saat praktik pembuatan mie ubijalar (50% pasta ubijalar). Peserta takjub dengan munculnya bentuk mie setelah adonan digiling dan ditipiskan beberapa kali dengan gilingan mie. Saat salah seorang peserta diberi kesempatan untuk mencoba mencetak mie, semua peserta bersorak ‘Puji Tuhan’ manakala mie yang dihasilkan bentuknya sempurna. Peserta lainnya pun bersemangat mencoba secara bergantian dan senang karena ternyata tidak sulit mempraktikkannya. Mie selanjutnya dimasak menjadi mie goreng dan dinikmati bersama-sama saat makan siang. Melihat antusias peserta tersebut, ACIAR Project memberikan gilingan mie tersebut untuk digunakan seterusnya oleh peserta. Bahkan Dr Sukendra Mahalaya bermaksud mengadakan lomba antarpeserta secara berkelompok dengan membawa anggota kelompok yang belum pernah ikut pelatihan dengan hadiah berupa alat-alat pengolahan yang diperlukan dan belum dimiliki oleh peserta. Rasa senang terpancar dari wajah peserta dan diiringi doa ucapan terima kasih oleh gembala jemaat setempat, kegiatan diakhiri dengan harapan pelatihan ini bermanfaat dan memberi warna baru dalam menu makanan mereka sehari-hari.

Plecing daun ubijalar, mie dan onde-onde ubijalar hasil praktek peserta pelatihan di Minyambow, Papua Barat.

E. Ginting/AW