Berita » Petani Kedelai di Tuban Mulai Beralih ke Teknologi yang Dicontohkan Balitkabi

tuban

Lahan sawah di wilayah Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban berada pada daerah aliran sungai Bengawan Solo dengan pola tanam utama padi‒bero‒padi dan padi‒kedelai‒padi. Padi ke-1 ditanam pada periode Nopember‒Januari/Februari dan padi ke-2 pada Mei/Juni‒Agustus/September. Pada bulan Februari‒April saat curah hujan tinggi, banyak lahan sawah yang tergenang air karena posisinya lebih rendah dari permukaan air Bengawan Solo sehingga sulit membuang air sehingga petani menerapkan pola tanam padi-bero-padi. Lahan sawah yang posisinya agak tinggi, sebagian kecil petani menanam hortikultura, dan sebagian besar menanam kedelai dalam pola tanam padi-kedelai-padi. Cara tanam kedelai yang biasa dilakukan petani adalah menanam varietas Wilis dengan cara sebar pada bedengan selebar 1,6‒2 m, kemudian ditutup jerami. Pada musim tanam bulan Februari‒Mei tahun 2014, Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi) melakukan gelar teknologi penaman kedelai pada lahan sawah di Desa Plandirejo, Kecamatan Plumpang yang berpola tanam padi-kedelai-padi. Sentuhan teknologi yang diperkenalkan sesungguhnya bukan sesuatu yang baru, tapi menurut mereka merupakan sesuatu yang baru. Pada kegiatan ini, petani diperkenalkan dengan varietas Anjasmoro dan Argomulyo (mereka biasa tanam Wilis), cara tanam dilarik atau di sebar dalam barisan teratur (mereka biasanya disebar acak), dimana setiap bedeng selebar 1,6‒2 m berisi 5‒6 baris. Dari tiga varietas yang diperagakan (Anjasmoro, Argomulyo, dan Wilis), Anjasmoro menunjukkan keragaan pertumbuhan dan hasil terbaik (Gambar 1), sehingga petani tertarik untuk menanam Anjasmoro.


Gambar 1. Keragaan kedelai Anjasmoro dengan cara tanam larikan pada kegiatan gelar teknologi
di Desa Plandirejo, Kecamatan Plumpang, Tuban musim tanam MK I tahun 2014.Pada musim tanam MK I tahun 2015, ketua Gapoktan DWI TUNGGAL Bpk Tamiaji membeli benih kedelai kelas FS UPBS Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan) di Balitkabi sebanyak 500 kg (Gambar 2). Menurut penuturan Pak Tamiaji kepada kami yang berkunjung ke lahannya pada 8 April 2015, bahwa minat petani untuk menanam Anjasmoro sangat banyak, bahkan kelompok tani dari Desa Klotok, Bandungrejo dan Sembung berkeinginan untuk menanamnya dan oleh Pak Tamiaji masing-masing hanya mendapatkan 5 kg. Balitkabi juga memberi contoh benih varietas unggul baru Dena 1 dan Dena 2 masing-masing 25 kg dan 15 kg. Dari pemantauan kami di lapang, Dena 1 tumbuh baik dan optimal sedangkan Dena 2 tidak optimal karena kebanjiran. Menurut penuturan petani penanam Dena 1 (Pak Tamiaji dan Pak Supriyanto), mereka senang dengan keragaan Dena 1 karena poongnya banyak dan lebih cepat berpolong dibandingkan Anjasmoro (Gambar 3).


Gambar 2. Penyerahan benih kedelai kepada ketua Gapoktan Dwi Tunggal Desa Plandirejo.


Gambar 3. Keragaan varietas Dena 1 di Desa Plandirejo, Plumpang, Tuban pada MK I tahun 2015 (foto kiri).
Pak Tamiaji (kiri), Pak Supriyono (tengah), dan Pak Sono (kanan) berpose di depan hamparan kedelai Dena 1.Pada musim tanam tahun 2015 ini, cara tanam sebar dalam larikan (tanam dilarik) banyak dipraktekkan oleh petani kelompoknya, meskipun mereka belum kebagian menanam Anjasmoro. Menurut penuturan petani, dengan cara tanam dilarik kebutuhan benih jauh menurun (45 kg/ha), sedangkan dengan cara sebar biasanya membutuhkan 70‒75 kg/ha. Selain itu, cara perawatan (menyiang, menyemprot) lebih mudah dan lebih cepat sehingga mengurangi biaya tenaga kerja, dan yang tidak kalah pentingnya pertumbuhan tanamannya menjadi lebih baik dan polongnya lebih banyak (Gambar 4).


Gambar 4. Keragaan varietas Anjasmoro pada MK I tahun 2015 yang ditanam secara larikan di lahan pak Kariman (foto kiri).
Pak Tamiaji (kanan), pak Kariman (tengah, pemilik lahan), dan Ir. Lawu (Balitkabi) berpose di depan kedelai Anjasmoro. Ketua Gapoktan mengatakan bahwa hasil panen Anjasmoro musim ini akan dibeli (sudah ada kesepakatan) oleh Pak Mujib (penangkar dari Nganjuk) untuk ditanam di Nganjuk dan Mojokerto pada MK II 2015, dan hasil panenannya akan dibeli kembali oleh Gapoktan Plandirejo untuk dikembangkan di Tuban pada MK I tahun 2016. Pak Tamiaji juga sangat berkeinginan mengembangkan Dena 1, sehingga hasil panen tahun ini akan dititipkan pak Mujib untuk diperbanyak di Nganjuk. Mudah-mudahan dimasa mendatang produktivitas kedelai di Tuban akan semakin meningkat dan pendapatan petani meningkat.

Abdullah Taufiq