Berita ยป Petani Milenial Gunungkidul Menuju Agroindustri Kedelai

Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Perdagangan dan Hubungan Internasional. Ir. Banun Harpini, M.Sc., didampingi Dr. Haris Syahbuddin, DEA. Kepala Puslitbang TP, Kepala Dinas Pertanian Gunungkidul diwakili Ir. Adinoto, MP., Kepala BPTP Daerah Istimewa Yogyakarta Dr. Soeharsono, SPt. MSi. dan Kepala Balitkabi Dr. Yuliantoro Baliadi.

Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Perdagangan dan Hubungan Internasional. Ir. Banun Harpini, M.Sc., didampingi Dr. Haris Syahbuddin, DEA. Kepala Puslitbang TP, Kepala Dinas Pertanian Gunungkidul diwakili Ir. Adinoto, MP., Kepala BPTP Daerah Istimewa Yogyakarta Dr. Soeharsono, SPt. MSi. dan Kepala Balitkabi Dr. Yuliantoro Baliadi.

Bimbingan Teknis Petani Milenial Menuju Agroindustri Kedelai dilaksanakan pada tanggal 22 November 2019 di Dusun Mengger, Desa Nglipar, Kec. Nglipar, Kab. Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Bimbingan teknis ini terselengara atas kerjasama Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Daerah Istimewa Yogyakarta dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan (Puslitbang TP), Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Kementerian Pertanian. Bimbingan teknis dihadiri oleh petani kedelai milenial dari kelompok tani serta para PPL dan mantri tani yang berada di wilayah Nglipar dan sekitarnya. Bimbingan teknis juga dihadiri oleh Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Perdagangan dan Hubungan Internasional. Ir. Banun Harpini, M.Sc., Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Gunungkidul, Dinas Pertanian Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Babinsa, dan Babinkamtibmas Kecamatan Nglipar Gunungkidul.

Kepala BPTP DI. Yogyakarta Dr. Soeharsono, SPt. MSi. dalam sambutannya menyatakan harapannya agar Gunungkidul dapat menjadi gudang kedelai di Yogyakarta. Harapan Gunungkidul sebagai gudang kedelai karena adanya potensi pengembangan kedelai di wilayah ini. Di samping itu, juga didukung oleh kemampuan para petani di wilayah Nglipar, bahkan salah seorang petani telah menjadi penangkar benih kedelai.

Kepala Dinas Pertanian Gunungkidul diwakili oleh Ir. Adinoto, MP. dalam sambutannya menyatakan bahwa saat ini penanaman kedelai Gunungkidul mencapai sekitar 6.000 ha, padahal pada masa lalu penanaman kedelai dapat 22.000 ha. Oleh karena itu, harapan dari Kepala BPTP Daerah Istimewa Yogyakarta agar Gunungkidul menjadi gudang kedelai dapat dicapai. Hal ini juga didukung oleh produktivitas kedelai yang termasuk tinggi, produktivitas kedelai 2 t/ha dapat dicapai oleh petani dengan penanaman varietas Anjasmoro dan Dena 1.

Ir. Banun Harpini, M.Sc. (Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Perdagangan dan Hubungan Internasional) dalam sambutannya menyatakan bahwa saat ini impor kedelai bukan hanya pada biji kedelai saja, tetapi juga pada bungkil kedelai. Impor bungkil kedelai ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pakan yang sangat tinggi yaitu mencapai 40 juta ton per tahun. Oleh karena itu, Gunungkidul juga diharapkan dapat menjadi sebagai sentra produksi kedelai, sehingga impor kedelai dapat berkurang. Para petani juga diharapkan dapat berubah seiring dengan perubahan menuju paradigma milenial yang sedang berlangsung dengan menjadikan kedelai sebagai industri kedelai organik dan sehat.

Dr. Haris Syahbuddin, DEA. Kepala Puslitbang TP dalam sambutannya menyatakan bahwa 92.000 Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia menggunakan kedelai sebagai bahan bakunya, sehingga potensi kedelai pengembangan sangat besar. Disampaikan pula oleh Haris dalam melaksanakan tupoksinya Puslitbang Tanaman Pangan berorientasi kepada double track yaitu penelitian dan pengembangan komoditas akabi yang ditujukan ke petani dan industri secara simultan. Pada tataran industri, kedelai harus memenuhi aspek kontinuitas, kualitas, dan kuantitas. Oleh karena itu, industri harus bisa bersinergi dengan petani.

Djelaskan Haris, benih kedelai merupakan teknologi awal yang berpotensi pada pencapaian hasil yang tinggi. Dengan tersedianya lahan dan pengalaman petani dalam budidaya kedelai, wilayah Nglipar diharapkan dapat menjadi pemasok benih di Yogyakarta, dan bahkan juga dapat menjadi pemasok benih kedelai secara nasional. Disampaikan pula bahwa Gunungkidul dengan luas lahan di bawah tegakan kayu putih mencapai 16.000 ha sangat berpotensi untuk dikembangkan kedelai karena pada umumnya tegakan kayu putih masih memungkinkan sinar matahari masuk dengan baik sehingga kedelai masih dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.

Kepala Balitkabi Dr. Yuliantoro Baliadi mengemukakan Gunungkidul dapat dijadikan sentra perbenihan kedelai berbasis kawasan. Dengan 70% lahannya merupakan lahan tadah hujan, Gunungkidul dapat digunakan sebagai pengembangan varietas kedelai adaptif lahan kering seperti Dering 1, varietas kedelai berbiji besar dan berumur pendek seperti Dega 1, dan varietas kedelai toleran naungan seperti Dena 1. Kepala Balitkabi juga menyatakan bahwa produksi BS dan FS varietas Dega 1 akan diberikan kepada petani di DI Yogyakarta. Supaya bisnis perbenihan di Gunungkidul berkembang, empat ton benih FS akan digunakan untuk menanam 60 ha. Balitkabi siap mendampingi teknologi produksi benih kedelai tersebut. Dengan demikian diharapkan 75% dari target nasional penanaman 500.000 ha kedelai, kebutuhan benih ES dapat dipenuhi dari Gunungkidul.

whatsapp-image-2019-11-29-at-11-23-42

Pada pertemuan ini juga disampaikan varietas kedelai yang dapat digunakan untuk makanan, obat-obatan, dan kosmetik oleh Dr. Heru Kuswantoro, Peneliti Balitkabi, Balitbangtan. Materi ini disampaikan untuk mengubah mindset masyarakat, khususnya para petani bahwa kedelai hanya dapat digunakan untuk pembuatan makanan tertentu seperti tahu, tempe, dan kecap. Heru menyatakan bahwa pertumbuhan konsumsi kedelai dunia dari 1990-2019 mencapai 240% melebihi jagung dan gandum yang hanya mencapai 130% dan 37%. Varietas kedelai yang telah dilepas oleh Badan Litbang Pertanian merupakan varietas dengan potensi hasil tinggi, tahan OPT, adaptif lahan suboptimal dan ramah lingkungan. Lebih lanjut dijelaskan Heru, di dunia industri kedelai umum digunakan sebagai obat-obatan karena mengandung isoflavon yang berfungsi antioksidan, mengurangi kolesterol LDL, mencegah kanker, dan menghambat efek endometriosis. Protein pada kedelai juga dapat mencegah osteoporosis dengan membantu penyerapan kalsium dalam tulang. Protein dan serat dalam biji kedelai dapat mencegah diabetes dan sakit ginjal dengan mengatur kadar glukosa darah dan membantu filtrasi ginjal. Dengan arah pengembangan kedelai pada obat-obatan dan kosmetik harga kedelai akan lebih meningkat.

Penyerahan bantuan benih kedelai varietas Anjasmoro oleh Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Perdagangan dan Hubungan Internasional. Ir. Banun Harpini, M.Sc., didampingi Dr. Haris Syahbuddin, DEA. Kepala Puslitbang TP, Kepala Dinas Pertanian Gunungkidul Ir. Adinoto, MP., Kepala BPTP DI.Yogyakarta Dr. Soeharsono, S.Pt., M.Si. dan Kepala Balitkabi Dr. Yuliantoro Baliadi.

Penyerahan bantuan benih kedelai varietas Anjasmoro oleh Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Perdagangan dan Hubungan Internasional. Ir. Banun Harpini, M.Sc., didampingi Dr. Haris Syahbuddin, DEA. Kepala Puslitbang TP, Kepala Dinas Pertanian Gunungkidul Ir. Adinoto, MP., Kepala BPTP DI.Yogyakarta Dr. Soeharsono, S.Pt., M.Si. dan Kepala Balitkabi Dr. Yuliantoro Baliadi.

 

Dr. Haris Syahbuddin, DEA. Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan menyampaikan Double Track: Menuju Agroindustri Kedelai

Dr. Haris Syahbuddin, DEA. Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan menyampaikan Double Track: Menuju Agroindustri Kedelai

Kepala Balitkabi Dr. Yuliantoro Baliadi menyampaikan Program Perbenihan Kedelai Menuju Agroindustri Kedelai(kiri) dan Dr. Heru Kuswantoro meaparkan VUB Kedelai untuk industri: makanan, obat-obatan, dan kosmetik (kanan)

Kepala Balitkabi Dr. Yuliantoro Baliadi menyampaikan Program Perbenihan Kedelai Menuju Agroindustri Kedelai(kiri) dan Dr. Heru Kuswantoro meaparkan VUB Kedelai untuk industri: makanan, obat-obatan, dan kosmetik (kanan)

HK