Berita » Petani Tambang Belajar Bertani Kabi

1-akaltimv-1

Sebanyak 20 orang tamu dari Kalimantan Timur, terdiri dari petani yang tinggal di sekitar lokasi tambang batubara, Staf BPTP Kaltim, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) peduli rehabilitasi lahan, dan perwakilan PT Indo Tambangraya Megah (ITM) Kaltim belajar budidaya dan potensi pengembangan aneka kacang dan umbi di Balitkabi, Selasa 20 Nov, pagi. Mereka diterima oleh Ir Arif Musaddad, Kepala Jaslit.

Ir Bambang Kahuriyan dari ITM menyatakan bahwa petani yang diajak merupakan petani di lingkungan pertambangan dan diharapkan mereka dapat mereklamasi lahan bekas tambang tersebut. “Ilmu yang mereka peroleh diharapkan menjadi bekal untuk reklamasi” tutur Pak Bambang. Sementara Ir. M Chury Septyadi, dari BPTP Kaltim menyampaikan bahwa kegiatan reklamasi sangat penting untuk meningkatkan produksi pangan di Kaltim.

Di lokasi pertanaman Rumah Pangan Lestari (RPL) yang ditanami umbi-umbian, mereka mendapatkan penjelasan dari Pak Arif Musaddad dan Wasito Adie. Sedangkan di lapang penjelasan diberikan oleh Pak Margono, Pak Cipto dan Pak Winarto secara bergantian. Penjelasan yang diberikan mencakup aneka varietas kacang dan umbi yang ditanam ditanam di KP Kendalpayak untuk penelitian maupun tanaman perbenihan, demonstrasi,dan koleksi plasma nutfah. Pertanyaan yang muncul kebanyakan tentang benih, khususnya bagaimana cara memperoleh benih baik kacang-kacangan atau umbi-umbian.


Untuk penjelasan perbenihan secara lengkap mereka diajak ke UPBS. Penjelasan tentang perbenihan diperoleh dari Ibu Dina dan Pak Arum. Saat pulang mereka membeli puluhan kilo benih kedelai Grobogan.


Pada akhir kunjungan mereka diampirkan ke Lab Pascapanen, yang saat itu sedang menganalisis kandungan gizi aneka ubijalar. Di Lab ini mereka mendapat penjelasan langsung dari Ir Erliana Ginting, MSc., dan Ir Rahmi Yulifianti. Mereka tertarik untuk mengembangkan produk olahan pangan dari umbi-umbian yang telah ditemukan oleh Balitkabi. “Kita nanti rencanakan untuk memperdalam produk olahan umbi-umbian”, tutur pak Chury.