Berita » Philipina Minat Jalin Kerjasama Penelitian Aspek Pengelolaan Rantai Pasokan Ubikayu dengan Balitkabi

Hari Kamis tanggal 2 Juni 2016, Balitkabi menerima kunjungan tamu empat orang yaitu tiga orang dari Institute of Agricultural Engineering, UPLB Philipina (Prof. Alexis C. Del Rosario, Ruby Jane Estadila, dan Mary Grace Opulencia), serta Dr. Asmarhansyah (BPTP Babel).

7-6-16a

Rombongan diterima oleh Kepala Balitkabi, Dr. Didik Harnowo, beserta para peneliti ubikayu Balitkabi. Kunjungan tersebut bermaksud untuk penjajagan pelaksanaan kerjasama penelitian dengan judul “Comprehensive Assesment of the Performance of the Cassava Supply Chain and Value Chain and Identification of Interventions for Competitiveness”.

Kegiatan ini bertujuan untuk mengkaji kondisi industri ubikayu saat ini dan sebagai patokan/acuan menelusur rantai pasokan ubikayu terbaik di wilayah Asia. Di samping itu, juga bertujuan menentukan teknologi, kinerja, dan kebijakan terkait ubikayu. Selain ke Indonesia, keempat tamu tersebut juga berkunjung ke Thailand.

Sebenarnya jika ditinjau dari perspektif sejarah, Philipina dengan Indonesia memiliki kemiripan pola introduksi ubikayu oleh Portugis pada abad ke 16. Perkebunan ubikayu di Jawa yang dirintis oleh Belanda ditujukan untuk pasar Eropa sebagai pakan ternak.

Sedangkan Thailand belajar ubikayu ke Indonesia pada tahun 1939, kemudian melakukan penelitian dan pengembangan secara intensif sehingga kini termaju di dunia. Sebaliknya di Philipina dan Indonesia, ubikayu kurang mendapat perhatian.

Philipina merasa prototipe Indonesia, khususnya data industri rumah tangga hingga skala menengah kian berkembang dan mampu bersaing dengan industri skala besar. Bahkan industri besar justru mengalami kekurangan bahan baku akibat kalah bersaing dalam menentukan harga, dimana pada industri kecil harga ubikayu lebih tinggi.

Fakta ini terkait dengan pajak, dimana overhead cost dan biaya lebih tinggi untuk industri besar, sehingga tidak bisa mematok harga yang layak. Kesempatan tersebut dimanfaatkan oleh industri kecil dan menengah. Pihak Philipina juga sangat tertarik dengan pola budidaya ubikayu yang ada di Indonesia.

7-6-16b

Disampaikan oleh Prof. Sudaryono dan Ir. Yudi Widodo, M.S. bahwa petani ubikayu Indonesia sangat kreatif untuk mencoba hal baru dan memiliki kemampuan yang berbeda-beda baik pengetahuan maupun pemodalan. Saat ini Indonesia masih belum mampu memenuhi kebutuhan ubikayu dalam negeri, sehingga sekitar 40% kebutuhan ubikayu masih impor. Pada akhir pertemuan, Balitkabi menyatakan siap untuk menjadi partner yang baik dan kolaborasi lebih lanjut sangat dibutuhkan.

KN/YW