Berita » Posisi Kedelai di Era Revolusi Industri 4.0

berita_16_okt_18Meskipun kedelai bukan tanaman asli Indonesia, namun demikian sejak lama (kemungkinan sejak tahun 1800an) kedelai sudah mampu beradaptasi secara baik dengan kondisi agroekologi Indonesia.

Bahkan, kini rasanya Indonesia sulit dipisahkan dengan kedelai karena komoditas ini merupakan sumber protein nabati yang relatif murah bagi kebanyakan penduduk Indonesia. Menyadari akan hal tersebut, Pemerintah terus dan tetap mengupayakan tersedianya kedelai untuk mencukupi kebutuhan di dalam negeri, utamanya sebagai bahan baku produk pangan populer bagi masyarakat Indonesia yakni tempe, tahu, tauco, dan kecap.

Mengingat kebutuhan kedelai yang terus bertambah, sebagai akibat jumlah penduduk yang semakin banyak, sementara kemampuan produksi dalam negeri belum mampu mencukupi kebutuhan, maka impor kedelai pun harus dilakukan setiap tahun hingga kini dengan jumlah yang cukup besar (berkisar 60-65% dari kebutuhan).

Saat ini kebutuhan kedelai nasional sekitar 1,3 juta ton per tahun. Telah lebih dari dua dekade yang lalu (setidaknya mulai tahun 1993) swasembada kedelai digagas dengan target akan tercapai tahun 2014. Namun demikian, dengan berbagai permasalahan dan hambatan, hingga kini (tahun 2018) swasembada kedelai belum mampu dicapai.

Posisi terakhir, dalam Era Revolusi Industri 4.0 (ERI 4.0) yang saat ini tengah berjalan, bersama beberapa komoditas pangan strategis lainnya (padi, jagung, bawang merah, cabai, gula konsumsi, gula industri, daging sapi, dan bawang putih), khusus kedelai diharapkan dapat tercapai swasembada pada tahun 2020 (Gambar 1).

Untuk mencapai hal tersebut, keseriusan Pemerintah tidak perlu diragukan. Upaya yang dilakukan, selain tetap mempertahankan dan meningkatkan produksi kedelai pada areal existing, juga dilakukan pengembangan kedelai pada areal baru yang selama belum pernah ditanami kedelai (terutama pada lahan kering/tadah hujan, lahan-lahan perhutani, dll.) dengan cara tumpangsari, baik dengan tanaman padi gogo mupun dengan tanaman jagung).

Bantuan benih kedelai bermutu juga tetap dilaksanakan karena disadari bahwa hal tersebut merupakan salah satu kunci sukses untuk keberhasilan program swasembada kedelai. Bahkan, bukan sekedar swasembada, dalam ERI 4.0 ditargetkan bahwa Indonesia harus mampu ekspor kedelai pada tahun 2040 dan ekspor produk olahan kedelai 2040-2045 (Gambar 2). Kesemuanya itu adalah dalam rangka mewujudkan gagasan besar dan mulia Pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai Lumbung Pangan Dunia 2045.

Gambar 1. Target swasembada beberapa komoditas pangan strategis.

Gambar 1. Target swasembada beberapa komoditas pangan strategis.

Tercapainya swasembada pada tahun 2020 dan mempertahankaannya hingga tahun 2024 merupakan modal dasar sekaligus kunci utama bagi tercapainya ekspor kedelai tahun 2040 dan terealisirnya sukses Indonesia menjadi Lumbung Pangan Dunia 2045 untuk komoditas kedelai, yang pada masa tersebut sudah harus terealisasi ekspor produk olahan dari kedelai.

Gambar 2. Strategi pencapaian swasembada (2020-2024) dan ekspor produk olahan kedelai (2040-2045).

Gambar 2. Strategi pencapaian swasembada (2020-2024) dan ekspor produk olahan kedelai (2040-2045).

Yang harus dicatat adalah bahwa gagasan Pemerintah melalui Kementerian Pertanian untuk menjadikan Indonesia sebagai lumbung Pangan Dunia 2045 (melalui tahapan-tahapan dan kondisi seperti pada Gambar 2 di atas) adalah sejalan dengan program Kementerian Perindustrian, sebagaimana dinyatakan oleh Menteri Perindustrian, Ir. Airlangga Hartarto, bahwa ada 5 sektor manufaktur prioritas yang akan dikembangkan pada ERI 4.0, yakni: (1) makanan dan minuman, (2) tekstil dan pakaian, (3) otomotif, (4) elektronika, dan (5) kimia.

DH