Berita » Potensi Pengembangan Ubi Kayu di Kabupaten Sukabumi

Hamparan pertanaman ubi kayu di Kecamatan Warungkiara, Sukabumi

Hamparan pertanaman ubi kayu di Kecamatan Warungkiara, Sukabumi

Kabupaten Sukabumi merupakan salah satu sentra produksi ubi kayu di Provinsi Jawa Barat. Dengan Luas pertanaman ubi kayu sekitar 7.000 ha dan produktivitas sekitar 25 t/ha, kabupaten ini menyumbang 10% produksi ubi kayu di Jawa Barat atau 0,9% produksi nasional. Lokasi sentra produksi ubi kayu tersebar di beberapa kecamatan seperti : Jampang Tengah, Warung Kiara, Bantar Gadung, dan Cihambar, dan kecamatan lain namun luasannya tidak signifikan.

Umbi segar serta home industri tepung tapioka merupakan pemanfaatan ubi kayu dari Sukabumi. Beranjak dari potensi besar pengembangan ubi kayu, Balitkabi sebagai Balai penelitian dengan mandat nasional komoditas aneka kacang dan umbi berupaya memberikan peran agar sistem budidaya ubi kayu, pengolahan maupun pemasaran yang telah ada dapat ditingkatkan sehingga bermuara bagi kesejahteraan petani. Untuk mengetahui lebih lanjut bagaimana pengembangan ubi kayu dan prosesing ubi kayu di kabupaten ini, tim Peneliti Ubi kayu Balitkabi yang terdiri dari Kepala Balai Balitkabi, Dr. Yuliantoro Baliadi, Eriyanto Yusnawan Ph.D, Ir Abdullah Taufiq, M.S (Ketua), Joko Susilo Utomo, Ph.D, Ir Fahrur Rozi, M.S, Sutrisno, S.P., dan Abi Supandi S.Kom berupaya menelusuri informasi tersebut dengan datang langsung ke lokasi serta koordinasi dengan BPTP Jawa Barat dan Dinas Pertanian Provinsi Jawa Barat.

Diskusi di Diperta Kabupaten Sukabumi

Diskusi di Diperta Kabupaten Sukabumi

Kunjungan ke petani

Kunjungan ke petani

Menurut keterangan Dinas Kabupaten Sukabumi dan petani hampir 80 % pertanaman ubi kayu menggunakan varietas lokal Manggu. Varietas dengan kelebihan rasa umbi enak dijual segar ke kota besar dengan harga tinggi serta dijual ke pabrik tepung tapioka ketika panen raya. Produktivitas ubi kayu varietas lokal ini sekitar 25 t/ha dengan umur panen 10- 11 bulan.

Salah satu varietas unggul ubi kayu, Darul Hidayah pernah berkembang daerah ini pada tahun 2000an. Petani awalnya menyukai varietas ini karena produktivitasnya tinggi (40-50 t/ha), namun ternyata hasil panen hanya dapat dijual ke pabrik tepung tapioka dengan harga lebih rendah dibandingkan harga jual segar. Budidaya lebih ribet (harus dibuat lubang tanam serta input pupuk kandang lebih banyak) menyebabkan petani enggan mengadopsi teknik budidaya tersebut. Ukuran umbi terlalu besar, diakui petani menyulitkan saat panen. Ketiga permasalahan tersebut berujung varietas Darul Hidayah tidak dapat berkembang di daerah ini.

Kondisi lahan ubi kayu di daerah Sukabumi berada di pegunungan, namun petani sudah menata pola tanam cukup baik dengan mengikuti prinsip konservasi. Guludan tanaman dibuat berpotongan tegak lurus dengan arah kemiringan lahan dan diantara guludan diupayakan terdapat soil catchment dari sisa tanaman sebelumnya untuk menghambat laju aliran permukaan dari air hujan. Tekstur tanah yang remah memudahkan saat pengolahan tanah dan panen.

Kondisi lahan Ubi kayu Kecamatan Warungkiara, Sukabumi yang berkontur

Kondisi lahan Ubi kayu Kecamatan Warungkiara, Sukabumi yang berkontur

Monokultur Ubi kayu di Warungkiara, Sukabumi

Monokultur Ubi kayu di Warungkiara, Sukabumi

Sistem budidaya ubi kayu sudah cukup baik, mereka selalu menggunakan pupuk kandang sebelum tanam ubi kayu. Dosis pupuk kandang 10 – 20 ton/ha, pupuk NPK phonska 300 kg/ha dan kadang kala masih ditambah pupuk Urea ketika tanaman kurang subur. Jarak tanam ubi kayu umumnya 1 x 1 m namun dapat berubah sesuai kondisi lahan, jarak lebih rapat jika lahan kurang subur dan lebih jarang pada lahan subur. Pertimbangan jarak tanam juga mengikuti prinsip kemudahan dalam budidaya (menekan pertumbuhan gulma) dan mudah pencabutan umbi saat panen. Pengendalian gulma dilakukan secara intensif menggunakan herbisida, diakui petani metode ini dapat menekan biaya. Hama dan penyakit ubi kayu kurang berkembang di daerah ini sehingga kondisi pertanaman tumbuh normal.

Petani juga sudah mengembangkan sistem budidaya ubi kayu secara tumpang sari untuk peningkatan produktivitas lahan. Tanaman ubi kayu biasa ditumpangsarikan dengan tanaman jagung, kacang tanah, kacang bogor, dan padi gogo. Dengan sistem tumpangsari jarak tanam disesuaikan, untuk penanaman tanaman sela. Dengan sistem ini petani dapat panen minimal dua kali setahun sesuai komoditas yang ditanam misalnya jagung dan ubi kayu atau padi dan ubi kayu.

Industri rumah tangga (home industry) ubi kayu dijumpai hampir di setiap sentra produksi namun paling banyak di Desa Girijaya Kecamatan Warung Kiara dan di Kecamatan Jampang Tengah. Di desa Girijaya terdapat sekitar 30 pabrik sedangkan di Jampang tengah 10 – 20 pabrik. Setiap pabrik minimal memproduksi 10 ton ubi kayu segar per hari dengan masa aktif produksi sekitar 6 bulan. Rendemen pati 28-30% dari bobot segar umbi kupas sedangkan rendemen dari umbi panen menjadi umbi kupas sekitar 75-80%. Pati dapat dijual dalam kondisi kering kasar atau kondisi halus. Pati kemudian dikirim ke Kota Bogor menuju industri besar. Selain menghasilkan pati, home industri juga menghasilkan by product berupa onggok. Onggok dijual ke peternak sapi atau ke tengkulak yang akan digunakan sebagai bahan baku obat nyamuk.

Semoga ke depan VUB ubi kayu Balitbangtan dapat disukai dan berkembang di kab. Sukabumi. Mampu meningkatkan daya saing ubi kayu dan meningkatkan kesejahteraan petani dan pengrajin khususnya di kab. Sukabumi. Semoga.

Kegiatan di industri Rumah tangga Tapioka

Kegiatan di industri Rumah tangga Tapioka

Penjemuran Tapioka kasar

Penjemuran Tapioka kasar

“Ongok”, Byproduct Industri rumah tangga Tapioka

Suasana industri rumah tangga tapioka

Suasana industri rumah tangga tapioka

Stn