Berita » Potensi Porang dan Gadung sebagai Pangan Fungsional dan Anti-bakteri

Pangan yang kita makan sejatinya tidak hanya dapat mengenyangkan perut dan enak di lidah saja, tetapi juga harus memberikan nilai plus berupa manfaat kesehatan bagi tubuh. Indonesia merupakan negara kepulauan yang dikenal memiliki mega-biodiversitas dalam bentuk tanaman, mikroba, dan hewan.

Tanaman indigenous dari Indonesia, tak terkecuali tanaman umbi-umbian lokal memiliki potensi sebagai pangan fungsional. Dalam rangka meningkatkan pemahaman dan membuka wawasan tentang pangan fungsional yang bersumber dari umbi lokal Indonesia, Dr. Muchdar Soedarjo menyampaikan hasil kegiatan postdoc selama di Kyushu University (Jepang) dengan judul “Acquisition of the technique to analysis of foods function toward human health function and analysis of these function in Indonesian indigenous tuber crops” dalam seminar intern Balitkabi tanggal 9 November 2015.

Seminar ini dihadiri oleh pejabat terkait di Balitkabi, seluruh peneliti, dan teknisi. Dr. Muchdar memaparkan bahwa berdasarkan berbagai sumber, pangan fungsional adalah bagian dari diet biasa dan dalam bentuk makanan yang mengandung komponen bioaktif sehingga bermanfaat bagi kesehatan tubuh.

Di negara maju seperti Jepang, pangan fungsional merupakan suatu kebutuhan dan gaya hidup masyarakat yang sadar akan pentingnya kesehatan. Hal ini secara tidak langsung berdampak pada daya saing dan nilai ekonomi komoditas pangan tersebut.

Salah satu pangan fungsional yang juga merupakan mandat komoditas Balitkabi adalah umbi porang dan gadung. Kegiatan penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kandungan bioaktif umbi lokal Indonesia yang bermanfaat bagi kesehatan manusia (sebagai pangan fungsional).

Bahan penelitian yang digunakan adalah tiga jenis porang (Amorphophallus sp.) dan gadung (Dioscorea hispida) (Gambar 1). Bagian dari tanaman tersebut (tajuk tanpa kulit, kulit tajuk, batang, umbi tanpa kulit, umbi dengan kulit, daun, rambut pada umbi, akar,) kemudian diekstrak dengan air dan etanol. Setelah itu, sampel tersebut diuji kandungan antioksidan (DPPH, ORACFL), lipase dan anti-bakteria (E.coli dan S. aureus).

Amorphophallus sp. (tajuk hitam dan hijau), Amorphophallus sp. (tajuk hitam), Amorphophallus sp. berumbi putih (tajuk hijau), Amorphophallus sp. berumbi kuning, Dioscorea hispida (gadung) (kiri ke kanan).

Amorphophallus sp. (tajuk hitam dan hijau), Amorphophallus sp. (tajuk hitam), Amorphophallus sp. berumbi putih (tajuk hijau), Amorphophallus sp. berumbi kuning, Dioscorea hispida (gadung) (kiri ke kanan).

Secara umum, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa

  1. Total aktivitas antioksidan menggunakan ektrak etanol lebih besar dibandingkan dengan air. Diantara 3 jenis porang, terungkap bahwa porang yang berdaging umbi kuning memiliki kandungan antioksidan terbaik dibandingkan dengan jenis lainnya,
  2. Ekstrak etanol menunjukkan persentase yang lebih rendah sebagai inhibitor aktivitas lipase dibandingkan dengan blank,
  3. Aktivitas penghambatan lipase pada tanaman gadung dan porang bergantung pada banyaknya dosis yang digunakan,
  4. Aktivitas antibakteri dari ekstrak etanol dan efek penekanan yang lebih tinggi bergantung pada dosis yang digunakan. Peningkatan konsentrasi umbi tersebut pada larutan ekstrak secara nyata dapat menghambat bakteri E. coli dan S. aureus,
  5. Bagian tanaman yang berbeda memberikan tingkatan aktivitas komponen bioaktif yang berbeda juga, dan
  6. Umbi asli Indonesia berpotensi sebagai pangan fungsional.

RTH