Berita » Potensi Produksi Benih Kedelai di Hutan Kayu Putih

1.kedelai_kayuputih

Sistem tumpangsari tanaman kayu putih+ kedelai memiliki kelebihan: (a) pemanfaatan lahan lebih optimal yang ditunjukkan oleh nisbah kesetaraan lahan (NKT) atau Land Equivalent Ratio (LER) yang meningkat dari 1,0 menjadi 1,3-1,7, (b) Produk panen beragam, (c) mengurangi risiko kegagalan panen, akibat penurunan harga atau sebab lain seperti serangan hama/penyakit dan gangguan iklim, (d) lebih cepat memperoleh hasil (kedelai panen umur 85-90 hari), (e) memperoleh tambahan hasil dari tanaman yang ditanam pada musim kedua, (f) memperbaiki kesuburan tanah karena tambahan N dari rhzobium dan bahan organik dari serasah tanaman kacang-kacangan (g) mencegah erosi, dan (h) menyediakan pakan ternak. Potensi lahan hutan kayu putih di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat seluas 8.000 ha. Kedelai dapat ditanam pada lorong di antara tanaman kayu putih secara tumpangsari. Sistem tanam ini, selain memberikan keuntungan berupa peningkatan produktivitas lahan, juga dapat memberikan keuntungan finansial bagi petani penggarap lahan Perhutani. Pola tanam di hutan kayu putih padi – kedelai, dengan pola tanam ini kedelai yang ditanam pada Februari dan hasil panen yang jatuh pada bulan Mei merupakan stok benih untuk kedelai sawah. Kondisi seperti ini sesuai dengan program Mandiri Benih Kedelai di suatu kawasan melalui sitem Jalur Benih Antar Lapang Antar Musim yang (Sistem JABALSIM). Hasil ubinan panen perdana kedelai di antara tanaman pokok kayu putih dari Gapoktan Sanca Jaya, Desa Sanca, Kecamatan Gantar, Indramayu, yang merupakan binaan BPTP Jawa Barat, pada tanggal 28 Mei 2015 dapat mencapai 1,2–1,6 t/ha kedelai kering panen. Jika diproses menjadi benih 1 ton/ha maka akan tersedia benih 8.000 ton dari Kabupaten Indramayu jika lahan kayu putih ditanami kedelai semua.

Panen kedelai di antara kayu putih dan temu lapang di Desa Sanca, Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu Jawa Barat. Pada saat yang sama juga dilakukan temu lapang dan sosialisasi pemahaman Pengendalian hama Terpadu yang dihadiri sekitar 100 orang petani penggarap lahan kayu putih milik Perhutani, hadir para penyuluh pertanian, petugas POPT, petugas BP DAS Citandui, peneliti dan penyuluh BPTP Jawa Barat dan Nara Sumber Prof. Marwoto dari Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi. Kondisi OPT di pertanaman kedelai populasi rendah atau di bawah ambang kendali, dominasi OPT hama pemakan daun (ulat grayak). Kendala dalam pengembangan kedelai di lahan kayu putih antara lain: a) Tanam tidak serempak, pertanaman yang ditanam bulan April menderita kekeringan, b) tenaga kerja terbatas, c) benih bantuan terlambat sehingga memakai benih sendiri. Ketua Gapoktan Sanca Jaya Pak Tjasma mengatakan untuk tahun depan akan diusahakan tanam serempak agar tidak terjadi kekeringan seperti sekarang ini. Selain benih bantuan dan sarana produksi dapat diterimakan tepat waktu pak pak Tjasma juga mengharapkan jaminan harga jual kedelai di tingkat petani benar-benar terlaksana. Temu lapang dikordinasi oleh BPTP Jawa Barat LO Kecamatan Gantar Bapak Atang Muhammad Safei dan Kordinator ibu Tri Hastini.

Prof. Marwoto/KN