Berita » Praktek Petani Indramayu dalam Budidaya Kedelai

indramayu

Kabupaten Indramayu ditetapkan sebagai kawasan pelaksanaan program peningkatan produksi kedelai di provinsi Jawa Barat tahun 2015. Dalam rangka mendukung kesuksesan program tersebut, Badan Litbang Pertanian melalui Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi) dan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat melakukan kegiatan pendampingan pada tanggal 23−24 April 2015. Guna meningkatkan produksi kedelai perlu dilakukan identifikasi kesesuaian agroekosistem dan cara budidaya kedelai yang dilakukan petani agar teknologi yang direkomendasikan dapat efektif. Identifikasi agroekosistem telah diulas dalam berita web berjudul “Kawasan Perhutani Penopang Utama Pengembangan Kedelai di Provinsi Jawa Barat”. Berdasarkan PRA di Desa Sanca dan Bantarwaru Kecamatan Gantar (observasi lapang dan wawancara dengan petani), Desa Cikawong dan Desa Jatimungal Kecamatan Terisi (wawancara dengan petani), serta PPL, maka budidaya kedelai yang biasa diterapkan petani adalah sebagai berikut:

  1. Persiapan lahan: Tanpa olah tanah pada lahan dengan pola tanam padi-kedelai-kedelai dan padi-padi-kedelai. Pada lahan kering dengan pola tanam kedelai-kedelai-kedelai dilakukan pengolahan tanah.
  2. Saluran drainase: pada umumnya tidak ada saluran drainase, kalaupun ada hanya satu saluran ditengah-tengah petakan.
  3. Penanaman: cara ditugal dengan jarak tanam mengikuti jarak tanam padi yaitu sekitar 30 cm x 30 cm atau 35 cm x 35 cm, 2‒3 biji/lubang, dengan kebutuhan benih 40‒50 kg/ha. Setelah biji ditanam, kemudian ditutup dengan mulsa jerami.
  4. Varietas dan benih: dalam tiga tahun terakhir (sejak 2012), sebagaian besar petani menanam benih kedelai bantuan pemerintah, varietas Anjasmoro, Grobogan, dan sebagian kecil dengan varietas Wilis. Petani yang tidak memperoleh cukup benih, akan membeli benih dari penangkar setempat atau membeli dari pasar atau membeli dari asosiasi kedelai Jabar (menurut petani varietas Anjasmoro). Dari observasi pertanaman di lapang, varietas yang ditanam adalah Anjasmoro, Grobogan dan Wilis dengan tingkat kemurnian 80% (perkiraan).
  5. Pemupukan: dengan 150 kg Phonska/ha + 50 kg ZA/ha atau dengan pupuk NPK cap Mangga (15-15-15) dosis 150‒200 kg/ha dan pupuk daun seminggu sekali. Pupuk diberikan dengan cara disebar pada saat tanaman berumur 25 hari. Pupuk daun disemprotkan setiap seminggu sekali sejak tanaman berumur 15 hari hingga berbunga.
  6. Pengendalian gulma: dilakukan sekali pada umur 20‒25 hari dengan herbisida kontak. Penyiangan manual tidak pernah dilakukan karena keterbatasan tenaga dan biaya.
  7. Pengendalian hama: hama yang banyak menyerang adalah ulat grayak. Pengendalian biasa dilakukan dengan penyemprotan dengan insektisida, dan penyemprotan dilakukan pada pukul 09.00 WIB atau pukul 15.00 WIB tergantung tersedianya tenaga. Berdasarkan penuturan petani saat menyemprot, ulat sudah cukup besar. Serangan ulat grayak tertinggi terjadi pada bulan Februari. Pada observasi lapang, ditemukan juga ulat pemakan daun lainnya, dan juga serangan lalat bibit (Agromiza) tetapi dengan intensitas sangat rendah. Hama lain yang banyak menyerang adalah penghisap dan penggerek polong, dan petani masih belum tahu cara pengendaliannya yang efektif.
  8. Panen dan perontokan: panen dilakukan dengan cara dipotong menggunakan sabit kemudian dijemur 2−3 hari dan dirontok menggunakan tresher. Permasalahan utama bila saat panen terjadi banyak hujan, mereka hanya menumpuk berangkasan sehingga banyak polong dan biji yang busuk.
  9. Keragaan hasil: Dengan varietas Anjasmoro dan Grobogan produktivitas mencapai 1,8−2,0 t/ha (penuturan petani) dengan kadar air 18−20% (perkiraan kami berdasarkan penuturan petani saat biji digigit). Dari keragaan pertanaman di lapang yang kami observasi, perkiraan produktivitas 1,0−1,7 t/ha.
  10. Pemasaran hasil: (a) dijual ke pedagang di pasar dengan harga Rp6000−7000/kg tergantung kualitas, (b) dijual ke pedagang pengumpul setempat dengan harga Rp6500−7200/kg tergantung kualitas, (c) dijual ke asosiasi kedelai Jabar dengan harga Rp 6000/kg. Menurut petani, pemasaran kedelai sangat mudah.

Peningkatan produktivitas kedelai dapat dilakukan melalui beberapa peluang yaitu :

  1. Penggunaan benih berkualitas, karena salah satu penyebab rendahnya produktivitas adalah daya tumbuh benih yang rendah.
  2. Pembuatan saluran drainase. Pembuatan saluran drainase dapat dilakukan secara selektif untuk menghemat biaya, yaitu pada lahan-lahan yang drainasenya kurang baik. Cekaman kelebihan air menjadi penyebab kurang optimalnya pertumbuhan kedelai.
  3. Perlu dianjurkan penggunaan pupuk organik 2,5 t/ha (pupuk kandang akan lebih baik) dan pupuk SP36 (50−100 kg/ha). Pada lahan yang mempunyai pH <6, disarankan menambahkan dolomit dosis 500−750 kg/ha. Pupuk kandang, SP36 dan dolomit dicampur rata dan diberikan saat tanam sekaligus sebagai penutup benih. Kebiasaan petani memupuk NPK dosis 150−200 kg/ha perlu tetap dipertahankan. Terdapat kelompok tani setempat yang memproduksi pupuk organik.
  4. Perlu pembinaan untuk meningkatkan pengetahuan petani melalui kelompok-kelompok tani dalam pengenalan dan pengendalian hama.
  5. Perlu pembinaan kepada kelompok-kelompok tani dalam penanganan panen dan pasca panen bila saat panen curah hujan masih tinggi.

Abdullah Taufiq