Berita » Produk Ubijalar Ungu Dapat Sambutan Masyarakat

pelatihan-tuban5

Upaya mendorong adopsi inovasi kacang-kacangan dan umbi-umbian yang dilaksanakan Balitkabi mulai diterapkan oleh masyarakat, dan mulai mendapat dukungan Pemerintah Kabupaten Tuban Provinsi Jawa Timur. Dua dari 46 peserta pelatihan Produk Olahan Pangan berbahan baku ubijalar dan ubikayu yang dilaksanakan di Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan (BP2KP, dulu KIPP) Tuban, tanggal 24 Desember 2008, kini mulai memproduksi dan memasarkan produk olahan dari ubijalar dan ubikayu. Di samping itu, kelompok wanita yang dimotori dua warga ini mulai mengunduh bantuan dana, dan upaya lain berupa pengembangan budi daya ubijalar ungu sebagai untuk bahan baku.

Sebulan pascapelatihan, Djuwariah (32) dan Buti Suryani (30), ibu Rumah Tangga warga Desa Sambungrejo Kec. Merakurak Kab Tuban mulai mencoba di rumah dan memasarkan produk olahan dari umbi-umbian. Awalnya hanya onde-onde, kemudian merambah kue lainnya yakni bronis, kue marmer, kue mangkok, bolu kukus, wingko, cake tape,  singkong keju, dan keripik. Semua resepnya diperoleh saat pelatihan yang dilaksanakan oleh Balitkabi.

Bahan utama diperoleh dari ubi jalar, ubi kayu dan terigu. Kulit onde-onde dibuat dari ubi jalar ungu, tepung ketan, dan kanji; dan isinya dari kacang hijau yang kadang disosoh kadang tidak, karena tidak mempunyai alat penyosoh sehingga masih menggunakan alat tradisional lumpang dan alu. Pembuatan adonan/ulenan untuk kue yang mereka buat juga sederhana dengan diaduk biasa dengan tangan. Jadi masih kurang rata adonannya, kata mbak Ju, panggilan akrab Juwariah. Andaikan dengan blender mungkin lebih rata, lebih mengembang, dan menarik teksturnya. Namun kami belum punya dana, kata bu Buti.

Tak puas dengan apa yang diperoleh dari pelatihan di BP2KP, Juwariah, Buti, dan Suntomo, meminta bantuan Pak Sholeh, Ketua UP FMA (Unit Pengelola Kegiatan Penyuluhan di Tingkat Petani, organisasi petani bentukan FEATI) Desa Sembungrejo untuk sekali lagi mengundang Ir. Erliana Ginting, MSc. dan kawan dari Lab Pangan Balitkabi untuk melatih Kelompok mereka. Hingga akhirnya terseleng
gara pelatihan produk olahan pangan berbasis umbi-umbian di Desa Sambungrejo, tanggal 4 Februari 2009.

Mbak Ju awalnya hanya memasarkan onde-onde di sekitar rumah mereka, dan sebagian dibawa mbak Ju ke Taman Kanak-Kanak tempat ia mengajar di Merakurak. Order dan jenis yang kue ditawarkan oleh mereka pun berkembang tidak cuma onde-onde, namun juga kue-kue basah, serta keripik. Onde-onde yang mulanya hanya dijual dengan titip ke kios di sekitar rumah mereka kini telah berkembang menjadi lebih luas, selain kerap dipesan oleh warga kampung untuk hajatan, rapat/pertemuan desa mereka, kini BP2KP Tuban, juga telah menjadi pelanggannya, dan menebarkan promosi ke Kantor-kantor di Kabupaten Tuban. Singkatnya penciptaan (demand driving) atas ubi jalar ungu yang dilakukan mulai menampakkan hasil. Mulai berkembangnya usaha rumah tangga ini ternyata menghadapi masalah berupa tidak kontinyunya ketersedian bahan baku onde-onde yakni ubi jalar ungu. Penyebaran pertanaman ubi jalar ungu saat ini memang baru terpusat di daerah-daerah wisata seperti Malang dan Bali. Varietas unggul nasional ubi jalar ungu baru akan dilepas pada tahun 2010.

Berkembangnya produk olahan dari umbi-umbian sebagai ladang pemberdayaan ekonomi produktif yang harus dikembangkan dan kesulitan bahan baku ini dilirik Suntomo, Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa (LPMD), dan Sholeh, Unit Pengelola FMA = Farmer Managed Extention Activities (organisasi petani bentukan FEATI) Desa Sembungrejo. Suntomo, selain usul kepada pak Lurah agar setiap acara desanya kue yang dihidangkan adalah produk lokal berbasis umbi-umbian, juga menggandeng Gapoktan yang didukung oleh Program Pemberdayaan Petani melalui Teknologi dan Informasi Pertanian (P3TIP / FEATI) untuk ikut mendorong usaha rumah tangga ini, khususnya bagaimana penyediaan bahan baku dapat diatasi.

Untuk itulah Suntomo, mbak Ju, Buti, Pak Sholeh, dengan 30 kawan anggota Kelompok Wanita dari UP FMA Desa Sambungrejo, tanggal 26 Februari 2009 mengunjungi Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur dan Balitkabi di Malang. Di Balitkabi mereka ditunjukkan beraneka varietas dan calon varietas ubi jalar, ubi kayu dan kacang-kacangan koleksi Balitkabi. Di Lab Pangan Balitkabi mereka ditunjukkan peralatan-peralatan yang mendukung pengembangan usaha mereka. Selain mendapatkan buku-buku Teknologi Produksi Kedelai, Kacang Tanah, Kacang Hijau, Ubi Kayu dan Ubi Jalar, mereka pun membawa pulang dua ikat stek calon varietas ubi jalar ungu. Walaupun belum secara resmi dilepas oleh Menteri Pertanian, namun klon ubi jalar ungu tersebut dinilai sudah stabil dan bisa dikembangkan secara terbatas (dengan pengawasan).

Upaya keras Juwariyah, Buti, Suntomo mulai mendapatkan perhatian. Selain produknya mulai dikenal dan order semakin bertambah, mereka pun mulai mengembangkan ubi jalar ungu di desa mereka. Bahkan untuk tahun 2009, FEATI memberikan anggaran 25 juta rupiah, yang sepertiganya dapat dimanfaatkan untuk pengadaan alat. Kini mereka malah harus kerja lebih keras, selain melayani pesanan snack dari ubi jalar dan ubi kayu kepada pelanggannya, mereka juga harus menyiapkan pengembangan ubi jalar ungu untuk bahan baku produk olahan mereka. Bahkan kabar yang terakhir menyatakan bahwa pada tanggal 24 Maret 2009, Bupati Tuban, berencana untuk melihat dari dekat kiprah warga di Sembungrejo.

Pengenalan varietas ubi jalar ungu dan pelatihan pengolahannya akhir tahun 2008 telah menjadi pemicu bagi berkembangnya sistem produksi dan pengolahan ubi jalar ungu di Kab Tuban. Permintaan sudah mulai terbentuk, kelembagaan pun menyambut dengan baik. Klon varietas unggul ubi jalar ungu pun sedang bersiap-siap untuk sidang pelepasan. Semoga tidak berkepanjangan agar sinergi yang sudah mulai terbentuk tidak hilang begitu saja. Jaslit_Balitkabi

PROFIL

No

NAMA & alamat

Hubungan dengan Diseminasi HP Balitkabi

Keterangan

1

JUWARIYAH;
32 th, Warga Desa Sambungrejo, guru Taman Kanak-Kanak di TK Merakurak, Tuban

 

Peserta pelatihan “Produk Pangan Olahan Umbi-umbian dan Kacang-Kacangan” tanggal 24 Des 2008 di KIPP Tuban; Mereka mencoba bbrp resep lalu memproduksi untuk dijual ke warga sekitar tempat tinggalnya; lalu berkembang melayani pesanan Hajatan Warga sekitar; Rapat Desa, BP2KP (dulu KIPP) dan kini pesanannya meluas

Produk pertama yang dijual adalah onde-onde; jumlah sekitar 6 resep (1 resep = 60 butir).

Lalu bronies, kue marmer, kue mangkok, bolu kukus, wingko, cake tape, singkong keju, kripik.

 

Pemesan/konsumen: warga; rapat desa, acara sekolah, hajatan;

 

Usaha:

Onde-onde; biaya 200 rb, untung 30 rb;

Bronies hanya untung 4 rb.

 

Masalah: ubi jalar ungu sulit diperoleh secara kontinyu

2

BUTI SURYANI
30 th, ibu Rumah Tangga di Desa Sambungrejo Kec. Merakurak Kab Tuban

 

 

3

SUNTOMO

Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa (LPMD) Desa Sambungrejo Kec. Merakurak Kab Tuban

 

Memfasilitasi pemberdaya­an masyarakat desanya; dengan merancang pelatihan, propo­sal, men­cari saluran sumber dana, nara sum­ber bahkan “memaksa” Desa agar kue/hi­dangan untuk tiap kegiat­an di desanya dibuat dari ubi jalar dan ubi kayu

 

4

MOCH. SHOLEH

Ketua UP FMA FEATI di Desa Sambungrejo Kec. Merakurak Kab Tuban

 

FEATI/P3TIP (Program Pemberdayaan Petani melalui Teknologi dan Informasi Pertanian)

 

Memfasilitasi penyuluhan berbasis petani di Desanya; menjadi penghubung Kelompok UP FMA dengan FEATI;

Salah satu pendukung pengembangan produk olahan berbasis ubi jalar dan ubi kayu di Sembungrejo