Berita » Produksi Kedelai di Grobogan Bisa Lebih Tinggi!

Kabupaten Grobogan merupakan salah satu daerah sentra produksi kedelai di Jawa Tengah, selain Kabupaten Wonogiri, Kebumen, Demak, Purworejo, Blora, Rembang, Brebes, Cilacap, Sragen, Banyumas, Klaten maupun Pati. Dari 13 Kabupaten sentra produksi kedelai di Jateng, Kabupaten Grobogan menyumbang luas tanam dan produksi tertinggi. Pada tahun 2014, Kabupaten Grobogan menargetkan perluasan areal tanam (PAT) kedelai 26.084 hektar dengan produksi sebanyak 52.179 ton. Tanam perdana PAT kedelai di Desa Pandan Harum, 16 Oktober 2014, yang merupakan realisasi kerjasama Kementan, Pemda setempat, TNI AD dan Kelompok Tani. Tanam perdana dihadiri oleh Menteri Pertanian Pertanian yang diwakili oleh Direktur SDMP. Para undangan yang hadir pada PAT kedelai yaitu Dirjentan, Direktur Akabi, Kasad TNI AD, Gubernur Jateng, Bupati Grobogan, Dinas Pertanian Jateng, Perbankan, Pengusaha, Pengrajin tempe dan tahu, penangkar benih, serta petani. Di samping itu 200 anggota TNI AD, 100 anggota POLRI orang, dan 1000 orang anggota kelompok tani juga hadir dan berpartisipasi. Dr Yusmani Prayogo (peneliti pendamping SLPTT kedelai Provinsi Jateng) dan Kepala BPTP Jateng (Dr Ismail Wahab) dan staf, hadir mewakili Badan Litbang Pertanian.Menurut paparan Kepala Diperta Jateng dan Ketua Kelompok Tani Sumber Raharjo (Hadi Sugianto), petani di Kecamatan Gabus selama 15 tahun terakhir enggan untuk menanam kedelai karena harga yang tidak layak. Oleh karena itu, petani tanam kacang hijau, padi, dan jagung sesuai dengan pola tanam yang dilakukan selama ini. Namun setahun terakhir para petani mengalami kerugian karena harga jagung hanya Rp. 2.100,-/kg. Dengan kondisi tersebut maka petani beralih menanam kedelai dengan tujuan mengais keuntungan lebih, dan ternyata dengan menanam varietas Grobogan maka produksi hingga mencapai 2,2 t/ha dan produksi tersebut mengungguli produksi nasional yaitu hanya 1.6 t/ha. Terkait dengan hal tersebut maka Kepala Diperta Jateng mengajak hadirin untuk mengapresiasi petani Grobogan sebagai penghargaan atas keunggulan dalam budidaya kedelai. Ka Diperta Jateng memohon dengan sangat kepada pemerintah untuk melanjutkan program kegiatan ini, khususnya di Grobogan karena petani masih termotivasi untuk dapat meningkatkan produksi sesuai dengan potensinya varietas Grobogan yang dapat mencapai 3,0 t/ha.

Untuk mencapai produksi 2.2 t/ha menurut paparan petani setempat tidak terlalu sulit karena hanya menggunakan teknologi budidaya lokal meliputi varietas Grobogan dengan jarak tanam 35 cm x 15 cm, benih diberi perlakuan (seed treatment) menggunakan bakteri Rhizobium bagi lahan yang relatif baru atau belum pernah ditanami kedelai, pupuk organik dosis anjuran, pengendalian hama penyakit berdasarkan pemantauan. Hama yang sering muncul adalah ulat grayak (Spodoptera litura), pengisap polong (Riptortus linearis) dan penggerek polong (Etiella zinckenella). Penyiapan lahan dengan cara dibajak kemudian digaru sudah dapat langsung ditanami, alhamdulillah satu hari sebelum dilakukan penanaman oleh Bapak Mentan, lahan diguyur hujan semalam sehingga memberikan sinyal baik dalam program PAT yang dilakukan oleh Mentan dengan TNI AD ini.Kendala yang dihadapi petani Grobogan adalah; (1) penggunaan benih bermutu masih sangat rendah, (2) risiko budidaya kedelai cukup besar terutama adanya serangan hama / penyakit, dan (3) jaminan harga kedelai dari pemerintah tidak jalan karena pada pada musim panen raya harga kedelai impor lebih murah daripada kedelai yang ditentukan pemerintah (HPP Rp. 7.600, kedelai impor Rp. 7.400,- sehingga pengrajin lebih tertarik kedelai impor).Pada acara tersebut juga dilakukan penandatanganan “Gerakan Swasembada Kedelai” yang dilakukan oleh Mentan, Kasad TNI AD, Gubernur Jateng, Bupati Grobogan, Ka Diperta Jateng, Pengusaha, Perbankan, Penangkar benih, dan Kontak Tani. Selain itu, juga diluncurkan penggunaan kartu pintar (Smart Card) yang dipertunjukkan oleh Bapak Adi Sasano Menteri Koperasi RI periode Presiden BJ Habibie. Keunggulan kartu pintar adalah semua bantuan dari pemerintah yang diberikan ke kelompok tani dapat diakses melalui kartu pintar. Selain itu, kartu pintar memberi jaminan kestabilan harga pada waktu panen kedelai, di mana pembeli sudah ditetapkan terlebih dahulu sebelum petani menanam kedelai. Dengan demikian, petani lebih termotivasi untuk membudidayakan kedelai guna mendukung pencanangan program pemerintah dalam pencapaian swasembada kedelai.Dr. Y. Prayogo/AW