Berita » Pulo Kulon Pulo Kedelai

Hampir setiap teras-teras rumah petani Pulo Kulon, salah satu Kecamatan di Kabupaten Grobogan, pertengahan Januari 2014, penuh brangkasan kedelai. Di jalanan sepeda motor berlalulalang dimuati brangkasan kedelai. Lantai-latai jemur pun penuh brangkasan kedelai. Itulah pemandangan yang bisa kita lihat saat ini. Bukti Pemerintah Daerah Kabupaten Grobogan membuat program Rumah Kedelai tampak di sini. Rumah kedelai diharapkan dapat menjadi sebuah miniatur penanganan agribisnis kedelai dari hulu hingga hilir. Kelak, rumah kedelai diharapkan berkembang ke seluruh Indonesia. Kedelai Grobogan pada tahun 2008, diangkat menjadi varietas kedelai nasional. Dia unggul karena umurnya genjah (73–75 hari), biji besar sebanding kedelai impor, dan produksi tinggi (potensi >3 t/ha). Dus karenanya diminati banyak petani di Indonesia. Program Rumah Kedelai yang dibidik bukan hanya produksi kedelainya saja, tetapi keseluruhan mulai perencanaan, produksi, pascapanen primer dan pengolahan hasil menjadi bahan pangan berbahan baku kedelai seperti tahu, tempe, kecap, susu kedelai. Bukan hanya produksi kedelai dan bahan pangan olahannya saja yang menjadi titik beratnya, tetapi juga sistem promosi dan pemasaran juga digarap. Untuk ini Pemkab Grobogan menggandeng Universitas Gajah Mada dan Badan Litbang Pertanian. Kepala Badan Litbang Pertanian Dr Hariono dalam, bulan Juli 2013 lalu, menyerahkan Benih Sumber Kedelai Varietas Grobogan kelas Benih Dasar (FS) sebanyak 500 kg kepada Bupati Kepala Daerah Kabupaten Grobogan. Berikutnya pada Oktober 2013, menambah bantuan 100 kg benih BS dan 100 kg benih FS untuk dijadikan sebagai benih sebar. Hasil pantauan tim peneliti Balitkabi (Prof. Marwoto, Dr Ghozy Manshyuri dan Dr Titik Sundari) mendapati bahwa benih tersebut telah ditanam di Pulo Kulon di Kelompok Tani Kabul Lestari pimpinan Bapak Ali Muctar (8 ha), dan 100 kg (2 ha) Kebun Dinas Pertanian Tanaman Pangan. Berdasarkan informasi pak Ali Muctar dan Kepala Dinas, serta Kepala BPSB Provinsi Jawa Tengah Ir. Neni, benih tersebut telah disertifikasikan menjadi benih pokok. Diperkirakan multipilkasi benih bantuan tersebut dapat menghasilkan benih 10-15 ton benih Benih Pokok). Benih Pokok ini dapat dikembangkan pada areal 200–300 ha untuk menghasilkan 300–450 ton benih sebar (ES).Kendala produksi benih di Kabupaten Grobogan adalah masalah pengeringan, karena kedelai dipanen pada musim hujan. Pola tanam di Pulo Kulon adalah kedelai–padi–padi atau kedelai–padi–kedelai. Pola tanam ini merupakan pola tanam warisan nenek moyangnya. Kondisi saat ini harga kedelai konsumsi pada saat panen raya cukup menggairahkan petani untuk memproduksi kedelai, karena dengan kadar air 17–18% harga kedelai mencapai Rp7.850 per Kg dan kadar air 14-15% dengan harga Rp8.100. Harga ini lebih tinggi dari harga HPP yang ditetapkan pemerintah Rp7.400 per kg dengan kadar air 12%.

Diskusi Rumah Kedelai dengan Bapak Bupati, Kepala Badan Litbang Pertanian, Bapak Taufik dari Kementerian Koperasi dengan beberapa pakar kedelai. Bapak Kepala Badan Litbang Pertanian Menyerahkan bantuan benih sumber kedelai Grobogan 500 kg untuk ditangkarkan.

Pertanaman Kedelai di Pulo Kulon dan alat transportasi brangkasan kedelai yang dilakukan petani.

Kendala penjemuran brangkasan kedelai di lapangan dan di lantai jemur pada musim hujan dibutuhkan bantuan alat pengering.


Sepanjang jalan raya Pulo Kulon hampir setiap teras rumah dipenuhi brangkasan kedelai untuk diproses.


Marwoto/AW