Berita » Pupuk dan Kapur Mengatrol Produksi Kacang Tanah di Lahan Kering Masam Lampung

Keragaan tanaman paket teknologi pada saat umur 30 dan 45 hari setelah tanam, Lampung Tengah.

Sekitar 60% usahatani kacang tanah di Indonesia berada di lahan kering dan 40% sisanya di lahan sawah. Oleh karena itu teknologi budidaya untuk kacang tanah di lahan kering penting untuk dirumuskan. Salah satu lahan kering yang berpotensi untuk budidaya kacang tanah adalah lahan kering bersifat masam yang tersebar luas di Provinsi Lampung (862.647 hektar). Komoditas yang biasa ditanam adalah padi dan palawija yang terdiri atas komoditas jagung, kedelai, kacang tanah, ubikayu, dan ubijalar. Melihat luasnya lahan kering di Lampung, maka peluang pemanfaatan lahan kering di Propinsi Lampung masih sangat besar. Apabila lahan ini ditanami kacang tanah, maka berpeluang meningkatkan pendapatan petani di provinsi tersebut. Khusus untuk kacang tanah, luas panen di Provinsi Lampung sekitar 11 ribu hektar dengan produktivitas berkisar 1,17 t/ha, hal ini memberikan peluang untuk ditingkatkan dengan menerapkan teknologi budidaya kacang tanah yang tepat. Namun demikian sebaran jenis tanah yang terluas di Provinsi Lampung adalah Ultisol dan Oxisol yang pada umumnya mempunyai pH masam, kandungan C-Organik, N-total, K-dd, Ca-dd dan Mg-dd termasuk rendah, ketersediaan P dalam tanah tergolong sedang hingga tinggi, tingkat keracunan Aluminium dan kejenuhan Aluminium mulai rendah hingga tinggi. Tanaman kacang tanah mempunyai batas kritis kejenuhan Al 30%. Dari segi keharaan, untuk budidaya kacang tanah tanah ini mempunyai banyak kekurangan. Kacang tanah dapat berproduksi dengan baik jika ditanam pada tanah yang agak masam, tetapi optimal pada pH tanah 6,0–6,5 dengan kandungan bahan organik (C-org) mendekati 2%, ketersediaan K dalam tanah 0,2-0,3 me/100g, kandungan Ca > 0,6 me/100g dan Mg > 0,6 me/100 g.

Penerapan paket teknologi anjuran berupa pemupukan N (50 kg Urea/ha) dan pemberian amelioran Dolomit (500 kg/ha) yang disertai dengan jarak tanam 40 x 15 cm dan pengendalian hama dan penyakit yang tepat mampu meningkatkan hasil kacang tanah, dan memberikan bobot polong tinggi (4.625 kg/ha polong segar) dan mampu meningkatkan hasil polong segar hingga 23% dibandingkan dengan hasil yang diperoleh petani (3.937 kg/ha polong segar).

Keragaan tanaman paket teknologi pada saat umur 30  dan 45 hari setelah tanam, Lampung Tengah.

Masalah utama lahan kering masam adalah keharaan dan berpotensi meracuni tanaman. Pemupukan dan pemberian dolomit/kapur akan meningkatkan pH tanah, ketersediaan Ca, dan menurunkan konsentrasi aluminium dalam tanah sehingga mengurangi potensi keracunan bagi tanaman. Pemupukan dan pengapuran mampu meningkatkan ukuran biji sehingga dicapai peningkatan hasil polong yang tinggi.

Paket teknologi budi daya anjuran memberikan tingkat kelayakan secara ekonomi tinggi, lebih tinggi dari teknologi petani, B/C rasio masing-masing 3,12 dan 2,22. Hasil analisis usahatani juga menunjukkan bahwa penjualan kacang dalam bentuk polong kering lebih menguntungkan (dengan peningkatan keuntungan rata-rata 28%) daripada dalam bentuk polong segar meskipun diperlukan biaya dan tenaga untuk penjemuran. Kebiasaan petani memang seringkali menjual dalam bentuk polong kering terutama menjelang musim tanam yaitu sekitar November dan Maret. Secara kimia tanah, lahan kahat akan unsur hara N, C-org, Ca, Mg dan K dan pemupukan urea dan dolomit dapat mengatasi kekurangan N, Ca dan Mg. Dengan kata lain kedua macam pupuk tersebut sudah dapat mengatasi sebagian kekurangan hara.

Prof. Marwoto/AW