Berita » Pupuk Hayati Unggulan Nasional

1.joko_said_2

Pupuk hayati memiliki prospek yang bagus untuk dikembangkan dan saat ini semakin diminati oleh petani karena selain ramah lingkungan, juga dapat meningkatkan produktivitas tanaman. Berangkat dari temuan tersebut, Komite Inovasi Nasional (KIN) menetapkan pupuk hayati sebagai salah satu dari 14 program unggulan inovasi nasional dan merekomendasikan untuk memproduksi dan menguji multilokasi pupuk hayati dalam skala besar, dan rekomendasi tersebut telah disetujui oleh Presiden R.I. Demikian disampaiak Prof Djoko Said Damardjati, saat menyampaikan makalah kunci pada Seminar Hasil Penelitian Tanaman KAcang-kacangan dan Umbi-umbian, di Aula Balitkabi, 22 Mei 2013.

Pupuk hayati merupakan formula pupuk berisi mikroba, baik tunggal maupun beberapa mikroba, dalam satu bahan pembawa dengan fungsi untuk menyediakan unsur hara dan meningkatkan produksi tanaman. Mikroba yang diformulakan merupakan mikroba yang bermanfaat dan tidak bersifat sebagai patogen (penyebab penyakit) tanaman. Beberapa mikroba yang digunakan sebagai pupuk hayati adalah dari golongan bakteri penambat N2 simbiotik (rhizobia), bakteri penambat N2 non-simbiotik (antara lain Azotobacter dan Azospirillum), mikroba pelarut P (Bacillus sp., Pseudomonas sp., Streptomyces sp. dan cendawan Trichoderma sp., Aspergillus sp., Penicillium sp.).

Badan Litbang Pertanian pernah memiliki pupuk hayati Rhizo-Plus. Rhizo-Plus merupakan formulasi pupuk hayati yang mengandung bakteri Rhizobium penambat nitrogen dan diperkaya dengan bakteri pelarut fosfat yang dikenal dengan nama Rhizo-Plus. Mesti tanpa penggunaan pupuk Urea, aplikasi Rhizo-Plus pada tanaman kedelai mampu meningkatkan produksi rata-rata 0,25 ton/ha. Aplikasi Rhizo-Plus juga mengurangi pupuk P dan K anorganik hingga 50%. Selain menekan penggunaan pupuk anorganik, pupuk hayati Rhizo-Plus memiliki kelayakan yang tinggi untuk dipasarkan, karena harganya sangat terjangkau dan penggunaannya di lapang sangat sederhana. Rhizoplus pernah digunakan pada pertanaman kedelai hingga mencapai luas 300.000 ha pada 1998/1999. Jelas Prof Damardjati yang menulis makalah bersama Etty Pratiwi dari Balai Besar Penelitian Sumberdaya Lahan Pertanian, Bogor.

Namun Rhizo-Plus lemah pada kondisi suhu yang terlalu tinggi. yaitu bakteri yang ada dalam kemasan Rhizo-Plus mati pada kondisi suhu yang terlalu tinggi selama penyimpanan atau selama distribusi, sehingga tidak efektif lagi ketika inokulan tersebut akan digunakan. Inilah kelemahan sehingga Rhizo-Plus menjadi tidak berkembang. Minat produsen dan petani terhadap pupuk hayati pun ikut menurun.

Mengingat potensi keunggulannya dan kelemahannya itulah kemudian dibentuk konsorsium yang melibatkan lintas lembaga baik lembaga riset maupun perguruan tinggi. Pada tahun 2011, Kementerian Pertanian dan Komite Inovasi Nasional (KIN) merintis Konsorsium Pengembangan Pupuk Hayati Nasional sebagai terobosan teknologi pertanian dengan melibatkan Badan Litbang Pertanian, LIPI dan IPB.

Uji multilokasi produk-produk pupuk hayati pada tanaman kedelai telah dilakukan pada tahun 2011 di tiga lokasi di Provinsi Lampung. Kini, Konsorsium sedang menguji 8 produk pupuk hayati. Pengujian yang semula hanya pada tanaman kedelai, kini ditambah dengan tanaman padi (sawah dan gogo), dan cabe. Selain di Lampung, pengujian juga dilakukan di Provinsi Banten, Provinsi Jawa Barat, dan Provinsi Jawa Timur. Hasil pengujian pada akhir tahun 2012 ini sudah dapat mengidentifikasi inovasi pupuk hayati unggul untuk kedelai, padi, dan cabai. Pada tahun 2013 pupuk unggulan terpilih diuji dalam skala lebih luas di 5 provinsi untuk pertanaman kedelai, padi sawah, dan cabai. Diharapkan tahun 2014 pupuk hayati unggulan nasional yang terpilih dapat dicanangkan oleh Presiden RI pada Hari teknologi Nasional.

AW