Berita » Ragam Varietas Lokal Ubi Kayu

ragam

Ubi kayu tampil menjadi komoditas pangan dan komoditas industri yang menjanjikan. Bahkan, pemerintah mulai melirik dan memprogramkan pengembangan ubi kayu pada skala luas. Ubi kayu memiliki daya adaptasi yang luas, maka tidak mengherankan jika disetiap daerah di Indonesia terdapat beberapa varietas lokal ubikayu.

Layaknya komoditas umbi-umbian lainnya,  penamaan varietas lokal ubi kayu di sentra penanaman juga beragam dan beraneka macam. Boleh jadi secara genetik kemungkinan besar adalah sama, namun penamaannya bisa beragam. Termasuk di wilayah lahan kering di Malang Selatan (Kecamatan Kalipare) dan juga wilayah Blitar yang berbatasan dengan Malang Selatan, yakni Binangun, terdapat beragam varietas lokal ubi kayu. Di Kalipare, petani menyebutnya varietas Sembung, Sumatera, dan Kapuk. Di Binangun terdapat penamaan varietas lokal ubi kayu seperti Genjah Super, Ireng, dan Sembung. Sepintas keragamannya bisa terlihat  pada warna batang dan tangkai daun.

Menurut Pak Jarwo (Kalipare), varietas Sembung dicirikan oleh pohongnya atau umbinya yang mempunyai rasa pahit, tetapi kalau diolah menjadi tiwul bisa memes (empuk). Hal senada disampaikan juga oleh Pak Heri di Binangun. Lain lagi karakteristik dari varietas Genjah Super, kalau dikukus enak dan mempur, cerita Pak Hendro. Lebih lanjut varietas lokal Ireng mempunyai ciri utama batang yang “ngepang” (bercabang). Berbeda lokasi berbeda pula lahan budidayanya, di Kalipare ubi kayu cenderung dibudidayakan dalam hamparan, sedangkan di Binangun ubikayu banyak ditanam di pematang. Karenanya, fluktuasi harga jual ubi kayu akan lebih dirasakan oleh petani di Kalipare, sedangkan bagi penanam ubikayu di Binangun, tidak terpengaruh pada pendapatan karena hanya sebagai tanaman sampingan.

MMA/Arifin

ragam1 ragam3 ragam4
ragam5 ragam6 ragam7
Ragam varietas lokal ubi kayu di Malang dan Blitar