Berita » Raker Balitbangtan 2015, Hilirisasi Inovasi Pertanian Modern harus Dipercepat

Rapat Kerja (Raker) Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian tahun 2015 dilaksanakan pada tanggal 30–31 Oktober 2015, dengan tema “Percepatan Hilirisasi Inovasi Pertanian Modern Untuk Mewujudkan Swasembada Pangan Berkelanjutan”.

Acara dibuka oleh Bapak Kepala Balitbangtan, Dr. M. Syakir. Bapak Menteri Pertanian, Dr. Andi Amran Sulaiman, berkesempatan hadir sekaligus memberikan arahan tentang kebijakan pembangunan pertanian. Raker menghadirkan Pembicara Tamu baik internal maupun eksternal Kementerian Pertanian serta para pembicara internal Balitbangtan.

Peserta Raker berjumlah 430 orang terdiri dari pejabat Eselon-2, Eselon-3, Eselon-4, Koordinator Program, perwakilan Forum Komunikasi Profesor Riset (FKPR), serta peneliti senior lingkup Balitbangtan. Menteri Pertanian menyampaikan apresiasi kepada para peneliti dan perekayasa yang telah banyak menghasilkan inovasi teknologi, dan berpesan agar ilmu yang dihasilkan oleh para peneliti harus ”turun ke bumi” dan dapat dinikmati oleh masyarakat, serta mengajak para peneliti turun ke lapangan dengan sinergi yang kuat.

Arahan dan pembukaan Raker Balitbangtan 2015 oleh Dr. M. Syakir selaku Ka Balitbangtan (kiri), Dr. Didik Harnowo (Ka Balitkabi) pada acara raker (kanan).

Arahan dan pembukaan Raker Balitbangtan 2015 oleh Dr. M. Syakir selaku Ka Balitbangtan (kiri), Dr. Didik Harnowo (Ka Balitkabi) pada acara raker (kanan).

Beberapa hasil rumusan Raker Balitbangtan 2015 adalah sebagai berikut:

  1. Balitbangtan sebagai “bagian” dari birokrasi nasional, khususnya di bawah Kementerian Pertanian akan melakukan sinergi dan harmonisasi dalam mereorientasi kebijakan program maupun dalam operasionalisasi kegiatan litbang, baik internal kementerian yakni dengan seluruh Ditjen Teknis dan Badan-badan lainnya, juga meningkatkan kerja sama (networks) dengan lembaga litbang lainya, termasuk dengan Perguruan Tinggi.
  2. Balitbangtan sebagai lembaga penelitian dibawah Kementan, dituntut untuk mengembangkan paradigma baru dalam wujud:
    • mendukung sepenuhnya program-program strategis Kementerian Pertanian,
    • penelitian dan pengembangan harus terukur, terarah, progresif serta bermuara pada peningkatan kesejahteraan petani/masyarakat, dan
    • mengedepankan diseminasi aktif dan progresif dengan melibatkan petani, penyuluh dan Perguruan Tinggi.
  3. Model operasional pertanian bio-industri yang dilaksanakan oleh Balitbangtan pada tahun 2015 adalah:
    • Pertanian Bio-industri Berbasis Integrasi Ternak-Tanaman di 25 provinsi, dan
    • Pertanian Bio-industri Berbasis Monokultur (Single Commodity) di 10 provinsi. Berdasarkan hasil evaluasi, kegiatan pertanian bio-industri pada tahun 2015 masih memerlukan berbagai penyempurnaan antara lain dalam hal: a) Skala kegiatan masih relatif sempit, dan batasan kawasannya (bounderies-nya) belum tegas, b) Relasi siklus antar komponen kegiatan belum terukur, c) Pemanfaatan biomassa belum diidentifikasi dengan baik, d) Belum diikuti analisis (prediksi) finansial, ekonomi dan analisis neraca sumberdaya, serta e) Belum ada perhitungan kompensasi eksternal input oleh biomassa setempat. 4. Tindak lanjut pengembangan pertanian bio-industri TA 2016 adalah dengan lebih memasifkan kegiatan bio-industri di 79 lokasi, sebagai “medan tempur” dan area bagi peneliti untuk menjawab dan memecahkan masalah di lapangan.
  4. Percepatan hilirisasi inovasi pertanian juga dilaksanakan dengan menginisiasi “Gelar Lapang Inovasi Pertanian Modern (GLIP)”. GLIP merupakan kegiatan pengembangan dan penerapan pertanian modern spesifik lokasi berupa percontohan dengan skala luas 50−100 ha, berwawasan agribisnis, bersifat holistik yang didalamnya meliputi aspek pengembangan, penerapan teknologi praproduksi, produksi, prapanen dan pascapanen, pemberdayaan petani, penguatan kelembagaan, serta mendorong terjadinya kemitraan. Pertanian modern yang digelar antara lain dicirikan oleh penggunaan alat mesin/mekanisasi pertanian, efisien, dan zero waste serta ramah lingkungan.

AWj