Berita » Ramadhan, Momentum Melatih Menahan Diri

ramadhan1

  Marhaban Ya Ramadhan.  Menjelang ramadhan, keluarga besar Balitkabi selalu mengadakan ceramah agama, kali ini dilakukan 29 Juli 2011.  Solidaritas dan toleransi yang telah terbina nampak semakin kuat, tidak hanya karyawan muslim, karyawan yang beragama selain muslim pun mengikutinya.   Kepala Balitkabi, Dr. Ir. Moch. Muchlish Adie, MS dalam sambutannya mengharapkan agar puasa dijadikan momentum untuk meningkatkan kinerja dan sebagai proses peningkatan rasa peduli terhadap sesama. “Ramadhan, bukanlah persoalan lapar dan dahaga”, demikian penjelasan dari ustad Drs. Nurul Khumaidi M.Ag, dosen Universitas Muhammadiyah Malang, mengawali siraman rohani. Puasa merupakan persoalan  menahan diri.  Salah satu kelemahan utama manusia adalah kekurangmampuan untuk menahan diri. Manusia yang tidak mampu menahan diri niscaya akan mengalami keruntuhan. Ustad Drs. Nurul Khumaidi M.Ag. berdampingan dengan kepala Balitkabi, Dr. Ir. Moch. Muchlish Adie, MS dan Peneliti Utama Hama & Penyakit, Dr. Suharsono, MS
Menurut pak ustad, nilai ramadhan memang terletak pada hakekat keimanan dan introspeksi. Puasa dikelompokkan dalam tiga tingkatan, yakni 10 hari pertama merupakan puasa badani/jasmani, 10 hari yang kedua adalah puasa nafsani/jiwa, dan 10 hari yang ketiga adalah puasa rohani (merupakan puasa yang tertinggi tingkatannya). Dengan didasari oleh nilai iman dan introspeksi, InsyaAllah puasanya akan berada pada puasa yang sesungguhnya. Ustad Drs. Nurul Khumaidi M.Ag, Dosen Universitas Muhammadiyah Malang saat ceramah tentang Pada akhir ceramah yang dilanjutkan dengan diskusi, ustad Khumaidi mengajak hadirin untuk membaca ”Allahumma baariklana fi rojaba wa sya’bana wa ballighna romadhan” dengan tujuan agar kita dapat dipertemukan kembali pada bulan ramadhan yang akan datang. Selamat menjalankan ibadah puasa, semoga kita selalu diberikan kesabaran dan kekuatan menjalankannya.  Amin…. Karyawan/karyawati Balitkabi dalam acara ceramah Ramadhan