Berita » Rekayasa Genetik untuk Pangan Sehat

Rekayasa genetik, saat ini, telah memberikan manfaat ekonomi bagi manusia. Prof. Cathie Martin (group leader di John Innes Centre), secara intensif telah melakukan penelitian keterkaitan makanan dan kesehatan manusia. Tanaman mampu bertindak sebagai fortifikator untuk meningkatkan mutu makanan. Makanan berkandungan nutrisi tertentu penting dalam mengatasi berbagai penyakit kronis pada manusia. Keberhasilan rekayasa genetik yang dilakukan oleh Prof. Cathie disampaikan pada plenary lecture yang berjudul Metabolic Engineering in Crops for Comparative Nutrition and Health-Promoting Food pada IAPB 2014.


Plenary lecture oleh Prof. Cathie Martin dan peserta IAPB 2014.Rekayasa genetik mampu meningkatkan phytonutrient. Keberhasilannya ditunjukkan oleh meningkatnya kandungan flavonol dari 1 mg flavonol/g berat kering dari tomat sebelum direkayasa genetik menjadi 100 mg flavonol/g berat kering setelah dilakukan rekayasa genetik. Bahkan juga telah dihasilkan tomat yang berwarna ungu, yang tidak hanya kaya flavonol tetapi juga kaya antosianin. Dari berbagai kajian, phytonutrient berpeluang mengatasi berbagai penyakit kronis pada manusia. Di samping itu juga dilakukan kajian tentang mekanisme phyonutrient dalam mengatasi penyakit kronis pada manusia. Peningkatan kandungan phytonutrient pada tanaman tomat khususnya untuk peningkatan kandungan isoflavon dilakukan dengan model rekayasa genetik pada tanaman lotus.Keberhasilan rekayasa genetik untuk pangan berhadapan dengan tingkat penerimaan konsumen. Di negara maju, pilihan utama masyarakat terhadap makanan adalah berdasarkan nilai nutrisnya. EPA (Environmental Protection Agency) sebagai suatu lembaga pengawas keamanan pangan lebih menekankan pada GMO tanaman yang mengandung gen pestisidal. Artinya tomat ungu sebagai makanan sehat tidak terkait dengan regulasi EPA. Namun demikian diperlukan edukasi yang terus-menerus terhadap masyarakat untuk menerima produk phytonutrient.

MMA, AK/AW