Berita » Research Station yang Ideal

1-korsel-1

National Institute of Crop Science (NICS) merupakan salah satu balai penelitian nasional di bawah RDA (Rural Development Administration) di Korea Selatan.  Sebelum melakukan kunjungan ke Deago dan Milryang dilakukan, Kepala Balitkabi, Dr. Muchlish Adie dan Ir. Suhartina, MS diterima Sam-Jong Lim, PhD, Direktur NICS di Suwon.  Dr. Sam-Jong Lim yang juga pemulia padi senior di Korea Selatan, menjelaskan berbagai fasilitas dan SDM di NICS, termasuk kegiatan pemuliaan kedelai di Daegu Research Statiob di Daegu yang difokuskan untuk tahu, taoge (sprout), kedelai hitam, dan umur genjah.  Pemuliaan padi diarahkan pada kualitas, khususnya pada rasa nasi. Di NICS Pak Muchlish dan Ibu Ina disuguhi minuman the botol Maysin yang kaya antioksidan, bahan bakunya jagung, merupakan salah satu produk hasil penelitian NICS yang dikomersialkan oleh swasta. Daegu Research Station, dikhususkan untuk pemuliaan kedelai. Kondisi lapang bersih dan tidak tampak rumput yang bersaing dengan kedelainya.  Sebagian besar kedelai hasil pemuliaan ditanam pada Minggu ketiga Mei, lahan menggunakan mulsa plastik, satu guludan ditanam dua baris dengan jarak 40 cm, 2 tanaman/lubang.  Antarguludan adalah 60–70 cm. Pertanaman plasma kedelai sebanyak 1000 aksesi sebagian mulai dipanen. 1000 aksesi tersebut ditanam sehari.  Tanaman kedelai semuanya tumbuh sangat baik karena memang terpelihara secara baik pula. Mekanisasi menjadi andalan pengelolaan kedelai di lapang. Pengolahan tanah, tanam, menyiang, memupuk, mengendalikan hama penyakit, full mekanisasi.  Bahkan untuk pengairan mengandalkan mesin penembak air yang daya tembaknya mencapai 50 m, dengan harga alat sangat mahal. Kedelai dipupuk N-P2O5-K2O dengan takaran 30–30–34 kg/ha.  Walaupun demikian dilapang masih terlihat serangan hama pengisap polong cukup tinggi dan bakteri pustul pada daun. Batang kedelai tumbuh besar-besar.  Umur tanaman kedelai mencapai kisaran 130–140 hari.  Dari pengamatan di lapang pada umur 95 hari telah ada yang mulai tua. Menurut Dr Han, Korsel tidak pernah melepas kedelai dari aksesi plasma nutfah, semuanya dihasilkan melalui persilangan.  Persilangan kedelai dilakukan di rumah kaca dan juga langsung dilakukan di lapang, tanaman yang telah disilangkan disungkup dengan plastik.  Menurut Dr. Han persilangan di lapang lebih banyak menghasilkan biji hasil persilangan.  Di lapang juga terdapat kegiatan seleksi hasil mutasi menggunakan iradiasi dan bahan kimia.  Di rumah kaca juga dilakukan uji ketahanan galur kedelai terhadap pengisap polong, perlakuannya diinfestasi dan tanpa infestasi imago.  Di lapang terdapat sederet gentong dari tanah, untuk uji fermentasi kedelai untuk kecap.  Yang terkesan di lapang, selain bersih dan tanaman bagus, papan penelitian sangat bagus dan permanen, juga patok plot menggunakan pipa plastik; tapi tidak ada yang hilang. Peralatan mekanisasi untuk pengolahan tanah, mesin penanam, pemupukan juga diperlihatkan. Yang menarik bagi kami bukan lengkapnya fasilitas mekanisasi, yang memang karena kemampuan dan komitmen pemerintah Korea Selatan, yang tidak setengah-tengah, tetapi hal teknis, betapa seluruh peralatan mesin tertata rapi dan bersih, menurut Bu Ina seperti belum pernah dipakai.  Tanggung jawab dan rasa memiliki seperti itulah yang masih sulit diterapkan di negara kita.  Pola yang sama juga tercermin di gudang prosesing benih, alat-alat tradisional semuanya tertata bersih dan rapi.  Di ruang prosesing disediakan dua ruangan untuk istirahat dan bisa digunakan sambil tidur. Tentu dilakukan pada jam istirahat siang, dan nampaknya tidak ada yang tertidur melebihi jam istirahat. Kunjungan terakhir di Daegu Research Station adalah mengunjungi fasilitas laboratorium. Penelitian berbasis PCR sudah dilakukan, peralatan pendukungnya memang sangat lengkap, termasuk beragam elektroforesis, uji kandungan protein dan lemak dsbnya. Bahkan terdapat alat pembuat tahu berkapasitas kecil untuk penelitian. Pembedanya, di Research Station terdapat peneliti.  Sebagai gambaran SDM di Daegu Research Station adalah 5 peneliti (2 pemulia, 1 molekuler, 1 perbenihan, 1 pengolahan hasil) didukung oleh 1 teknisi di lapang dan sekitar 30–35 pekerja. KP ternyata berbeda dengan Research Station.


Ir. Suhartina, MS dan Dr. M. Muchlish Adie mengunjungi NICS.


Experimental research station.


Tanaman yang dibudidayakan di Experimental research station.