Berita » Resistensi Tanaman terhadap Serangga Hama

Prof. Dr. Astanto Kasno memaparkan topik "Resistensi Tanaman terhadap Serangga Hama" (kiri) dan peserta seminar internal Balitkabi (kanan)

Teknologi Pengendalian Hama Terpadu (PHT) ramah lingkungan seperti penggunaan varietas tahan dan pestisida nabati (biopestisida) sedang giat dikembangkan untuk mengurangi efek negatif pestisida kimia. Prof. Astanto Kasno mengangkat topik “Resistensi Tanaman terhadap Serangga Hama, Varietas Tahan, dan Biopestisida“ pada kesempatan seminar intern Balitkabi yang dilaksanakan tanggal 6 April 2016. Topik ini menarik untuk dikaji mengingat varietas tahan dan biopestisida merupakan salah satu komponen teknologi PHT yang ramah lingkungan.

Prof. Dr. Astanto Kasno memaparkan topik "Resistensi Tanaman terhadap Serangga Hama" (kiri) dan peserta seminar internal Balitkabi (kanan) Ada banyak tipe dan jenis ketahanan tanaman terhadap hama. Hal ini harus dipahami oleh pemulia dalam upaya perbaikan varietas atau perakitan varietas baru tahan hama. Pola pewarisan sifat ketahanan dan pengaruhnya terhadap mutu hasil tanaman juga perlu diperhatikan oleh pemulia. “Tidak mudah menggabungkan karakter tahan dengan hasil tinggi pada satu tanaman. Terkadang, varietas tahan yang berhasil dirakit, tidak disenangi oleh petani karena mutu hasil menurun, dan sebaliknya”, ujar Prof. Astanto. Upaya perakitan varietas tahan membutuhkan sinergisitas antara Kelompok Peneliti Pemuliaan dan Proteksi sejak tahap seleksi tetua sehingga diperoleh sumber-sumber ketahanan, hingga skrining galur-galur harapan berdasarkan tipe ketahanan. Kelti Proteksi juga berperan dalam pengembangan biopestisida dari metabolit sekunder yang dihasilkan tanaman sebagai atraktan terhadap musuh alami hama, atau toksin terhadap hama. Prof. Astanto menambahkan teknik molekuler telah banyak digunakan dalam proses perakitan varietas tahan karena dirasa efektif dan efisien dari segi waktu dan keakuratan hasil. “Upaya perakitan varietas tahan memerlukan 5−6 generasi silang balik (backcross) dan memakan waktu minimal 3 tahun. Hal ini yang menjadi sebab perakitan varietas tahan hama secara konvensional belum banyak dilakukan”, demikian penjelasan Prof. Astanto.
PHP